Kamis, 22 Desember 2011

About Me and My World II


Si Unyil dari Betawi

Hemmm...saya pernah berjanji,entah di tulisan saya yang mana (lupa) jika sudah masuk postingan ke seratus setidaknya saya akan terbuka kepada dunia saya.
Yah dalam pengertian ini kepada dunia Blogging sebenarnya..hehe
Okeh cie due tigo... (Halah)
Saya lahir di Jakarta pada tanggal 29 November 1987 dan diberi nama oleh kedua orang tua saya Nandar Awaludin.
Saya dilahirkan prematur pada usia 7 bulan 2 minggu. Saya selalu tertawa ketika ibu menceritakan tentang kelahiran saya.
Beliau bercerita ketika lahir kepala saya mirip sekali dengan buah mangga.
Yuph...ketika lahir kepala saya bentuknya lonjong loh.
Hahaha.............
Lucunya, menurut ibu saya bentuk lonjong kepala saya itu perlahan menghilang karena kepala saya sering diusap-usap sama nenek.
Saya juga lahir berbarengan dengan tayangan si Unyil.

Itu loh nama boneka yang booming banget di era 80an, yang punya temen lucu bernama Pak Ogah,Usro dan Pak Raden.
Ibu saya bercerita ketika ia akan brojol (bahasa betawi untuk kata melahirkan), saat itu pula Si Unyil ada di televisi.
Oleh bi Lastri (adik dari ibu) saya dipanggil si Unyil dari betawi.
Haha....^^
Sebagian besar hidup saya dihabiskan di Jakarta,sebuah kota yang penuh sesak dan kaya akan polusi.
But..I love this town!!
Kota ini banyak memberikan pengalaman dalam hidup saya.
Yah namanya pengalaman pasti ada pahit dan manisnya tapi apapun itu saya selalu mensyukurinya.
Karena pengalaman itu adalah ilmu,sebuah pelajaran dalam kehidupan yang tak akan kita temui ketika kita bersekolah.

