Minggu, 15 September 2013

Moment itu bernama "Summit Attack"



Saya ingat betapa kencang dan kerasnya tiupan angin yang berhembus pada pagi itu.Dingin yang begitu menusuk kulit seakan menguatkan diri untuk tetap diam dalam kehangatan tenda.


Namun semangat saya kembali membara ketika mengingat jawaban saya terhadap pertanyaan seorang teman beberapa tahun yang lalu,tentang tujuan saya mendaki.
Saat itu seorang teman pernah bertanya kepada saya “mendaki gunung itu melelahkan bukan??”
“iya,itu benar”
“Lalu kenapa lo tetap melakukannya”
“Karena gue bisa”jawab saya singkat
Namun teman saya masih merasa kurang yakin dengan jawaban saya tersebut. Ia pun kembali bertanya “Kenapa seh lo mendaki gunung”

Rabu, 04 September 2013

Romantisme Di Atas Awan


Gunung itu "Romantisme di atas awan"

Ibarat berbagai pilihan dan pencapaian nilai-nilai kehidupan,semua hal akan mengerucut pada 1 titik tertinggi.Di gunung dan pegunungan,terjadi proses sublimasi antara manusia dengan romantisme,keindahan dan keagungan alam.
Seperti nuansa yang tertangkap dari cara masyarakat lokal memberi nama kepada kerucut-kerucut dimuka bumi disekeliling mereka.


 
Tahukah kalian nama gunung agung di Bali bermakna "puncak suci menuju nirwana".
Gunung Semeru yang namanya dipetik dari kata "meru" yang berarti puncak tertinggi sekaligus pusat dunia.
Puncak Everest yang dalam bahasa Nepal dikenal sebagai "Sagarmatha (Dewi Langit)".
Sedangkan dalam bahasa Tibet,Puncak Everest dikenal sebagai "Chomolungma (Ibu para dewi di bumi)".
Di beberapa tempat didunia,gunung menjadi mediasi mendekatkan diri kepada yang diagungkan atau disembah.
Inspirasi romantis seputar gunung akan terus bergaung. Kekal,tak lekang oleh zaman.
Gunung akan mengajak para pejalan utk terus melangkahkan kaki dengan orang-orang tercinta untuk datang dan kembali ke tempat yang sama berkali-kali.
Karena keindahannya senantiasa ada. Seperti sebuah rasa yang menghinggapi hati manusia.
Iya,sebuah rasa bernama cinta.

Nikmatilah romantisme Gunung-gunung cerukan purba hasil proses runtuhnya kaldera hingga peninggalan sejarah diatas lautan awan.

Twitter : @HimpalaCrew
Halaman : Himpala ART
Facebook : Himpunan Penikmat Alam