Sabtu, 10 Desember 2011

Janji Bunga (Ending)

(Penjelasan)

Di ruang tunggu rumah sakit
“Hari ini aku benar benar senang, Ram. Karena akhirnya kamu bisa datang berkunjung. Ujar Mbak Risma.
Rama hanya tertunduk menahan kesedihan saat itu, ia tampak tak begitu memperdulikan kata kata mbak Risma yang mengajaknya bicara.
“Kami semua menyangka kamu sudah gugur dalam pertempuran di Aceh. Bahkan keluargamu sendiri pun tak mengetahui kabarmu sama sekali”
Rama masih terdiam.
“Makanya Mbak benar benar senang ketika melihatmu di televisi kemarin. Mbak benar benar bahagia melihatmu masih hidup, mbak rasa Bunga pun akan berperasaan demikian. Sambung mbak Risma.
Rama hanya bisa menundukkan kepalanya, air mata mengalir pelan membasahi kedua pipinya.
“La..lalu..kenapa Bunga bisa seperti itu mbak?? Apa yang terjadi dengannya??” Parau suara Rama karena menahan kesedihan yang kini melanda di hatinya.
Mbak Risma menarik nafas panjang, ia kemudian menceritakan kejadian yang menimpa Bunga.

Sebulan yang lalu...
Sudah seminggu semenjak hilangnya Rama dan 4 orang teman teman kesatuannya. Walau menemukan kenyataan pahit meninggalnya 2 orang anggota kesatuannya tapi Pak Ahmad selaku Komandan tak henti hentinya berdoa memohon keselamatan buat mereka.
Awalnya berita tentang hilangnya para prajurit begitu ditutup tutupi, itu merupakan perintah dari atasan yang tak ingin dunia luar mengetahuinya terlebih dahulu. Menurut atasan agar mereka lebih mudah bergerak dalam melakukan pencarian. Tapi ditutup tutupi sekuat apapun akhirnya berita itu bocor juga ke telinga wartawan. Mereka pun segera meminta konfirmasi dari Pak Ahmad,sebagai Komandan kesatuan.
“Kronologi kejadiannya sendiri bagaimana Pak?? tanya salah seorang wartawan.
“Jadi saat itu, 7 orang anggota kami sedang berpatroli menyisiri bagian selatan hutan. Sepertinya di bagian tertentu pada wilayah itu anggota kami telah diserang oleh sekelompok anggota separatis. Jawab Pak Ahmad.
“Apa benar Pak bahwa ada anggota bapak yang meninggal?? tanya salah seorang wartawan lagi.
Pak Ahmad kemudian menghela nafas panjang.
“Heeehh...iya, itu benar. Ada 2 orang anggota kami yang meninggal akibat pertempuran itu. Jawab Pak Ahmad singkat.
“Jadi bagaimana Pak nasib dari anggota yang lain??” Sambung wartawan yang lain.
“Entahlah..saat ini kami sedang melakukan pencarian intensif untuk menemukan mereka. Yang jelas saat ini saya berharap doa dari kawan kawan wartawan dan seluruh bangsa agar mereka selalu diberikan keselamatan. Jawab Pak Ahmad lagi.
“Maaf Pak, apa anggota keluarga para prajurit yang hilang sudah mengetahuinya??”
“Untuk keluarga kami sudah beritahukan tentang keadaan anggota keluarga mereka yang menghilang.
“Boleh kami tahu siapa saja anggota yang menghilang?? Tanya salah seorang wartawan lagi. Pak Ahmad lalu memanggil salah seorang anak buahnya dan menyuruhnya untuk mengambil sesuatu di ruangannya.
Prajurit itu kembali dengan membawa beberapa lembar kertas. Rupanya itu adalah data data para prajurit yang menghilang.
“1 Sersan mayor dan 4 orang Kopral. Masing masing mereka bernama Sersan Mayor Agus, Kopral Arif, Kopral Hanif, Kopral Gilang dan Kopral Rama.
Ujar Pak Ahmad seraya menunjukkan foto dan data diri dari para prajurit yang menghilang.

