Sabtu, 31 Desember 2011

Kepadamu Hujan


Hujan turunlah
Tutupi air mata yang jatuh membasahi pipi
Petir menggelegarlah
Redam isak tangis yang datang menyapa diri

Aku tak tahu
Kenapa aku menangis
Aku tak mengerti
Rasa apa yang melandaku kini

Kamis, 29 Desember 2011

Sebatas Impian Toro


Sebuah limosine berhenti di pelataran gedung mewah itu. Dari dalamnya keluar seorang pria muda dengan dandanan yang amat perlente. Didampingi oleh 5 asistennya yang cantik yang selalu membuat wah setiap mata yang melihatnya.
“Selamat Pagi Pak Toro” Sapa semua orang begitu ia masuk ke dalam gedung itu. Semua orang begitu menghormatinya.
Ia diperlakukan laksana raja, segala inginnya harus dituruti, segala kehendaknya harus dilaksanakan.
Toro segera menuju lift untuk menuju ke ruang kantornya.

                                                                    *

Lift itu berhenti di lantai 100,lantai teratas di gedung itu. Ruangan di lantai itu begitu sepi karena memang diperuntukkan hanya untuk Toro. Hanya asisten-asistennya yang diperbolehkan berada selantai dengannya.
Ruangan itu begitu mewah,dengan lapisan emas pada setiap dindingnya. Setiap mata yang pertama kali melihatnya mungkin hanya bisa terperangah.
Di sudut ruangan terdapat kolam renang dan tempat sauna, di luar ruangan terdapat taman, biasanya digunakan Toro untuk bersantai.
Tak jauh dari taman terdapat sebuah landasan heli. Toro juga membuat bar di dalam kantornya.
Dilengkapi dengan segala kehebatan teknologi di ruangan itu.

Kamis, 22 Desember 2011

Pelita Di atas Cahaya


Saya akan bercerita tentang seseorang.
Seorang superhero dalam kehidupan yang saya jalani.
Dia adalah cerminan seorang pejuang dalam kehidupan saya. Tanpanya mungkin saya tak akan jauh dalam mengecap pendidikan.
Dulu sesulit apapun, dia selalu datang untuk menenangkan seraya berkata
“Semua akan baik baik saja wal”
Dulu seberat apapun, dia selalu datang dengan tersenyum dan berkata
“Tenang Wal,aku akan selalu ada untukmu”
Dia selalu mengusahakan yang terbaik buat saya. Walaupun itu dilalui dengan peluh tapi dia tak pernah mengeluh.
Dia adalah cerminan terbaik dalam kehidupan yang saya jalani.

Lagi Galau


Risau apa yang melandaku
Entah..
Hati ini begitu berjelaga dalam kelam
Memikirkannya
Seseorang yang hanya kutemui dalam kemayaan
Dia..
Seseorang yang belakangan sering singgah di kepala
Menggali liang pikirku
Dan melubanginya dengan rindu

About Me and My World II


Si Unyil dari Betawi

Hemmm...saya pernah berjanji,entah di tulisan saya yang mana (lupa) jika sudah masuk postingan ke seratus setidaknya saya akan terbuka kepada dunia saya.
Yah dalam pengertian ini kepada dunia Blogging sebenarnya..hehe
Okeh cie due tigo... (Halah)
Saya lahir di Jakarta pada tanggal 29 November 1987 dan diberi nama oleh kedua orang tua saya Nandar Awaludin.
Saya dilahirkan prematur pada usia 7 bulan 2 minggu. Saya selalu tertawa ketika ibu menceritakan tentang kelahiran saya.
Beliau bercerita ketika lahir kepala saya mirip sekali dengan buah mangga.
Yuph...ketika lahir kepala saya bentuknya lonjong loh.
Hahaha.............
Lucunya, menurut ibu saya bentuk lonjong kepala saya itu perlahan menghilang karena kepala saya sering diusap-usap sama nenek.
Saya juga lahir berbarengan dengan tayangan si Unyil.

