Sabtu, 10 Desember 2011

Setulus Cinta Rohmat (Bagian II)


Gejolak Rasa

“Lagi dimana Gen” Tanya Afrina
“Di rumah Amir, mang ada apa Fri??” Jawab Rohmat sekenanya
“Ga ada apa apa, Cuma mau ketemu aja Gen??”
“Yee..dasar !! bilang aja lo kangen kan ketemu sama gue..hahaha” Ledek Rohmat kepada temannya itu.
“Ahhhh...Gendut mah ngeledekin mulu”
“Hehehe..yaudah Fri, ntar abis dari rumah Amir. Gue sempetin deh mampir ke rumah lo dulu”
“Hehehe...bener yah gen, gue tunggu loh”
Dan mereka pun mengakhiri pembicaraan itu.
Afrina dan Rohmat kini telah beranjak besar, kini mereka sudah memasuki jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA).
Seperti sudah dijodohkan ,mereka kembali bersekolah di sekolah yang sama yaitu SMA 37. Hingga tak mengherankan jika mereka sudah begitu saling mengenal satu sama lain.
Walau sering dianggap sebagai pasangan oleh teman temannya karena kedekatan satu sama lain.
Tapi Rohmat dan Afrina selalu santai menyikapinya, mereka tak pernah mengambil hati oleh perkataan teman temanya itu. Mereka malah selalu tertawa tiap kali membahasnya.
Tanpa sadar hal itu malah semakin mendekatkan mereka.
Bahkan Rohmat dan Afrina selalu tak sungkan untuk mencurahkan masalahnya. Entah itu soal keluarga,teman ataupun soal pacarnya masing masing.
Afrina selalu merasa nyaman ketika berada di sisi Rohmat,begitu pun sebaliknya. Hingga tanpa mereka sadari mereka sudah seperti saling ketergantungan satu sama lain.

Afrina mulai merasakan gejolak yang berbeda tiap kali dirinya bertemu Rohmat,ia tak mengerti itu perasaan apa.
Perasaan itu begitu menusuk,mengulum rindu dalam hatinya.
Perlahan Afrina yakin bahwa ia mulai jatuh hati kepada sahabatnya itu. Tapi Afrina tak mau menggubris perasaannya itu lebih jauh lagi.

Ia tak mau persahabatannya dengan Rohmat terganggu hanya karena perasaan sukanya. Apalagi saat  itu Rohmat tengah berpacaran dengan sahabatnya yaitu Indri.
Jadi bagi Afrina saat itu lebih baik ia menahan gejolak rasa yang tengah bergemuruh dalam hatinya. Lagipula Afrina yakin perlahan rasa itu akan memudar dengan sendirinya.
Persahabatan dengan Rohmat terlalu berharga buat Afrina.

Tuhan..
Maafkan atas ingkarku ini
Ingkar atas sebuah gejolak rasa yang tengah bergemuruh dalam hatiku
Rasa terhadap sahabat baikku
Aku tak bisa memungkirinya Tuhan
Bahwa perlahan aku jatuh hati kepadanya
Dia yang selalu ada dalam sukaku
Dia yang selalu ada dalam sedihku
Tapi
Persahabatan kami terlalu berharga
Aku tak ingin satu saat ia menjauh
Hanya karena rasaku ini
Aku ingin selamanya ada dalam hatinya
Walau itu hanya sebagai
seorang sahabat