                                                            *
My Family

Saya akan bercerita sedikit tentang keluarga saya.
Keluarga adalah yah mungkin salah satu hal yang saya sulit ceritakan. Ga tertutup banget,Cuma memang kalau ditanya masalah keluarga sama orang yang baru kenal biasanya saya akan mengalihkan pembicaraan.
Bukan cuma orang yang baru kenal tapi mungkin beberapa orang yang pernah berada dekat dengan saya sama sekali ga tahu keadaan keluarga saya yang sebenarnya.
Yah emang ga penting seh..hehe
Cuma segelintir yang tahu tentang kebenarannya.
Bukannya ga mau terbuka tapi memang kalau ditanya masalah keluarga buat saya pribadi adalah hal yang benar benar sulit untuk diceritakan.
Sangat sulit...
Saya mungkin akan menangis jika menceritakannya.
God..its very difficult for explain that.
Yah kalau pada akhirnya saya bercerita melalui Blog ini itu karena saya sudah tak mampu lagi menceritakannya lewat ucapan. Selama ini saya akui saya hanya memendamnya dan ga terlalu jujur sama dunia saya.
Betapa saya ingin menceritakan tapi entah kenapa kata itu begitu sulit untuk dikeluarkan.
Kebenaran hanya kesemuan adanya.
Entahlah..
Mungkin karena saya belum menemukan keberanian untuk jujur kepada diri saya sendiri.
Heeeeeeehhhhhh.............
Saya lahir di Jakarta di rumah sakit MH Thamrin Jakarta Timur.
Saya dilahirkan di sebuah keluarga sederhana, rumah kami terletak di kawasan kramat jati jakarta timur.
Rumah kecil yang dalam lagu Meggi Z disebut “Gubuk Bambu”.
Rumah kami terletak bersebelahan dengan rumah Kakek dan Nenek (Orang tua dari ayah saya).
Selalu sedih mendengar cerita rumah ini,gimana perjalanannya dan segala bantuan yang datang untuk membangunnya.
Gimana rumah kami yang kecil ini sempat dikontrakkan sebagian untuk tambahan penghasilan. Karena jujur aja,ketika saya kecil dulu kehidupan keluarga kami jauh dari kata mampu.
Saya ingat dulu ketika keluarga kami tak mempunyai beras,saya juga selalu mengingat ketika dulu keluarga kami hanya makan nasi dengan garam.
Karena itu semenjak kecil saya sudah dihadapkan pada kenyataan, bahwa kehidupan yang akan saya jalani tak akan terasa mudah.
Sejak kecil saya juga sudah berpikir untuk membantu keluarga saya secepatnya.
Oleh ibu saya selalu diajarkan kesederhanaan. Selalu bersyukur atas apa yang diberi oleh Tuhan dan tidak mengeluh dalam setiap cobaannya.
Saya ingat dulu untuk memiliki sebuah handphone sendiri saja saya harus menunggu hingga kelas 3 SMA.
Saya ingat ketika ingin memiliki sebuah sepeda motor saja saya harus mengusahakannya sendiri.
Saya selalu ingat ketika ingin memiliki sesuatu harus melakukannya sendiri.
Saya tak mengeluh dan tak merengek rengek kepada orang tua saya.
Karena saya memang dibesarkan dengan cara dan pemikiran seperti itu. Saya mengertilah kehidupan dari keluarga saya.
Prinsip saya kalau memang bisa diusahakan sendiri, kenapa harus merengek rengek kepada mereka.
Semasa kecil saya lebih sering dititipkan ke Bibi saya yaitu Bi Erna (adik dari ibu), sehingga tak heran jika ketika saya kecil lebih akrab dengan bibi saya.
Hanya ketika bersama bi Ernalah saya benar benar merasa senang dan melupakan segala kesedihan di rumah.
Ayah dan ibu saya bertemu sekitar tahun pertengahan tahun 80an, saat itu ibu saya masih bersekolah. Mereka dipertemukan oleh teman dari ayah dan bi Erna.
Setelah ibu lulus sekolah ayah segera melamarnya.
Mereka menikah pada tahun 1987,tepatnya pada bulan Februari. Karena ketiadaan dana,pada bulan itu mereka hanya melakukan pernikahan dan baru mengadakan resepsi pada bulan April.
Saat resepsi digelar,ibu bilang saat itu ia sudah mengandung saya.
Hemm...makanya beliau selalu mengatakan bahwa saya terlahir (lumayan) tampan karena dikandung pada saat sedang resepsi (ga nyambung memang, tapi yoweslah..haha).
Saya merupakan anak pertama dari 2 bersaudara.
Ayah saya bernama Nemih,beliau merupakan warga asli Jakarta.
Beliau lahir pada 21 Juni 1961, ayah saya merupakan anak pertama dari 12 bersaudara. Ayah saya hanya melakoni 2 pekerjaan selama hidupnya.
Yang pertama sebagai pegawai percetakan,hal ini beliau lakoni jauh sebelum bertemu ibu. Tak lama setelah menikah dengan ibu, ayah memutuskan keluar dari pekerjaannya. Saat itu ia terlibat perselisihan dengan atasannya.
Yang kedua sebagai Ketua RT (Rukun Tetangga), yah walau sebenarnya ini hanya pekerjaan sosial seh.
