Kamis, 29 Desember 2011

Sebatas Impian Toro


Sebuah limosine berhenti di pelataran gedung mewah itu. Dari dalamnya keluar seorang pria muda dengan dandanan yang amat perlente. Didampingi oleh 5 asistennya yang cantik yang selalu membuat wah setiap mata yang melihatnya.
“Selamat Pagi Pak Toro” Sapa semua orang begitu ia masuk ke dalam gedung itu. Semua orang begitu menghormatinya.
Ia diperlakukan laksana raja, segala inginnya harus dituruti, segala kehendaknya harus dilaksanakan.
Toro segera menuju lift untuk menuju ke ruang kantornya.

                                                                    *

Lift itu berhenti di lantai 100,lantai teratas di gedung itu. Ruangan di lantai itu begitu sepi karena memang diperuntukkan hanya untuk Toro. Hanya asisten-asistennya yang diperbolehkan berada selantai dengannya.
Ruangan itu begitu mewah,dengan lapisan emas pada setiap dindingnya. Setiap mata yang pertama kali melihatnya mungkin hanya bisa terperangah.
Di sudut ruangan terdapat kolam renang dan tempat sauna, di luar ruangan terdapat taman, biasanya digunakan Toro untuk bersantai.
Tak jauh dari taman terdapat sebuah landasan heli. Toro juga membuat bar di dalam kantornya.
Dilengkapi dengan segala kehebatan teknologi di ruangan itu.
Yang jelas semua telah diatur sedemikian rupa agar Toro mengalami kemudahan dan kenyamanan dalam setiap pekerjaannya.
Kalaupun kurang merasa nyaman, masih ada ke 5 asistennya yang cantik yang selalu siap membantunya. Membantu dalam hal kantor maupun non kantor. Memenuhi segala keinginan Toro agar selalu merasa terpuaskan.

                                                             **

Toro pulang kantor sekitar jam 4 sore. Kalau tidak ke diskotek,Toro biasanya langsung pulang ke rumah.
Rumah toro begitu luas,sekitar 100x lapangan bola. Bahkan untuk sekedar masuk, anda harus melewati 10 pagar keamanan.
Begitu banyak petugas keamanan yang berjaga pada setiap sisi gedungnya, bahkan toro menaruh 4 orang sniper pada setiap penjuru mata angin.
Rumah toro bergaya old British,dengan hanya 2 lantai yang dimilikinya. Terlihat biasa memang tapi ketika masuk ke dalam barulah terlihat perbedaannya.
Rumah itu begitu luas, bahkan untuk sekedar ke ruang tamu anda harus berjalan sekitar 1 km. Rumah itu memiliki 1000 kamar dengan emas begitu setia menempel pada setiap dindingnya, ditemani berbagai lukisan terkenal dari seluruh penjuru dunia. Bahkan lampu rumahnya terbuat dari Berlian.
Di ruang tamu terdapat foto dirinya dengan orang orang terkenal, mulai dari Presiden,Raja,Artis ataupun orang orang berpengaruh di dunia.
Aquariumnya pun begitu besar dengan Hiu,Pari,dan ikan ikan yang tidak terbayangkan yang menghiasinya. Rumah itu memiliki 2 buah kolam renang,indoor dan outdoor.
Di samping rumah terdapat garasi,yang didalamnya terdapat berbagai kendaraan mewah milik Toro. Mulai dari Ferrari,Porche,Ducati hingga BMW.
Toro senang mengoleksinya walau sebagian besar dari kendaraan itu tidak terpakai. Toro tidak pernah takut semua yang dimilkinya rusak atau kotor karena dia mempunyai ratusan orang pelayan yang selalu membantunya.
Di luar rumah terdapat hutan miliknya,Toro biasa berburu disana.
Pada kanan halaman rumahnya terdapat sebuah lapangan rumput yang luas,biasanya digunakan Toro untuk berkuda atau bermain Polo bersama teman temannya. Di sana  juga terdapat lapangan tenis,basket,dan lapangan golf.
Di kiri halaman terdapat sebuah landasan yang begitu luas,di sana terdapat helikopter dan jet pribadi miliknya.
Di belakang rumah terdapat sebuah taman lengkap dengan sebuah danau di dalamnya. Toro biasa memancing atau sekedar bersantai di sana.
Toro tidak mempunyai istri tetapi ada sekitar ratusan wanita yang tinggal di rumahnya.
Mereka bisa disebut sebagai selir selir Toro yang selalu memuaskan hasrat dunianya. Tak pernah ada ikatan,mereka bisa datang dan pergi sesuka hati mereka.
Alasan begitu banyak wanita yang mengelilingi Toro adalah karena Uang. Toro tak pernah perhitungan terhadap mereka,segala keinginan mereka selalu dipenuhi oleh Toro.
Bagi mereka Toro adalah orang yg baik,jadi tak pernah ada masalah walau harus diribuankan sekalipun.
Berkat mereka Toro tak pernah merasa kesepian dalam hidupnya,karena selalu ada yang menemani hari harinya bahkan dalam tidurnya.