Sementara itu jauh di Kota Malang
Sorenya ketika berita wawancara Pak Ahmad disiarkan ada seorang wanita yang tak sengaja melihat berita di televisi tentang para prajurit yang menghilang. Ia memperhatikan dengan seksama tiap kata dari wawancara itu. Wajahnya begitu tegang ketika melihatnya.
Ia lalu melafadzkan doa, seakan melampirkan doa harapan untuk seseorang. Ketika berita tentang siapa saja korban yang hilang diberitahukan, ia hanya bisa menangis.
“Ramaaa...Ram..aa.” Teriaknya dalam hati, ia hanya bisa menangis.
Air mata mengalir deras membanjiri kedua pipi manisnya. Hatinya begitu terpukul mendengar berita itu.
Wanita itu adalah Bunga, ia begitu bersedih melihat berita yang sedang dilihatnya. Saat itu Putri, teman satu kontrakan yang juga menonton berita itu bersama Bunga berusaha menenangkan. Tapi Bunga tak kunjung berhenti menangis. Air matanya terus mengalir membayangkan apa yang sedang dialami oleh kekasihnya.
Malam itu Bunga pun tak bisa tertidur karena memikirkannya. Ia terus memikirkan nasib kekasihnya, Rama.
Bunga pun akhirnya beranjak dari tempat tidurnya dan memutuskan untuk pergi ke luar.
Kemana??
Entahlah, yang jelas Bunga beranjak pergi keluar untuk mengurangi kegundahan di hatinya.

Rama
Apa yang terjadi denganmu disana
Risau hatiku memikirkan adamu
Entahlah Rama
Aku tak bisa menjelaskan perasaan ini
Sesak begitu mendera dalam nafasku
Perih begitu menganga di jantungku
Melihat adamu yang perlahan memudar
Perlahan menghilang
Jauh dari angan
Rama..Rama..
Apa kau dengar suaraku
Aku merindukan sosokmu
Kekasihku
Rama.Rama..
Hatiku berdegup kencang kala melihat berita itu
Tangisku tak bisa berhenti Rama
Kalut melanda batinku
Takut mendera liang pikirku
Memikirkankan keadaan dirimu

Terdiam Bunga dalam lamunannya tentang kekasihnya Rama, sampai ia tak sadar berada di tengah jalan dan ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya.
“Kkiiiiittttttttttt................Bruuakkkkkkkkkkkk.................”
Begitu kencang mobil itu menabrak sehingga tubuh Bunga dibuat terpelanting olehnya. Bunga pun tergeletak tak sadarkan diri.

(Janji Bunga)

“Begitulah Ram ceritanya. Ujar mbak Risma mengakhiri ceritanya.
Rama terdiam, ia hanya bisa menangis mendengar cerita itu. Tangisnya semakin dalam memikirkan beban yang waktu itu ditanggung kekasihnya. Di tengah pembicaraan mereka, ada salah seorang suster yang menghampiri mereka.
“Maaf bu Risma, tapi dokter ingin berbicara dengan ibu di ruangannya.” Ujar suster itu.
“Baik terima kasih, nanti saya segera kesana secepatnya sus. Jawab Mbak Risma.
“Ya sudah Ram, Mbak tinggal dulu yah. Mbak harap kamu sering sering berkunjung kesini. Bunga pasti senang karena kehadiranmu.
Mbak Risma pun segera berlalu dari hadapan Rama, ia segera menuju ke ruangan dokter.
Tangis Rama begitu dalam, air mata mengalir deras dari kedua matanya. Perih hatinya memikirkan sakit yang kini sedang dialami kekasihnya.
Rama akhirnya mengerti jawaban dari mimpi Pak Ahmad dan suara yang waktu itu datang menguatkannya.
Itu adalah Bunga yang datang untuk menjaganya.
Seperti janjinya selama ini.