Awalnya Kakek sayalah yang terpilih sebagai Ketua RT (tahun 1999),tapi karena sudah tua dan sering mengalami kendala kesehatan akhirnya tugas dari jabatan yang diembannya lebih sering dilakukan ayah saya.
Sehingga pada pemilihan selanjutnya (saya lupa tapi sekitar tahun 2001-2002) ayah sayalah yang terpilih sebagai Ketua RT.
Jujur aja,saya sangat bersyukur ayah saya menjadi Ketua RT.
Mang kenapa Ndar??enak yah kalo buat KTP digratisin??
Bukan,bukan itu juga (tapi iya seh sedikit :P).
Selain karena mempunyai banyak teman dan dikenal luas di kelurahan kami, Saya juga sangat bersyukur karena kegiatan ini ayah saya jadi mempunyai kegiatan yang menyibukkan harinya.
Ayah saya bisa dibilang sempat mengalami gangguan pada kejiwaannya. Bukan dalam pengertian tidak waras tapi saat itu ayah saya lebih mudah sekali tersulut emosinya.
Jika sudah emosi, hal apapun akan dijadikan pembenaran olehnya. Karena itu tak heran, dahulu keluarga kami sering mengalami pertengkaran.
Tahun 90an adalah masa masanya.
Dengan ketiadaan pekerjaan ditambah kondisi keuangan pas-pasan, jadilah ayah saya sebagai orang yang begitu mudah tersulut emosinya.
Di keluarga, tak ada satu orang pun yang berani melawannya.
Ayah saya sangat kurang berusaha dalam hidupnya, ia lebih senang mengalihkan dan megarahkan kesalahannya kepada ibu.
Dibalik segala sifat pemarahnya, saya tahu bahwa ayah saya adalah orang yang rapuh.
Jika bukan karena kesabaran ibu, mungkin keluarga kami sudah akan berpisah.
Dulu,Saya ingat ayah dengan mudahnya memukul dan menjewer kuping saya. Ayah saya juga bukan contoh yang baik dalam kepribadian.
Selain karena perokok berat, ayah saya sangat gemar bermain judi.
Untuk kebiasaan yang satu ini bisa dibilang sudah turun menurun di keluarganya. Yang paling saya benci adalah karena rumah kami sering digunakan sebagai tempat perjudian itu.
Ibu dan saya hanya bisa bersabar melihatnya.
Ayah saya juga bukan contoh yang baik dalam hal beribadah, beliau juga bukan merupakan contoh yang baik dalam mengarungi kehidupan.
Heeehhhhhhhh.................
Dulu sewaktu kecil saya tidak menyukai ayah, saya sangat membencinya. Namun kini setelah beranjak dewasa saya mengerti, bahwa setiap hal yang dilakukannya dulu karena rasa sayangnya terhadap saya.
Memang seperti itulah adanya beliau, tak menunjukkan kasih sayangnya lewat buaian mesra atau sebuah pelukan.
Tapi lewat sebuah kemarahan dalam artian sayang.
Saya belajar banyak dari beliau.
Dalam hidup saya belajar dan berjanji untuk tak menjadi perokok seperti beliau, saya juga berjanji tak akan menjadi penjudi seperti beliau, saya juga berjanji tak akan menjadi pecundang sepertinya.
Tapi di balik segala hal itu, ayah saya juga orang yang sangat baik. Sebagai Ketua RT beliau tanpa pamrih sering menolong warganya yang membutuhkan bantuan.
Bahkan banyak warga dari RT lain yang sering meminta pertolongannya.
Bahkan dari Bekasi,,Cibinong,Karawang,Bogor dan Tangerang.
Entahlah..
Memang kalau berurusan dengan ayah saya tak terlalu ribet, tanpa lama-lama beliau akan memaparkan apa-apa saja yang dibutuhkan,apa saja yang diperlukan dan apa saja yang perlu dikeluarkan.
Dan akan diurus secepatnya oleh beliau.
Mungkin karena itu beliau selalu terpilih sebagai Ketua RT hingga kini.
Dalam keluarga ayah juga orang yang baik,kalau ada rezeki beliau pasti akan membaginya dengan Kakek atau Nenek.
Bahkan keponakan keponakan yang tinggal di rumah Kakek lebih sering meminta uang kepada ayah saya ketimbang ayahnya sendiri.
Ayah saya juga orang yang mudah bergaul.
Teman beliau mungkin lebih banyak dari teman teman saya.
Ayah saya dikenal sebagai orang yang blak-blakan. Apa yang ga dia sukai atau tidak setuju akan langsung dia katakan saat itu juga.
Itulah ayah saya, saya selalu bersyukur diberikan ayah sepertinya. Memang banyak kekurangannya, tapi itu selalu saya jadikan pelajaran agar tak menjadi sepertinya.
Lagipula ayah saya kini perlahan mulai membaik.
Ia mulai belajar untuk berhenti merokok (walau sebenarnya beliau tak tahan karena sering diomelin ibu..hihi). Yah kadang ada kalahnya seh dalam prosesnya, tapi secara keseluruhan banyaklah perbaikannya.
Ayah saya juga perlahan menjauhi perjudian. Rumah kami pun kini tambah lapang dalam artian lebih banyak ruang untuk mengobrol.
Yuph..saya bersyukur, di usia senjanya ayah saya sudah mau belajar berubah untuk dirinya sendiri dan keluarganya.
I Love U Full dah Beh ^^

