Rabu, 07 Desember 2011

Arti Iman


Arti Iman (Karena Tuhan itu ada)

Sabtu penuh duka
Sabtu 5 November 2011
Hari itu ada sebuah kabar duka. Bi Enah yang merupakan saudara dari kami meninggal dunia.Beliau meninggal di usianya yang sudah memasuki kepala tujuh.
Bi Enah merupakan saudara dari bokap,adik kandung dari Kakek (aku biasa memanggilnya dengan sebutan Uwa). Rumah beliau bersebelahan dengan rumahku.
Disana beliau tinggal dengan beberapa anaknya.
Saat beliau meninggal kebetulan saya tak menemaninya.
Jumat malam,Bi Enah dibawa ke rumah sakit Pusdikkes oleh anak anaknya. Saat itu kondisinya kian parah karena sakit yang dideritanya. Tapi pada saat itu ibuku sendiri berpendapat,bahwa yang dilakukan oleh mereka (anak anak Bi Enah) terlambat. Karena sakit yang diderita Bi Enah seharusnya bisa lebih cepat ditangani dan diobati.

Hehhh....
Singkat cerita ketika Sabtu sore (saat itu sekitar jam 3an) saya mendengar keadaan Bi Enah mulai kritis. Nyokap,Nenek,Bibi dan hampir seluruh keluarga Bi Enah pergi menuju ke RS Pusdikkes.
Saat itu saya tak bisa ikut bersama mereka karena harus pergi ke tempat teman untuk menyelesaikan tugas kuliah.
Ketika menjelang jam 5 saya sudah kembali ke rumah tapi Cuma sebentar karena saya harus pergi lagi untuk kuliah.Saat itu nyokap sudah kembali ke dari rumah sakit. Saya pun segera bertanya tentang keadaan Bi Enah.
“Gimana mak keadaan Bi Enah??”
Nyokap lalu menghela nafas panjang
“Keadaannya tak kunjung membaik,ketika kesana emak kasihan ngelihat kondisinya wal.Untuk bernafas aja bibi udah kesusahan” Ujar nyokap seraya mengelus-elus dadanya.
Mendengar hal itu saya Cuma bisa menghela nafas dan berdoa semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk Bi Enah.
Selepas maghrib saya pun berangkat menuju kampus. Tak ada firasat apapun kala itu.
Saya selalu yakin bahwa semuanya akan diberikan jalan yang terbaik.
Ketika malamnya saya kembali (saat itu sudah sekitar jam 9 malam lewat) saya terkejut. Dari arah gang menuju ke rumah saya sudah melihat banyak bendera kuning yang berkibar.
Pola pikir saya semakin tak menentu ketika melihatnya.
Segera saya memacu motor saya untuk menuju kembali ke rumah.
Ketika menuruni turunan di gang,saya akhirnya melihat sesuatu yang sebenarnya saya tak ingin itu terjadi.
Saya melihat keramaian di rumah Bi Enah.
Saya segera berhenti di depan rumahnya,
Saya terkejut karena ternyata apa yang paling tak saya harapkan terjadi. Bi Enah telah tiada dan pergi dari kehidupan kami semua.
Beliau menghembuskan nafas terakhirnya selepas Bada Isya. Saat umat muslim merayakan takbiran untuk menyambut hari raya Idul Adha esoknya.