Minggu, 18 Desember 2011

Untukmu..Karenamu..Terima kasih my Blog :)


Sabtu 17 Desember 2011

Hari yang aneh eh bukan harinya deh tapi..???
Lo ya Ndar yang aneh..haha
Hemm..saya tuh ga aneh tau,cuma emang agak lain aja (sama aja sama aneh kayanya deh :P ).
Yayaya...
Hari itu saya sangat bersyukur karena Nenek sudah kembali ke rumah.
Hemm..sedihnya ---> saya dicuekin sama si 215
Nasib nasib T_T
Tapi yoweslah,toh semua emang salah saya. Kalo saya jadi dia pun saya sudah pasti marah dan akan saya timpuk diri saya dengan batu bata.
Oh iya kembali ke topik aneh, selain cuaca yang agak aneh pada hari itu. Saya juga menemui keanehan yang menyenangkan.
Dalam hal ini seh lebih kepada sebuah kesadaran aja.
Kesadaran??
Yah hari itu saya bertemu dengan seseorang. Seorang wanita!!

Nyanyian Kode


Kode alam

“Hahhhh...” terdiam seorang pria dalam lamunannya.
Terduduk dia di sebuah pinggiran rel kereta api, entah apa yang sedang dipikirkannya.
“Truuooonnnnnnnnn.....truoonnnnnnnnn................” tiba tiba suara klakson dari kereta api berderu dengan kerasnya.
Kereta itu melaju kencang menuju ke arah sang pria, tapi sang pria tak mendengarnya.
Ia masih terdiam dalam lamunannya.
“Truooonnnnnnnnnnnnnn...Truuoooonnnnnnnnnnnn.................” kereta itu kembali membunyikan klaksonnya. Seakan ingin meneriakkan kata “Minggir....Minggir.....Menjauhlah dari jalurku”
Tapi sang pria tetap tak bergeming.
Ketika kereta itu sudah berada tak begitu jauh dari dirinya barulah sang pria tersadar dari lamunannya.
“Gyyyyyyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..........................................”
Pria itu berteriak sekeras kerasnya, hanya bisa pasrah akan sebuah ajal yang menantinya.
Dan....

Jumat, 16 Desember 2011

Republik Sulap


Chapter I

Alkisah hiduplah seorang Raja dengan Putranya.Mereka hidup di sebuah kerajaan yang ningrat (bagi pemimpinnya saja).
Walaupun berbentuk kerajaan  tapi sistem yang dianut adalah Republik.
Sehingga tak heran meskipun seorang Raja,tapi dia harus dipilih sendiri oleh rakyatnya.
Yuph..sebuah pemilihan Raja secara langsung.
Dalam kerajaan itu mereka juga mempunyai Dewan Senat.Mereka adalah Dewan yang membuat undang undang dan batasan atau ketentuan untuk sang Raja.
Raja juga mempunyai banyak pembantu.
Para pembantu Raja ini biasa disebut dengan para ajudan.
Para ajudan yang sekarang  menjabat dipilih bukan berdasarkan kemampuan,ilmu atau keahlian mereka.
Mereka semua dipilih lebih karena faktor kedekatan dengan sang Raja.
Nepotisme??

Berbeda


Pagi ini terasa berbeda
Ada suatu keheningan yang terasa halus menyapa kulitku
Aku terdiam
Terpaku aku akan sejuknya
Kupejamkankan mata
Kunikmati setiap helanya
Aku tetap tak tahu apa yang menjadi berbeda
Kucoba melangkahkan kaki
Langkahku seakan berderap dalam diri
Aku terhanyut
Terbuai aku dalam rimanya
Kucoba berlari
Kunikmati setiap derapnya
Tapi..
Tak jua aku mengerti
Rasa yang datang menggelayuti diri
Aku....
Terbunuh rindu
Terhujam rasa yang tak pernah aku pahami
Rindu....
Untuk seseorang yang tak pernah aku temui