   ***

Saat weekend Toro biasa pergi ke Bungalow miliknya.
Bungalow itu terletak di pulau pribadi miliknya pemberian dari Presiden Republik Sulap. Dia memliki banyak fasilitas mewah disana.
Mulai dari jetsky,selancar,hingga kapal selam.
Siang itu Toro sedang bersantai di pinggir pantai ketika Angel dan Viola (selirnya) mengajaknya bermain jetsky.
Dengan nakal mereka segera menggoda Toro.
“Roooo…..ikut kami main jetsky yuk” ucap angel seraya duduk di pangkuan toro
“males ah,aku capek” jawab Toro singkat
“ihhh…kamu mah tega ma angel,ayo dong Rooo… sebentar aja” goda angel seraya menggeliat di tubuh toro.
Toro hanya terdiam
Viola pun segera membantu Angel,dengan tenang ia segera membisikan sesuatu di kuping Toro. Entah apa yang dibisikan Viola yang jelas Toro segera beranjak dari istirahatnya.
Ia segera mengejar Angel dan Viola yang berlari menggunakan jetsky di depannya.
Dalam pelarian mereka masih sempat melepas satu per satu pakaian yang menempel di kulitnya. Toro segera mengejar dengan nafsu yang menggebu.
Langsung saja ia tarik gas jetskynya untuk mengejar Angel dan Viola.
Di depan Toro,Angel dan Viola hanya tertawa tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya.
Ibarat sedang berburu, Toro semakin kencang mengejar buruannya.
Begitu kencang hingga jetskynya lepas kontrol dan menabrak karang.
Toro pun terpental ke atas udara.
“Aaaaahhhhhhhhhhhhh…………………………..” Teriak Toro di atas udara,di bawahnya menunggu air laut yang bersiap untuk menghantamnya.
Toro hanya bisa berdoa,kemudian memikirkan hal hal indah dalam hidupnya.
Dan
“ByuuRrrrrrrrrRRrrrrr. . . . . . . . . . . . . . . . . . ………….”
Toro segera terbangun,ia pun segera dibuat bingung oleh keadaan sekitarnya. Betapa tidak,bukan sakit yang dirasakannya melainkan rasa heran yang teramat sangat karena tiba tiba ia berada di 1 ruangan bukan di tempat terakhir yang dia ingat yaitu pantai.
Belum sempat ia menelaah tiap kebingungan di kepalanya,seorang pria berkepala plontos telah berdiri di hadapannya.
Di tangan pria itu terlihat sebuah ember.
Pria itu pun telah memasang wajah garang,seakan siap untuk menerkam wajah Toro.
“Bangun kamu” ujar pria itu pelan tapi tiap urat di tubuhnya seakan siap meluncur keluar dari jalurnya.
Toro pun hanya bisa mengikuti perintahnya.
“Kamu tahu ini sudah jam berapa???”lanjut pria itu seraya menunjuk jam yg ada di ruangan itu.
Toro hanya bisa mengangguk.
“JADI KAMU PASTI TAHU KESALAHAN KAMU…….” Suara pria itu meninggi. Amarah pria itu seperti ingin meletus,meledak memuntahkan segala lahar kemarahan yang sempat ditahannya.
“Tahu pak..” ucap toro begitu pelan,suaranya seakan tenggelam dalam ketakutan.
“BAGUS..JADI KAMU PASTI TAHU KALAU WAKTU JAM KERJA ITU TIDAK BOLEH TERTIDUR”
“Tahu kok pak”suara Toro mulai bergetar,di dalam ketakutannya ia mulai mengerti bahwa semua awal yg terjadi padanya hanyalah sebuah mimpi.
Sebuah realitas pahit yang tak terwujud di dunia nyata.