My angel

Percaya malaikat??
Malaikat yang saya percaya bukan hanya yang berada di surga, tapi malaikat juga datang dalam bentuk manusia.
Dalam hal ini saya percaya malaikat datang dalam bentuk seorang Ibu.
Ibu saya..
Hehhh...beliau terlalu luar biasa untuk saya.
She is a real Superhero on my life !!
Ibu saya lahir di Jakarta pada 12 Juni 1966, beliau merupakan anak ketiga dari lima bersaudara.
Ibu saya bernama Sapturoh, beliau juga merupakan warga asli Jakarta tepatnya warga asli daerah lubang buaya.
Sewaktu kecil beliau merupakan anak yang tomboy dan cuek, karena itu ketika kecil beliau selalu diomelin dan dipukul pantatnya oleh Alm Kakek (hihihi ^^).
Beliau selalu bercerita tentang masa kecilnya, ketika sekolah dulu beliau bercerita harus memakai plastik pada kakinya untuk melewati genangan lumpur di sawah.
Beliau juga bercerita betapa susahnya untuk menonton televisi pada saat itu, untuk menonton televisi saja beliau harus berjalan beberapa kilometer.
Dalam keluarganya, ibu adalah orang yang tegas.
Kalau memang ada yang salah beliau pasti menegurnya. Jangankan kakak dan adik adiknya, Nenek pun pernah ditegurnya.
Beliau merupakan lulusan sekolah keguruan (pada saat itu dikenal dengan SMK PGRI, sekarang bangunannya sudah berubah jadi SMP 157).
Seperti yang saya ceritakan di atas, pada awal pernikahannya beliau sering terlibat cekcok dengan ayah.
Maklumlah pasangan muda!!
Saat kecil ibu sayalah yang selalu datang memanjakan saya, mengisi keterbatasan dalam keseharian kehidupan kami dengan sebuah senyuman.
Pada tahun 1994, ibu saya memutuskan untuk bekerja.
Saat itu ia mendapatkan pekerjaan di TK ANNUR pondok gede. Pekerjaan disana ia lakoni sampai saat ini.
Pada tahun itu pula saya mulai memasuki sekolah dasar (SD).
Ibu adalah cerminan pejuang dalam kehidupan saya. Saat ayah menyerah untuk membiayai sekolah saya, ibu selalu datang menenangkan seakan berkata “tenang saja wal, semua akan baik baik saja”.
Yuph..kalau bukan karena beliau saya mungkin tak akan pernah mengenyam pendidikan hingga ke perguruan tinggi.
Walau kesusahan,ibu selalu berusaha menyediakan kebutuhan sekolah saya.
Ibu adalah cerminan kata sabar dalam kehidupan saya, kalau bukan karena kesabaran beliau keluarga kami mungkin akan sudah berpisah.
Seperti yang saya katakan sebelumnya,pada tahun 90an ayah adalah orang yang mudah naik darah.
Tahun 98, keluarga kami mengalami pertengkaran hebat.
Ayah dan ibu bertengkar hebat karena pekerjaan ibu, sampai ada tindakan KDRT yang dilakukan ayah. Saat itu seragam yang biasa ibu kenakan ketika mengajar dibakar oleh ayah.
Ibu saya Cuma bisa menangis.
Keesokan paginya saya dan adik saya diajak pergi ke rumah nenek di lubang buaya. Saat itu ibu merasa sudah jengah dan ingin memberi waktu kepada ayah saya untuk berpikir.
Walau pada saat itu masih anak anak tapi saya akan mendukung setiap keputusan ibu.
Untunglah ayah segera mengerti dan meminta maaf.
Beliau berbesar hati menjemput dan meminta maaf kepada ibu dan keluarganya.
Dan ibu pun segera memaafkannya.
Jujur aja, butuh hati yang luar biasa untuk mendampingi ayah. Dengan segala ego dan sifat buruknya??
Hehh..saya sendiri aja Cuma bisa menggelengkan kepala saya tapi ibu berbeda.
Walau terkadang suka marah tapi ibu selalu memaafkannya.
Ibu..
Ibu adalah orang pertama yang selalu mendukung langkah saya.
Ibu adalah orang pertama yang selalu mendoakan saya.
Ibu adalah orang pertama yang selalu ada di samping saya.
Ibu adalah tempat saya berbagi cerita, tempat dimana saya merasa lepas untuk melepaskan segala gundah saya.
Ibu adalah tempat penguat jalan saya, tempat saya berbagi segala ketakutan yang melanda.
Beliau adalah pemberi sinar terang dalam kegelapan kehidupan.
Ibu adalah guru dalam kehidupan yang saya jalani, memberi arah ketika saya salah melangkah.
Tak pernah lelah mengingatkan, tak pernah pamrih dalam memberi.
Saya benar benar tak bisa lagi menceritakan tentang beliau.
Saya sangat sangat dan sangat bersyukur memiliki ibu sepertinya.
Yang jelas tujuan hidup saya di dunia ini adalah membahagiakannya, membalas jasa-jasanya. Walau saya tahu semua tak akan sebanding dengan jasa jasa beliau dalam kehidupan saya tapi setidaknya saya ingin selalu membuatnya tersenyum dalam kehidupannya.
Ada satu impiannya yang sangat ingin saya wujudkan, yaitu menunaikan rukun islam yang ke 5 (naik Haji).
Saya berharap bisa mewujudkannya, doakan saya kawan kawan semua..^^
I’m Very very Love U, Mom.. ^^