Kamis, 15 Desember 2011

Atas Nama Ikhlas

Jumat 9 Desember 2011

Malam itu seperti biasanya saya akan bermain Futsal dengan kawan kawan kuliah saya. Karena kurangnya koordinasi, akhirnya kami harus bermain di tempat yang tak seharusnya yaitu di Green Futsal.
Tempat futsal itu terletak di daerah Sajim,tepat berada di belakang Taman Mini Indonesia Indah.
Kenapa tak biasa??
Yah karena emang baru pertama kali kami bermain bareng disana. Sebelumnya Cuma saya dan seorang teman saya,Pris yang pernah bermain disana sebelumnya.
Malam itu yang bermain Cuma sedikit,dikarenakan kondisinya selepas hujan jadi hanya saya,Gata,Year,Wasis,Fauzy,Iqbal,Dwi,Rizky,Fatur,Ryan,Richard,Pris,dan saudaranya dari mas Dwi.
Tapi suasana selalu terasa santai jika bersama mereka, permainan pun selalu disuguhi tawa dari kami.
Malam itu saya benar benar mengalami musibah. Musibah apa Ndar??
Dompet saya hilang -____-
Saya baru menyadarinya selepas main futsal.
Dibantu teman teman yang lain saya mencari dompet itu kesana kemari,tapi tak juga ditemukan.
Kami juga menanyakan kepada pengurus tempat futsal tapi mereka Cuma menggelengkan kepalanya. Tukang parkir di tempat futsal itu seh bilang ada seseorang yang mencurigakan tadi, saat kami sedang bermain orang ini datang dan langsung pergi geto aja.
Singkat cerita, sepertinya dompet itu memang sudah berpindah ke tangan orang lain. Bahasa kasarnya seh dicuri.
Fiuhh..kebayang kan gimana paniknya saya.
Panik kenapa dar, di dompet banyak duitnya yah??

Selasa, 13 Desember 2011

Awal Kembali


Menyusup kabut di dalam mimpi
Seiring perih yang menggores diri
Aku datang dengan seribu harapan
Tapi pergi dengan sejuta kehampaan

Hampa
Kelam
Tanpa arah
Sempat datang mewarnai diri
 Kuharap mendung tak akan lagi gelap
Ombak tak lagi berdebur kencang
Kala ku tata kembali jutaan mimpi yang pernah tumbuh di dalam diri


Kramat Jati 6 Juli 2009

Biru


Kutetapkan langkah
Kumantapkan hati
Kulangkahkan jiwa menuju hidup yang tiada pasti
Aku birukan hatiku agar selalu dapat tersenyum menghadapi hitamnya hari
Teruskan melangkah walau tiada kepastian yang akan kutemui

Biru..
Biru...
Dan akan selalu biru


Jakarta 3 Juli 2009

Senin, 12 Desember 2011

Warna


Memikirkan apa yang seharusnya tak kupikirkan
Membayangkan apa yang seharusnya tak kubayangkan
Menyatakan sesuatu yang tak pernah nyata kudapatkan

Semu
Seperti adamu sayang
Cintamu itu keindahan dalam rona rona kemunafikan

Ada
Nyata
Berupa


Tapi tak menyentuh tapal hatiku 

Untukmu Yang Pantas Kutunggu


Semakin dewasa aku semakin mengerti, apa yang kucari dari kata cinta. Apa yang kini kucari dari seseorang yang akan mendampingi hidupku kelak.
Bukan Cuma keindahan karena kalau sekedar indah, pelangi pun juga memilikinya. Bukan Cuma kebaikan karena kalau sekedar baik, hujan pun juga memilikinya.
Kecantikankah yang kucari???
Tidak..
Karena kalau sekedar cantik,setiap wanita memilikinya. Setiap wanita dilahirkan dengan kecantikan alami pada dirinya.
Hanya saja terkadang tidak semua wanita menyadarinya.
Mereka takut akan kecantikannya dan lebih memilih menyembunyikannya dari dunia.
Pengertiankah yang kucari???
Bukan...
Karena kalau sekedar mengerti,anak kecil pun bisa melakukannya. Pengertian tanpa didasari rasa suka itu hanya akan membawa beban kepada diri sendiri bukan??
Lalu apa yang kucari??