    ****

“Fiuuhhhhhhhhhhh……….”Toro hanya menghela nafas,ia beruntung karena Pak Andi hanya menghukum dengan cara memperpanjang jam kerjanya.
Siang telah beranjak petang,Toro masih belum bisa pulang karena hukuman yang diperolehnya.
Menyebalkan memang tapi apa boleh buat daripada dipecat pikir Toro. Dari arah lift turunlah seorang pria, tak jauh di belakangnya mengikuti ke 5 asistennya yang cantik.
“Selamat Sore Pak Rendra” ujar semua orang setengah tertunduk begitu pria itu melewatinya.
Mereka begitu hormat kepadanya,bagaimana tidak??
Karena sang pria adalah Bos Besar di Perusahaan itu.
Pria itu segera masuk ke limosine diikuti ke 5 asistennya.
Dalam kawalan ketat Petugas,Pria itu pun segera meninggalkan kantor.
“DooooRRrrrrrrrRRrrrRr…….. . . ….” Suara seseorang menyadarkan Toro dari lamunannya.
“Kampret lo id,ngagetin gw aja lo nyet” ujar Toro kepada Wahid,teman sekantornya.
“Makanya lo tuh kalo kerja yang bener,ngelamun mulu kerjaannya..hehe” Wahid membela diri sembari meledek kawannya itu.
“Iye iye dah,by the way lo belom balik cuy??” Tanya Toro sekaligus menghentikan sebentar pekerjaannya.
“Sebentar lagi juga balik neh,lo masih lama ya”
“Iya neh,kena hukuman lagi gw dari Pak Andi”jawab Toro
“Lo ketiduran lagi ya??”
“Hehehehe…tau aja lo”
“Siapa seh Ro di kantor ini yang ga tau kebiasaan lo itu”
Toro hanya tersenyum akan pernyataan Wahid,dalam hati ia hanya menertawakan dirinya sendiri.
Rupanya ia sudah sangat dikenal sebagai tukang tidur di kantornya. Toro pun akhirnya mengobrol dengan Wahid sebentar,ia pun sempat menceritakan mimpi yang baru saja dialaminya.
“Hahaha…Ro..Ro..mimpi lo aneh aneh aja,sedikit pun ga mengenai realita yang ada”Wahid hanya tertawa mendengarkan mimpi dari sahabatnya itu.
“Maksud lo id??bisa aja kan itu petunjuk bahwa suatu saat gw bisa kaya pak Rendra” Toro masih percaya bahwa mimpi itu adalah petunjuk bagi dirinya.
Wahid yang mendengar ucapan sahabatnya itu hanya bisa tersenyum.
“Ro..ro..bermimpi dan berkhayal itu mudah tapi menghadapi kenyataannya memang terkadang sulit. Berkata itu memang hal yang simple tapi melakukannya kadang merupakan hal yang berat”
Toro hanya terdiam mendengar kata-kata sahabatnya itu,terdiam dan berpikir mendengarkan makna dari kata-kata Wahid.
Bersalahkah ia karena selama ini selalu hidup dalam angan-angan.
“Yaud Ro gw balik duluan ya,lanjutin aja pekerjaan lo dulu ntar malah dihukum lagi ma Pak Andi”ujar Wahid seraya berlalu meninggalkan sahabatnya itu.
Toro terdiam dan segera melanjutkan pekerjaannya.
Ia pun menyalakan kembali Polisher machine yang sedari tadi telah dipegangnya.
Ya,Toro memang hanya seorang Office Boy (OB) di kantor itu.
Itu pun hanya dengan status sebagai pegawai Outsourcing.
Dalam pekerjaannya ia hanya merenungi kembali kata-kata dari temannya,Wahid.

    *****

Pada jam 8 malam,akhirnya Toro bisa menyelesaikan pekerjaannya. Ia pun segera pulang ke rumahnya di kawasan Kalibata.
Tak ada pagar atau penjaga di rumah itu,hanya tanah yang becek dan sampah yang setia mengelilinginya.
Tak ada emas atau lukisan yang menempel pada dinding-dinding rumahnya,hanya ada seng dan triplek yang dengan setia melapisinya.
Tak ada ribuan kamar di rumah itu,hanya ada 1 kamar yang sempit.
Toro tak mempunyai danau,hanya ada kali yang meresap dengan rumahnya. Begitu musim hujan tiba,Toro hanya bisa mengungsi menjauh.
Untuk MCK pun Toro begitu mengandalkan kali itu.
Tak ada kendaraan mewah,hanya sepeda ontel tua reot yang dimilikinya.
Tak ada assisten atau selir-selir cantik,hanya ada seorang istri yang dengan setia mendampinginya selama 5 tahun ini.
Seorang istri yang setiap tahun semakin gemuk,cerewet dan tak pengertian.
Tak ada kemewahan,bahkan untuk sekedar makan tiap hari Toro sudah mengalami kesulitan.
Toro kemudian masuk ke kamar,didapatinya istrinya telah tertidur di atas tikar berselimutkan kain sarung, Toro kemudian menuju meja makan yang sekaligus merupakan meja tamu itu.
Ia kemudian membuka tudung saji dan mendapati tak ada makanan yang tersedia pada hari itu.
Toro hanya bisa menghela nafas.Toro pun kemudian ikut berbaring di sebelah istrinya sembari menahan lapar yang terus mengetuk perutnya.

Jakarta 24 November 2010 ditulis ulang 29 Desember 2011

0 komentar:

Posting Komentar