Sekarang saya akan menceritakan keluarga saya yang terakhir yaitu adik saya Vika Ayu Lestari.
Di rumah kami biasa memanggilnya dengan panggilan Ayu.
Vika lahir pada 7 Maret 1990 di Jakarta, tepatnya di sebuah klinik di daerah lubang buaya.
Adik saya tak pernah mengenyam pendidikan.
Hal ini bukan karena keluarga kami tak mau membiayainya, bukan juga karena hal hal lainnya.
Singkat kata adik saya memiliki kekurangan ketika lahir??
Adik saya dilahirkan sebagai seorang tuna rungu, dalam pengertian ia dilahirkan dengan kekurangan pada indera pendengarnya.
Heehhhhhhhh...............
Ibu saya pernah bercerita,ketika bayi Vika pernah mengalami demam tinggi. Menurut ibu seh karena hal itulah semuanya bermula.
Entahlah...
Yang jelas kami sekeluarga sangat mencintai Vika.
Awalnya memang sulit tapi kini kami sekeluarga sudah terbiasa dengan apa yang dibicarakan dan akan dilakukannya.
Saya pernah mencoba bertanya kepada Tuhan, kenapa Vika dilahirkan seperti itu. Sebagai seorang kakak perasaan saya benar benar sakit ketika memandangnya.
Saya benar benar bersedih.
Saya pernah berujar kepada Tuhan untuk mengganti posisi Vika dengan saya.
Entah berapa kali pada suatu malam tiba tiba saya menangis ketika memikirkan nasibnya. Hati saya benar benar hancur.
Saya benar benar ga kebayang menjadi ibu dan ayah saya.
Ayah adalah orang yang emosinya terlihat dari luar, dalam pengertian apa yang ingin diucapkan atau diperbuat akan dilakukannya saat itu juga.
Sedangkan ibu saya berkebalikannya.
Pernah di suatu waktu ayah marah kepada Vika, saat itu kemarahannya sudah melewati batas dan menyinggung kekurangan Vika.
Tentu saja saya dan Ibu marah kepada ayah.
Yang jelas cekcok itu tak berkepanjangan, setelah suasana mereda saya dan ibu mendekati ayah dan mencoba berbicara dengannya.
Saya tahu beban yang ada di hatinya, pasti berat mengetahui kekurangan pada putrinya. Belum lagi kenyataan bahwa ayah tak bisa melakukan apa apa menghadapinya.
Karena itu kami tak pernah melanjutkan permasalahan ini. Ibu selalu menasehati ayah untuk menerima segala kekurangan Vika.
Ibu..
Walau selalu tersenyum dan terlihat baik baik saja. Tapi saya selalu tahu bahwa dalam hatinya ia bersedih, bersedih karena tak bisa berbuat apa apa terhadap Vika.
Tapi itulah ibu saya, kenyataan sepahit apapun akan selalu dihadapinya dengan hati yang lapang dan sebuah senyum.
Seperti karang yang tak akan goyah walau dihajar ribuan gelombang.
Vika adalah anak yang rajin, jasanya sungguh tak terhitung untuk keluarga ini. Vika adalah pengganti peran ibu di rumah.
Ketika saya dan ibu akan berangkat bekerja, Vikalah yang menyiapkan segala sesuatunya. Itu semua dilakukannya dengan tanpa pamrih.
Vika selalu terbangun sebelum subuh dan segera mengerjakan segala sesuatunya. Mulai dari memasak air untuk mandi,membuatkan kopi atau sekedar membantu ibu saya berdandan.
Setiap pagi saya selalu dibuat tertawa oleh tingkahnya dan ibu.
Semua pekerjaan rumah bisa adik saya lakoni. Memasak,mencuci dan lain lain bisa ia lakukan dengan mudah.
Vika adalah anak yang pintar, dia cepat sekali untuk belajar.
Di rumah, vika adalah anak yang sangat ingin tahu. Ketika keluarga saya memiliki handphone, yang pertama kali bisa memainkan segala fitur didalamnya setelah saya adalah Vika.
Ketika ayah dan ibu saya butuh waktu lama untuk sekedar belajar sms saja, tapi Vika dengan luar biasanya cepat mengerti dan mengirimkan sembarang pesan ke handphone milik saya.
Pernah di suatu waktu saya dan ibu pernah berandai andai, seandainya Vika dilahirkan dalam keadaan normal mungkin ia saat ini sudah kuliah di keperawatan.
Sesudahnya ibu selalu berpesan kepada saya, untuk selalu menjaga dan menyayangi Vika seumur hidup saya.
Beliau selalu berpesan jika saya menjadi orang yang berhasil kelak, jangan pernah melupakan adik saya.
Tentu saja janji itu akan selalu saya tanamkan dalam hati saya, karena buat saya Vika sangat berharga dalam kehidupan ini.
Vika merupakan salah satu alasan bagi saya untuk berhasil.
Berhasil dalam kehidupan ini.
Well..untuk pacar atau calon istri saya pun harus bisa menerima kehadirannya nanti.
Kalau ngga??
Kreeekkkkkkkkk....get out from my life!!
Anak anak saya pun nantinya akan selalu saya ajarkan untuk menyayangi dan menjaganya.
Agar ketika saya mati dan meninggalkan dunia ini lebih dulu dari adik saya, saya akan selalu merasa tenang karena akan selalu ada cinta yang menjaganya.
Udah ah..saya benar benar tak kuat lagi untuk bercerita.

