Sabtu, 20 Februari 2016

Avatar, Hutan dan Keterasingan



Anehnya ketika berada di kerindangan pohon yang ada di Baluran, aku malah teringat dengan karakter dari Jake Sully, pemeran dari tokoh film Avatar. Bukan avatar yang berkepala plontos dan “ketika negara api menyerang..,” tapi avatar yang bertubuh biru. 
Pernah kalian menonton film itu? jika pernah, dapatkah kalian membayangkan jika dunia itu, hewan dan lingkungan itu dapat kita temui dalam kenyataan. Mungkin akan banyak hal menyenangkan, tapi sekali lagi sayangnya hal  itu hanyalah sebatas khayalan.  
Namun jika kalian telisik, sebenarnya ada pesan yang ingin disampaikan oleh film tersebut. Jika kalian cermati, manusia dalam film ini seolah diberi peran sebagai karakter yang bernama pasukan “jarhead,” pemeran antagonis dalam film Avatar. 

Realitanya, pada jaman sekarang ini, manusia pada umumnya lebih dipertontonkan pada kecanggihan tekhnologi dan senjata. Semakin canggih alat tempurnya, semakin kuat pasukannya, maka akan semakin penting kedudukan negaranya.  

Kedamaian hanyalah kata usang dan bagiku sendiri sulit untuk ditemukan. “There is no peace in human existence.” Yuph, i’m really sure about that. Naluri dasar manusia adalah perang. Dan mungkin itulah, alasan terbesar kenapa sekarang ini manusia lebih cepat memusnahkan hutan. Meskipun banyak yang (mengatakan) peduli, namun pada kenyataannya apa saya, anda atau kalian sudah mengenal hutan dengan baik? manusia sekarang ini lebih dikenalkan pada pertikaian-pertikaian, kebodohan dan kerakusan. Itu semua dapat terlihat di televisi kan.  
Sebenarnya, jawaban telah ada dan dijelaskan dalam film Avatar. Karena seberapapun kita menyayangi hutan. Tapi tanpa mengenalnya. SULIT. Di jaman yang begitu terbuka dan lebih mengajarkan pada kekerasan, kebutuhan jasmani dan kebodohan.  
Dan kita sendiri hanya mengenal hutan lewat sebuah layar, buku dan tanpa interaksi. Yah tak heran deforestasi hutan Indonesia termasuk yang terburuk, tak heran orang utan malah menjadi hewan asing di tanahnya sendiri. 
Kini hutan seakan menjadi keterasingan tersendiri dalam kehidupan manusia. Seperti terasing dari negeri sendiri, dari hutan kita, karena memang tidak pernah saling mengenal dengan baik. Hubungan manusia dengan hutan hanyalah sebuah hubungan masa lalu, SEJARAH saja. Tak heran jika terjadi kasus suku pedalaman yang kelaparan. 
Jiwa-jiwa manusia tumbuh tandus. Kering welas asih. Sikap tidak peduli tumbuh subur. Kita lebih didekatkan kepada hutan hanya lewat tayangan televisi, seolah jarak menjadi dekat karenanya. Hanya seolah-olah baik, nyatanya ?Sulit untuk mengatakan siapa yang membela panji kebenaran di negara ini. Lembaga swadaya masyarakat dan organisasi masyarakat pun kini malah tumbuh menjadi lahan kepentingan pribadi. Sekalipun stay on track, mereka akan segera berbenturan dengan banyak kepentingan. Karena segala sesuatu di negara ini seolah tumbuh subur dengan kuasa, kekuatan, jabatan, pengaruh. Muara dari semua itu adalah uang dan nafsu yang membutakan. Tidak heran, tidak ada teman abadi dalam dunia politik. Itu juga indikasi bahwa tidak ada keinginan untuk merubah wajah negeri ini. 

Dengan jalan negara ini sekarang. Aku percaya, kelak kitalah yang akan menghancurkan bumi, tempat tinggal kita. Dan jika menemukan planet lain seperti dalam film Avatar. Aku rasa, kita juga akan melakukan lagi kebodohan yang sama. Karena itu adalah sifat dasar,  yang masih sulit manusia ubah.

#catatankaumurban oleh instagram @urban.hikers .

0 komentar:

Posting Komentar