Sabtu, 10 Desember 2011

Untuk Indonesia


Kamis 3 November 2011
Hahh..malam ini saya benar benar bersedih.
Sedih kenapa dar??
Adakah dari kalian menonton acara Metro Tv “Journalist on Duty” malam ini??
Kalau iya,bagaimana perasaan kalian melihatnya??
Buat yang tidak sempat melihat akan saya ceritakan sedikit tentang acara itu.
Malam ini Journalist on Duty membahas masalah pendidikan di daerah Kupang NTT.
Perasaan saya benar benar sedih melihatnya.
Betapa timpangnya pendidikan di Negara kita sekarang.
Heemm..ngomong ngomong saya jadi teringat dengan beberapa kalimat dari tulisan saya dulu yaitu “Hutama, My Last Time”,disana saya memang bercerita tentang masa masa terakhir ketika SMA dulu.
Tapi di cerita itu saya juga sedikit bercerita dan menggambarkan keadaan real pendidikan di Negara ini.Betapa timpangnya pendidikan antara kota besar dengan kota kecil di Negara ini.
Mulai dari Papua,Kalimantan hingga NTT.
Berikut ini saya ambil beberapa kutipannya.

Janji Bunga (Ending)

(Penjelasan)

Di ruang tunggu rumah sakit
“Hari ini aku benar benar senang, Ram. Karena akhirnya kamu bisa datang berkunjung. Ujar Mbak Risma.
Rama hanya tertunduk menahan kesedihan saat itu, ia tampak tak begitu memperdulikan kata kata mbak Risma yang mengajaknya bicara.
“Kami semua menyangka kamu sudah gugur dalam pertempuran di Aceh. Bahkan keluargamu sendiri pun tak mengetahui kabarmu sama sekali”
Rama masih terdiam.
“Makanya Mbak benar benar senang ketika melihatmu di televisi kemarin. Mbak benar benar bahagia melihatmu masih hidup, mbak rasa Bunga pun akan berperasaan demikian. Sambung mbak Risma.
Rama hanya bisa menundukkan kepalanya, air mata mengalir pelan membasahi kedua pipinya.
“La..lalu..kenapa Bunga bisa seperti itu mbak?? Apa yang terjadi dengannya??” Parau suara Rama karena menahan kesedihan yang kini melanda di hatinya.
Mbak Risma menarik nafas panjang, ia kemudian menceritakan kejadian yang menimpa Bunga.

Setulus Cinta Rohmat (Bagian II)


Gejolak Rasa

“Lagi dimana Gen” Tanya Afrina
“Di rumah Amir, mang ada apa Fri??” Jawab Rohmat sekenanya
“Ga ada apa apa, Cuma mau ketemu aja Gen??”
“Yee..dasar !! bilang aja lo kangen kan ketemu sama gue..hahaha” Ledek Rohmat kepada temannya itu.
“Ahhhh...Gendut mah ngeledekin mulu”
“Hehehe..yaudah Fri, ntar abis dari rumah Amir. Gue sempetin deh mampir ke rumah lo dulu”
“Hehehe...bener yah gen, gue tunggu loh”
Dan mereka pun mengakhiri pembicaraan itu.
Afrina dan Rohmat kini telah beranjak besar, kini mereka sudah memasuki jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA).
Seperti sudah dijodohkan ,mereka kembali bersekolah di sekolah yang sama yaitu SMA 37. Hingga tak mengherankan jika mereka sudah begitu saling mengenal satu sama lain.
Walau sering dianggap sebagai pasangan oleh teman temannya karena kedekatan satu sama lain.
Tapi Rohmat dan Afrina selalu santai menyikapinya, mereka tak pernah mengambil hati oleh perkataan teman temanya itu. Mereka malah selalu tertawa tiap kali membahasnya.
Tanpa sadar hal itu malah semakin mendekatkan mereka.
Bahkan Rohmat dan Afrina selalu tak sungkan untuk mencurahkan masalahnya. Entah itu soal keluarga,teman ataupun soal pacarnya masing masing.
Afrina selalu merasa nyaman ketika berada di sisi Rohmat,begitu pun sebaliknya. Hingga tanpa mereka sadari mereka sudah seperti saling ketergantungan satu sama lain.