Kakak sangat sangat menyayangimu dik, kakak berjanji akan selalu menjaga Vika.
Bukan hanya karena janji kepada Ibu tapi juga karena cinta kakak kepada Vika.
Jangan takut adikku untuk menatap dunia, kakak akan selalu berada di sampingmu.
Tersenyumlah selalu adikku Vika, karena kamu tahu senyummu sangat berarti buat kakak. Itulah arti kekuatan kakak dalam menjalani kehidupan.
Maaf yah dik, terkadang kakak suka kasar terhadapmu, kakak juga terkadang suka marah kepadamu.
Maaf yah dik kakak belum bisa membahagiakanmu, kakak belum bisa memenuhi segala impianmu.
Percayalah adikku Vika.
Jika kelak kakak berhasil, Vika tak akan pernah kakak lupakan.
Kakak akan selalu menjagamu dik.
Jika kelak kakak berhasil akan kakak bawa Vika mengenali dunia ini, akan kakak bawa Vika ke tempat manapun yang Vika mau.
Kakak akan tunjukkan seluruh isi dunia kepadamu dik.
Akan kakak jadikan hadiah sebagai rasa terima kasih kakak kepadamu dik. Karena artimu jauh lebih terang dari temaramnya bintang. Adamu lebih bersinar dari kilau mentari, dan dirimu jauh lebih berarti dari sekedar kekayaan dunia.
I love u my sister, Vika Ayu Lestari.

Heehh..andai keadaan keluarga kami jauh lebih baik, saya pasti tak akan pernah berpikir untuk segera bekerja dan hanya fokus untuk melanjutkan pendidikan.
Andai keadaan keluarga kami jauh lebih baik, kami pasti bisa membiayai Vika untuk sekolah di Sekolah Luar Biasa.
Tapi itulah kehidupan.
Memang akan selalu ada tanya yang menyertainya, tapi akan selalu ada hikmah juga dibaliknya.
Terima kasih Tuhan engkau telah melahirkanku di keluarga seperti ini. Aku tak lagi menyebutnya sebagai kekurangan, aku tak lagi menyebutnya sebagai alasan kelemahan.
Aku kini tahu Tuhan, bahwa ini adalah kelebihan yang kau beri kepada keluargaku.
Aku kini mengetahuinya Tuhan bahwa ini adalah kekuatan yang kau beri kepada keluargaku.
Terima kasih,saya sudah belajar banyak arti kehidupan dari keluarga ini.
Saya selalu belajar dari segala kekurangan ayah saya, saya selalu belajar tentang kekuatan ibu saya dan saya belajar menerima seperti adik saya.
Terima kasih..
I’m very love with my family ^^

Kramat Jati 22 desember 2011

0 komentar:

Posting Komentar