Sementara di ruang dokter
“Maafkan saya Bu Risma, tapi kemungkinan Bunga untuk selamat semakin menurun. Entah kenapa belakangan kondisinya semakin memburuk.” Ujar dokter itu singkat.
 “Maafkan saya, Bu Risma, tapi kami pasti akan terus memberikan yang terbaik untuk kesembuhan adik Ibu. Saya mohon saat ini kuatkanlah hati ibu dan berdoalah terus untuk kesembuhannya. sambung sang dokter lagi.
Risma yang mendengar kata kata dari sang dokter hanya bisa tertunduk dan menangis. Ia benar benar tak kuat menafsirkan tiap kata itu.

Di ruang ICU
Rama kembali masuk ke ruang tempat Bunga dirawat, lama ia terdiam melihat tubuh kekasihnya yang begitu lemah terbaring disana.
Bunyi nafas Bunga begitu terdengar melewati selang pernafasan yang disambung lewat tenggorokannya.

Bunga..
Kini akhirnya kumengerti
Mengerti jawaban dari segalanya
Aku tahu
Kala itu kau datang membantuku
Aku kini mengerti
Kala itu kau datang menguatkanku
Aku kini pahami
Kala itu kau datang menjagaku
Kau datang sebagai Malaikatku
Tapi Bunga
Aku akan membencimu
Sangat membencimu
Jikalau kau pergi meninggalkanku
Meninggalkan semua janji yang selalu terpatri
Dalam hati
Aku akan membencimu
Sangat membencimu
Apabila kau pergi menjauh dari duniaku
Meninggalkan semua cinta yang kau beri
Dalam diri


Rama pun segera beranjak pergi dari ruangan itu.
“Mengertilah Bunga,kalau kau memang seorang malaikat yang waktu itu datang menjagaku. Buatlah keajaiban sekali lagi. Kuatkanlah Bunga. Aku berjanji padamu Bunga, kini akulah yang akan menjadi malaikatmu. Akulah yang akan menarikmu keluar dari penderitaan ini” Ujar Rama dalam hatinya seraya pergi dari rumah sakit.
Rama mulai memantapkan hatinya sendiri, semua ia lakukan untuk menguatkan kekasihnya yang sangat dicintainya itu.