Menjejak Lawu (Bagian I)


Tahun kebesaran Rasta Pala

Tahun 2009 adalah tahun Kebesaran buat Rasta Pala.
Kenapa??
Karena pada tahun itu Rasta Pala banyak melakukan petualangan seru dan menyenangkan.
Mulai dari Anyer,Puncak hingga Lawu.

Mungkin bisa dibilang itu adalah tahun yang sulit kami ulangi lagi.
Loh mang kenapa Dar??
Yah entahlah,mungkin karena kini kami semua sedang sibuk dengan urusan dan pekerjaannya masing masing. Mungkin karena hal itulah gue sangat pesimis bisa mengulangi tahun tahun itu bersama mereka.
Fiuhhh......
Loh kok jadi curcol gini ya..hahaha
Yowes,sekarang gue akan menceritakan perjalanan gue bersama mereka ketika nanjak Gunung Lawu.
Perjalanan suka duka melewati aral yang melintang ß Lebay
Perjalanan penuh cobaan dan godaan ß Boong banget
Yah tapi seperti yang selalu gue ceritakan di cerita cerita sebelumnya tentang mereka. Sejauh,sesusah,sesulit apapun itu tapi kalo sudah melakukannya bareng mereka.
Percayalah..semua beban itu akan menjadi sebuah canda, rintangan itu akan menjadi sebuah suka, dan keluh itu akan menjadi sebuah syukur.
Karena bersama mereka,sebuah perjalanan akan selalu terasa menyenangkan :-)

*

Kamis, 08 Desember 2011

2.15

2.15 dinihari
Dan mataku tak jua terlelap
Khayalku tak mau memejam
Liang pikirku terasa kosong
Perasaan apa yang menggelayutiku kini
Seperti ada yang berteriak teriak  di dalam hati
Menyatakan keluhnya
Dalam keheningan yang terpendam
Entahlah....
Aku punya rindu
Yang ingin kuberikan
Tapi tak pernah tersampaikan
Aku punya rasa
Yang ingin kukatakan
Tapi tak pernah kuucapkan

Rabu, 07 Desember 2011

Arti Iman


Arti Iman (Karena Tuhan itu ada)

Sabtu penuh duka
Sabtu 5 November 2011
Hari itu ada sebuah kabar duka. Bi Enah yang merupakan saudara dari kami meninggal dunia.Beliau meninggal di usianya yang sudah memasuki kepala tujuh.
Bi Enah merupakan saudara dari bokap,adik kandung dari Kakek (aku biasa memanggilnya dengan sebutan Uwa). Rumah beliau bersebelahan dengan rumahku.
Disana beliau tinggal dengan beberapa anaknya.
Saat beliau meninggal kebetulan saya tak menemaninya.
Jumat malam,Bi Enah dibawa ke rumah sakit Pusdikkes oleh anak anaknya. Saat itu kondisinya kian parah karena sakit yang dideritanya. Tapi pada saat itu ibuku sendiri berpendapat,bahwa yang dilakukan oleh mereka (anak anak Bi Enah) terlambat. Karena sakit yang diderita Bi Enah seharusnya bisa lebih cepat ditangani dan diobati.