“Assalammualikumm..Afriinaaaaaaaa..Afrinaaa....Maenn yuuukkk” Tiba tiba seseorang berteriak di depan rumahnya. Orang itu juga menggedor gedor pagar rumahnya.
Afrina kenal betul suara itu,itu suara dari Rohmat. Akhirnya yang ditunggu olehnya datang juga.
Karena sudah sering bermain ke rumah Afrina,maka orang orang dirumahnya sudah sangat mengenal dan hanya bisa menggelengkan kepala melihatnya. Ibu Afrina sendiri selalu senang jika melihat Rohmat,dengan sifat yang lucu dan selalu ceria,belum lagi ditambah dengan perawakan tubuh yang gemuk. Walau tak melucu,Ibu Afrina selalu tersenyum jika melihat Rohmat.
“Bulet banget,Mirip sama tokoh Giant” Ujar Ibunya suatu waktu sembari tertawa.
Tiba tiba seseorang mengetuk pintu kamar Afrina.
“Na, ayang lo dateng noh” Ujar kakaknya,Andien dari luar kamar.
“Hahaha.. Iya,suruh tunggu bentar kak” Afrina hanya tertawa mendengar perkataan kakaknya itu.
Karena sering bermain,Kakaknya Afrina yaitu Andien juga sangat akrab dengan Rohmat.
Kadang ketika Rohmat bermain kesana,Andien juga sering ikutan ngobrol dengan bareng dengan Afrina dan Rohmat.
“Ahh..lama banget seh Fri” Ujar Rohmat begitu melihat Afrina mendekatinya yang saat itu sedang bersantai di halaman depan.
“Hehehe...maaf deh Mat” Ujar Afrina seraya tersenyum.
“Mang ada apaan seh Fri,ampe gue dipanggil kemari??”Tanya Rohmat yang masih belum mengerti maksud dan tujuannya kesana.
“Gini loh Mat,lo tau kan sebentar lagi mau Pensi. Dan untuk Pensi kali ini setiap kelas kan diwajibkan nampilin satu macam pertunjukkan. Nah sebagai ketua kelas,gue minta masukan dari lo dong”
“Ohh..masalah itu toh” ujar Rohmat sambil mengangguk anggukan kepalanya tanda mengerti.
“Ngomong ngomong cuaca panas banget yah Fri” Tanya Rohmat sembari melihat matahari yang mengintip di balik bayangan awan.
“Yah geto deh Mat,gue aja sampe males banget keluar kamar” Jawab Afrina sekenanya
“Hemm..iya Fri,tenggorokan gue aja ampe keringgggggg banget neh buat jalan kesini !!” Ujar Rohmat seraya memegang kerongkongannya.
“Yee..paul !!bilang aja terus terang mau minta minum”
Rohmat hanya tersenyum mendengar kata kata sahabatnya itu. Afrina pun segera beranjak sebentar ke dapur untuk membuatkan Rohmat minuman.
“Kalo bisa minumannya yang berwarna yah Fri” Ujar Rohmat ketika Afrina masih berada tak jauh dari hadapannya.
Afrina hanya tersenyum, itulah Rohmat yang selama ini ia kenal.
Baik dan apa adanya.
Mungkin karena hal itu Afrina selalu merasa nyaman jika berada di dekat Rohmat.
Mentari perlahan menghilang di balik gedung gedung tinggi. Sayup sayup terdengar dari kejauhan suara kereta senja datang mengantarkan ribuan manusia di dalamnya.
Tapi suara itu seakan memudar dibalik tawa dua orang anak manusia yang sedang menikmati kebersamaan mereka saat itu.