3 tahun kemudian..
“Uuu...uhhhh...” Suara seorang wanita di ruang rehabilitasi. Saat itu ia masuk ruang rehab untuk memulihkan kondisi dari kaki dan tangannya yang dinyatakan lumpuh.
Dalam keadaan terduduk di kursi rodanya wanita itu tengah berusaha menggerakkan jari jemarinya dan memindahkan sebuah bola kecil dari sebuah lubang ke lubang lainnya.
“Ayo semangat, kamu pasti bisa melakukannya. Ujar seorang suster yang selalu setia berada disampingnya. Suster itu tak kenal lelah memotivasi dirinya.
Wanita itu ternyata Bunga, sudah lebih dari 2 tahun yang lalu ia sembuh. Kini ia masuk ruang rehabilitasi untuk memulihkan fungsi organ tangan dan kakinya yang masih lumpuh.
“Hei...bagaimana keadaanmu??”
Tanya salah seorang pria begitu memasuki ruangan.Pria itu ternyata Rama, kekasihnya.
3 tahun yang lalu, Rama meminta kepada kesatuannya untuk dipindah tugaskan ke Malang. Rama beralasan untuk memulihkan kondisi psikologisnya. Hanya kepada Pak Ahmad ia bercerita alasan yang sebenarnya.
“Saya pergi untuk menepati janji saya kepadanya, Pak Ujar Rama kepada Pak Ahmad.
Saat itu Pak Ahmad juga sudah diceritakan oleh Rama tentang kecelakaan yang terjadi dan tentang Bunga yang saat itu hadir dan datang menguatkannya kala ia ditawan.
“Jagalah dia Ram, bapak harap ia bisa pulih secepatnya.” Ujar pak Ahmad. Senyum kecil menyembul keluar dibalik sisi kumis tebalnya.
Setelah dikabulkan, ia pun pindah tugas ke Malang. Disana ia bisa lebih leluasa menjaga Bunga. Setiap hari ia datang untuk menjenguknya.Bahkan ketika libur tugas, ia bisa seharian berada disana untuk menemani Bunga.
5 bulan berlalu, Bunga pun tersadar dari komanya. Tak ada yang percaya akan kesembuhan Bunga, bahkan dokter yang selama ini merawatnya pun menganggap itu sebagai sebuah keajaiban.
Kini setelah 3 tahun, Bunga berjuang untuk sebuah keajaiban agar fungsi tangan dan kakinya bisa digunakan lagi.
Bunga tersenyum melihat kedatangan Rama.
“Nah Bunga, kamu harus terus berusaha keras untuk sembuh buat Rama yang selalu datang menjengukmu tiap hari. Bisik sang suster kepada Bunga.
“Baik.” Jawab Bunga seraya mengepalkan tangannya.
“Nah sekarang tunjukkan hasil latihanmu selama ini kepadanya. Ujar sang suster lagi. Bunga hanya menganggukkan kepalanya.
“Rama..kamu berdiri disana ya. Ujar Bunga kepada Rama. Rama hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Bunga menarik nafas panjang, berusaha membulatkan tekad untuk sesuatu yang akan dilakukannya.
Bunga kemudian berusaha bangun dari kursi rodanya, ia benar benar berusaha keras untuk berdiri dari kursi rodanya. Sang suster terus setia membantu memegang kursi roda juga meneriakkan kata semangat untuk Bunga.
“Urrgggghhhhh...”
Sedikit demi sedikit Bunga bisa terbangun dari kursi rodanya,     perlahan ia bisa berdiri sendiri dengan kakinya.
Rama terperangah melihatnya, ia benar benar tak menyangka dengan apa yang sedang dilihatnya.
Bunga lalu mencoba melangkah.
Begitu berat langkah yang coba diambilnya, tapi Bunga terus berusaha. Dan pada akhirnya usahanya mulai menunjukkan hasil.
Langkah pertama..
Langkah kedua..
Langkah ketiga..
Langkah keempat..
Baru pada langkah kelima akhirnya ia terhenti.
Langkah itu terhenti tepat di hadapan Rama.
Senyum menyembul keluar dari wajahnya diikuti sebuah lelehan air mata. Air mata itu kemudian diseka oleh Bunga. Kehangatan itu??Rama benar benar ingat kehangatan itu. Itu benar benar sama persis dengan apa yang dirasakannya ketika ia ditawan. Ia kemudian memandang wajah bunga dalam dalam.
Bunga kemudian tersenyum.
Sebuah pelukan pun mengakhiri hari itu.


Janji Bunga - ending

Kramat Jati 19 Oktober 2011


CrunchBreak : Fiuhhh..selesai juga,eh tapi emang udah selesai dari kemarin seh. Hanya saja memang saya sendiri yang sengaja tak menyelesaikannya secara langsung, ga ada tujuan apa apa. Hanya saya mendapat protes dari beberapa pembaca tulisan saya yang menilai bahwa 'Terkadang' Postingan saya terlalu panjang sehingga membuat sebagian dari mereka capek membacanya..hehehe
maaf yah ^_^
Dan saya juga ingin meminta maaf karena untuk bulan November ini saya agak jarang Posting karena memang sedang disibukkan membantu Dumbledore dan Harry Potter.
Siapa mereka???
ahh..kalo yang udah baca kenapa eh kenapa pasti tau.
Yuph mereka adalah biang kerok dari sebuah event yang bernama World Delta Summit. Sebuah Konferensi Tingkat Tinggi untuk membahas masalah masalah di sekitar aliran Delta.
Yah untuk lebih jelasnya nanti akan saya ceritakan di "Me and World Delta Summit".
Untuk minggu ini,saya mau beristirahat terlebih dahulu.Merebahkan penat sejenak yang mendekap di kepala saya.
Minggu besok Insya Allah,semua akan kembali seperti semula..hehehe
Thanks Cruncher untuk segala supportnya selama ini :)

0 komentar:

Posting Komentar