Arti Iman

Bi Enah baru dimakamkan pagi harinya,selepas sholat Idul Adha di *Kober belakang tak jauh dari rumah kami.
*Kober = sebutan tanah pemakaman dalam bahasa betawi/bahasa asli Jakarta
Karena ramai saya tak begitu melihat proses pemakamannya.
Sore harinya,selepas mengantarkan daging ke rumah Nenek di daerah lubang Buaya,saya berbincang sebentar dengan Ibu saya di teras rumah.
Sembari menikmati sate kambing dan sop tulang sapi hasil buatannya,ibu saya bercerita sedikit tentang keadaan Bi Enah sebelum dan sesudah kematiannya.
 “Kasihan ngelihat Bi Enah wal” Ujarnya kepadaku sembari melihat ikan ikan yang berada tak jauh dengan teras rumah kami.
“Kasihan kenapa mak??” Tanya saya singkat.
Ibuku lalu menarik nafas panjang
“Kasihan wal,mau matinya aja kayanya susah banget !! Kesusahan banget menjelang matinye”
“Susah gimana??” Ujarku yang semakin penasaran dengan cerita Ibuku
“Jadi ketika mau meninggal,Bibi tuh udah kesusahan buat bernafas !! Kruokkkkk...Kruookkkkk....Kruoookkkk.....begitu suara nafas bibi pas mau mati,mirip banget sama orang yang dicekek” Ujarnya seraya memeragakan bunyi nafas terakhir Bi Enah ketika di rumah sakit.
“Dan mulutnya pun selalu dikerubungin sama lalat,ya Allah wal kasihan banget emak ngelihatnya” ucap Ibuku seraya mengusap usap dadanya.
Ibuku lalu terdiam sejenak,ia lalu menceritakan sebuah kejadian lagi ketika dalam perjalanan pulang di ambulan yang mengantarkan kepulangan jenasah Bi Enah. Saat itu Ibuku,*Uwa,dan beberapa anak Bi Enah berada di dalam Ambulan.
*Uwa = Sebutan Kakek atau Nenek dalam bahasa daerah tertentu
“Saat dalam ambulan,tali pocong Bi Enah terlepas dan segera ajah geto mulutnya menganga !!beluman lagi, matanya juga ikut ikutan melotot” Ujar Ibuku sembari berusaha memeragakan apa yang dilihatnya ketika itu.
“Semua yang ada di ambulan ga ada yang berani buat nutup,Uwa sama anak anaknya aja sampe ketakutan sendiri melihatnya !! akhirnya emak juga yang turun tangan buat ngiketin tali pocongnya lagi”
“Kasihan wal,mana pas di ambulan mulut Bibi dilalerin mulu..!!Ya Allahhh..” Ujar nyokap seraya mengelus elus dadanya lagi
“Makanya wal jadi orang yang rajin sholat ya tong,jangan pernah tinggalin ibadah”
Bukan tanpa alasan Ibuku berkata demikian,semasa hidupnya Bi Enah memang dikenal tak pernah melaksanakan Ibadah.
Jangankan mengaji,menurut Ibuku saja beliau jarang melaksanakan Sholat, bahkan bisa dibilang tak pernah.
Semasa hidupnya Bi Enah juga dikenal sebagai orang yang senang bergunjing,dalam pengertian ini membicarakan orang lain.
Yuph..bisa dibilang beliau sangat senang bergosip.
Fiuhh...apa ini azab darimu Tuhan??
Seminggu setelahnya Ibu saya mendengar sebuah cerita dari neneknya Ami,tetangga saya. Dia bilang anaknya yaitu bang Rohim bercerita pada saat akan menguburkan dan membuka tali pocong dari Bi Enah terkejut bukan main karena tiba tiba mata dan mulut dari Bi Enah terbuka begitu saja.
Dengan mata melotot dan mulut menganga seperti orang yang terkejut.
Bang Rohim saat itu tentu saja sangat terkejut dan cerita neneknya Ami tak sanggup melanjutkan dan minta digantikan oleh orang lain.
Ibuku hanya bisa bersedih mendengar cerita itu.
Dan sejak saat itu beliau selalu cerewet dan tak pernah berhenti menasehatiku untuk melakukan Ibadah.
Apa yang terjadi dengan Bi Enah menurutnya terjadi karena arti iman yang telah meredup dalam dirinya.
Sebuah keimanan yang tak lagi dianggap dan hanya dijadikan sebuah simbol identitas semata.
Menganggap kefanaan adalah segalanya di dunia,tanpa pernah memikirkan kekayaan di akhirat kelak.
Tuhan memang tak mempunyai bentuk,Tuhan memang tak kita ketahui rupanya. Tuhan memang tak akan datang ketika panggil,Tuhan juga tak akan hadir ketika kita undang.
Tuhan itu fana tapi percayalah bahwa dia nyata.
Tuhan selalu melihat setiap perbuatan kita,Tuhan selalu mendengar setiap ucapan kita.
Dia tidak menilai,Dia juga tidak akan menjatuhkan sebuah keputusan kepada kita sebagai umatnya.
Yang menilai dan menjatuhkan keputusan semuanya kembali kepada diri kita sendiri,seberapa jauh kita meyakini keberadaannya.
Meyakini tanpa harus bertanya,karena setiap hal yang terjadi pasti ada hikmah di baliknya.

Nah sekarang seberapa anda mengartikan keimanan itu sendiri??
Karena percayalah, Tuhan hanya bisa melihat dan mendengar bukan yang menilai dan memutuskan kehidupan apa yang akan kita temui dan akan kita jalani setelah kefanaan dunia ini kelak.
Setidaknya hal itulah yang selalu saya yakini.

Kramat Jati, 6 Desember 2011

0 komentar:

Posting Komentar