                                                               ***
Sahabat Dalam Rindu

“Gen..kok bengong aja” Tanya Afrina ketika melihat Rohmat terdiam disampingnya.
Gen adalah singkatan dari kata Gendut,panggilan akrab Rohmat diantara teman temannya. Sebuah panggilan yang merujuk kepada tubuh gendut yang dimiliki Rohmat.
“E..eh..Sory Fri”
“Mikirin apa seh Gen??”
“Ga mikirin apa apa kok Fri,Cuma pengaruh cuaca aja kalee jadi gampang bengong..hehe” Rohmat hanya menjawab sekenanya.
Saat itu Rohmat dan Afrina sedang berada di taman kecil dekat rel kereta,letak tempat itu tak begitu jauh dari rumah Rohmat. Mereka berdua duduk di sebuah ayunan yang berada disana.
“Loh kok malah bengong lagi??” Tanya Afri begitu melihat sahabatnya itu terdiam lagi, kali ini disertai dengan sebuah gerakan mencubit ke arah pipi tembem Rohmat.
Rohmat hanya tersenyum atas apa yang dilakukan Afri.
“Heeehhhh.........” Tiba tiba Afrina menarik panjang, tampak sebuah pemikiran yang menggelayut di wajahnya.
“Kenapa Fri, kok malah cemberut??”
“Ga apa apa kok Gen !! Cuma sedih aja rasanya tiap kali inget bahwa sebentar lagi kita akan merayakan kelulusan kita di SMA”
“Heehh...itu seh ga usah diomongin Fri”
Hening
Mereka berdua pun terdiam dalam sebuah pemikiran tentang masa depan mereka nanti.
“Pasti bakal banyak yang dikangenin yah Fri??”
Afri hanya terdiam
 Rohmat yang melihat Afri masih terus melamun kemudian berusaha menggoda sahabatnya itu.
“Lo pasti bakal kangen sama gue yah Fri..hehehe”
“Woooooooooooooooooo...........geer banget lo Gen” Teriak Afri seraya mendorong pundak Rohmat. Senyum kembali membuncah dari mulut manisnya.
Rohmat pun tersenyum melihatnya.
Tapi saat itu ada suatu perasaan tertentu yang menyesap di hatinya.
Entah apa, yang jelas Rohmat sendiri tak bisa mendeskripsikannya. Perasaan ini begitu menusuk dalam hatinya. Ada suatu perasaan kehilangan tersendiri ketika Rohmat membayangkan kelulusannya nanti.
Betapa ia akan merindukan sekolah dan guru gurunya !!!
Betapa ia akan merindukan teman temannya !!!
Dan tentu saja yang paling dipikirkan Rohmat saat ini adalah bagaimana ia akan menjalani hari hari tanpa orang yang selalu menemaninya beberapa tahun belakangan ini, Afrina.
Rohmat dan Afrina akan menjalani mimpinya masing masing. Afrina akan mengejar mimpinya menjadi seorang Pramugari,untuk hal itu ia akan melanjutkan pendidikannya di kota Solo.
Rohmat sendiri belum mengetahui akan menjadi apa di masa depan nanti, karena memang Rohmat sendiri belum terlalu memikirkannya. Ia ingin menjalani semuanya secara perlahan,mengalir dan menjalani semua dengan apa adanya.Satu hal yang pasti bahwa ia akan terus melanjutkan pendidikannya.
 “Kok bengong lagi Gen??” Tanya Afrina yang bingung melihat sahabatnya itu kembali melamun.
“Heehh...lagi bingung Fri”
“Bingung kenapa Gen??cerita dong”
“Bingung sama masa depan Fri”
“Masa depan??”
Rohmat lalu menceritakan keadaan di keluarganya yang kini sedang menghadapi masalah keuangan. Memang kedua orang tuanya menyemangati Rohmat untuk melanjutkan pendidikannya lagi,tapi tetap saja Rohmat merasa tak enak hati karenanya.
Rohmat tahu beban berat yang kini ditanggung oleh kedua orang tuanya,selain dengan biaya pendidikannya,kedua orang tuanya kini disibukkan oleh pemikiran akan biaya sekolah adik Rohmat, Dara.
Dara saat ini baru saja lulus Sekolah Dasar dan akan melanjutkan ke jenjang berikutnya. Rohmat tahu,walau orang tuanya tak mengatakan tapi ia bisa merasakan beban di mata mereka. Karena itu ia masih bingung apakah akan meneruskan pendidikannya atau bekerja terlebih dulu.
“Heehh...begitulah Fri,makanya gue lagi bingung banget sekarang!!” Ujar Rohmat mengakhiri ceritanya. Tampak sebuah beban yang begitu menggelayut dalam pola pikirnya.
“Senyum dong Gen..!!”
“Heehhhhhhhh..............”
“Iya,senyum dong Gen”
“Ihh..si Afri,orang lagi serius malah disuruh senyum”
“Rohmat yang gue kenal itu selalu ceria,kuat dan tersenyum, seberat apapun masalah yang sedang dia hadapi” Ujar Afrina sembari tersenyum
“Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya kok Gen, dan gue yakin lo bakal nemuin jawabannya kelak!! Yang jelas yang harus lo lakuin sekarang ya harus tetap tersenyum dan bersabar, semua pasti akan  ada kebahagiaan nantinya” Sambung Afrina lagi
Rohmat tersenyum mendengar nasehat sahabatnya itu. Perasaannya kembali kuat mendengar kata kata yang diucapkan Afrina tadi.
“Gue pasti akan selalu mendukung lo Gen, dan gue akan selalu berdoa yang terbaik buat lo” Ujar Afrina seraya memegang tangan Rohmat.
Rohmat kemudian membalas erat genggaman tangan Afrina. Senyum terus terumbar dari mulutnya.
“Udah Gen jangan senyum terus ah,kasihan tuh hidung lo keliatan jadi mendem ketutupan senyum lo” Ledek Afrina terhadap Rohmat.
“Yee..songong” Ujar Rohmat seraya mengalungkan tangan kanannya di leher Afrina dan menjitak kepala sahabatnya itu.
“Aahhhh..Sakit tau gen..” Teriak Afrina manja
“Yaudah neh biar ga sakit” Rohmat kemudian memeluk sahabatnya itu.
Afrina membalas pelukannya,entah mengapa Rohmat merasa nyaman berada di pelukan sahabatnya itu.

Afrina..
Apa kau rasa debar jantungku kini
Aku sungguh tak mengerti
Apa yang kini sedang bergolak dalam liang rasaku
Memikirkan adaku tanpa hadirmu nanti
Kau yang selalu ada kuatkanku
Kau yang selalu ada ceriakanku
Perlahan akan pergi
Jauh dari diri...
Aku tak bisa menjelaskannya Afrina
Aku sungguh sungguh tak bisa menjelaskannya
Melihatmu menjauh dari artiku
Melihatmu pergi mengejar mimpimu
Bukan
Aku hanya ingin selalu bersamamu
Aku tak mengerti
Sungguh tak mengerti Afrina
Rasaku ini
Apa...??
Karena kini setiap kali menatapmu
Aku rasakan debar yang berbeda

“Udah dong Gen peluknya,badan lo bau tau” Ujar Afrina dalam pelukan Rohmat, saat itu ia juga menutup hidungnya.
“Yeee...neh anak ngeledekin lagi” Rohmat kemudian melepas pelukannya dan berusaha memencet hidung sahabatnya itu.
Tapi Rohmat gagal karena Afrina berhasil kabur dari pegangannya. Ia kemudian berlari dan terus meledek Rohmat.
Rohmat terus berlari mengejar sahabatnya itu.
Senja datang sebagai saksi atas keceriaan yang hadir pada hari itu.
                            
                                                   ****

Setulus Cinta Rohmat Bagian II Selesai 
07 Desember 2011

1 komentar: