Minggu, 19 Februari 2012

Menjejak Lawu (bagian kedua)


Fiuuhhhhhh...jujur aja belakangan saya sedang mengalami sebuah kesulitan.
Kesulitan buang air yah Ndar??
Huss..sembarangan, eh tapi iya juga seh #Loh malah curcol :P
Bukan kesulitan dengan diri saya kok tapi dalam hal menyambung cerita, entah itu cerpen ataupun cerita yang lain.
Yah maklumlah namanya juga anak labil..wekawekawekaweka
Kalau kalian mengikuti blog ini pasti mengetahui bahwa ada beberapa cerita dalam blog ini yang masih bersambung. Entah itu cerita pendek (cerpen),Novel (baru niatan doang),cerita petualangan yang saya jalani ataupun cerita rohani dan jasmani (hemm..okeh buat yang terakhir saya Cuma bercanda).
Banyak cerita yang masih menggantung dan belum selesai (belum lagi ditambah yang masih berupa ide cerita di kepala). Bukan saya tak mau memberikan kelanjutannya,hanya saja memang kebanyakan dari cerita cerita itu masih banyak yang belum saya tulis bagian kelanjutannya.
Ide itu masih berupa konsep yang masih setia menempel di kepala,sulit banget buat menumpahkannya ke dalam goresan pena.
Saya sudah tahu jalan ceritanya,saya sudah tahu endingnya akan seperti apa tapi saya masih kesulitan dalam menceritakannya.
Sebenarnya ga ada alasan tertentu,hanya memang harus saya akui bahwa saya masih pemula dalam dunia menulis. Saya masih butuh banyak saran yang membangun dan butuh teman untuk berbagi cerita yang sayangnya tak saya temui dalam keseharian yang saya jalani. Kebanyakan teman untuk berbagi hanya saya temui dalam dunia maya.
Bukannya ga suka seh,malah saya bersyukur banget ada yang masih berkenan mendengarkan dan berbagi ceritanya dengan saya.
Tapi yah itulah,terkadang kita juga membutuhkan saran seseorang secara langsung dan berbincang tentang apa yang harus dilakukan.
Sayangnya hal itu masih belum saya temui.Onion Emoticon
Eh tunggu sebentar,kok jadi melenceng gini ya dari cerita awalnya..hahaha
Saya kan mau bercerita tentang kelanjutan petualangan dari anak anak Ababil Rasta Pala.
Okelah kita lanjut, tapi sebelumnya saya mau kasih peringatan dulu neh.
Karena akan banyak foto foto anak anak Rasta Pala yang beredar dalam cerita nanti, jadi ga ada salahnya sebelum para Crunchers membaca cerita ini untuk menyiapkan mental,fisik,iman dan juga kantong plastik.
Loh mang kenapa Ndar??
Yah saya takut aja,ada yang ga kuat mentalnya melihat foto foto kami dan keburu muntah duluan sebelum membaca ceritanya hingga selesai..hahaha
Yowes..kita lanjut aja deh,cerita tentang susah senangnya kami saat nanjak Gunung Lawu tahun 2009 kemarin.

Semerah Strawberry Lawu

Sebelum beranjak menuju warung kami berkeliling di area sekitar jalan pintu masuk. Selain untuk melihat-lihat dan menikmati suasana pagi di sana, tentu saja tujuan lainnya adalah untuk berfoto foto.









Yuph,jarang jarang kan bisa menikmati suasana pagi di sana. Suasananya begitu indah,sejuk dan tentram, mungkin karena masih pagi sekitar jalan raya pun belum terlalu banyak yang lalu lalang.
Yang paling saya suka adalah area jalan disana begitu terawat, jarang sekali saya temui jalanan yang rusak.
Di seberang jalan tempat kami berpijak terdapat sebuah mushola. Tak jauh dari mushola banyak terdapat warung warung.
Banyak dari kami yang saat itu dengan segera merasakan efek dari cuaca yang dingin.
Apaan tuh ndar???
Kebelet buang air kecil melulu..hahaha
Toilet yang terdapat di Mushola pun menjadi tempat pelarian kami buang air kecil. Dan inilah salah satu kejelekan yang ada di Indonesia.
Bahkan di mushola pun saya melihat ada sebuah tulisan “Setelah buang air bayar Rp 2000” dan terdapat sebuah kotak didekatnya.
Heehhhhh...............ga dimana mana -____-
Tapi berhubung masih sangat pagi,sepertinya tak ada yang berjaga disana dan kami pun terbebas dari segala pungli (pungutan liar).
Yohohohoho......
Di belakang mushola terdapat sebuah kebun strawberry.


Saat itu sepertinya sedang musim panen karena kami melihat banyak strawberry yang sudah merah dan siap untuk dipanen.
Benar benar menantang banget deh strawberrynya :P
Setelah episode “ngeliat doang” itu selesai kami pun segera beranjak dari bahu jalan. Kami pun memilih warung yang terletak tak jauh dari pintu masuk.
Dengan dingin yang begitu menusuk kulit kami pun menuju ke warung dan tak lupa membawa barang barang bawaan kami.
Warung itu begitu sederhana tapi memiliki tempat duduk yang luas untuk ukuran sebuah warung. Suasana didalamnya juga begitu menenangkan.
Kami semua pun segera memesan minuman untuk menghangatkan tubuh kami. Berhubung disana ga ada hot chocolate atau capucinno, akhirnya kami pun dengan berat hati memesan kopi (padahal emang mampunya cuma beli itu doang..haha).
Dan jujur aja,itu adalah salah satu kopi teraneh yang pernah saya rasakan.
Rasanya..?????
Wuuuooooooooooowwwwwwwwwwwwwwww....................................................................
benar benar penuh dengan ampas hahaha!!!
Papay sebagai pemerhati kopi seh menjelaskan bahwa itu adalah kopi racikan/buatan sendiri sehingga rasanya emang agak aneh buat yang belum terbiasa.
Banyak ampas dan rasanya lebih pahit dari rasa kopi pada umumnya.
Well..setelah episode kopi ampas, kami pun mulai merasakan sesuatu yang bergejolak di perut kami.
Yuph perut kami keroncongan alias laper.
Berhubung masih ada sekitar 3000 mdpl (3000 kaki di atas laut) yang harus dilewati dan sekalian untuk menanggapi cacing cacing yang berdemo di perut, kami pun segera memesan makanan untuk mengisi stamina lagi.
Karena tak ada yang jualan pizza,burger atau nasi di atas gunung, akhirnya kami semua pun memesan mie rebus.
Selagi menunggu makanan matang,beberapa dari kami melihat beberapa barang yang dijual di warung tersebut.
Tapi ada juga yang sibuk cari sinyal..hahahaha
Kami pun membeli beberapa jirigen (tempat air) yang sepertinya akan sangat kami butuhkan dalam perjalanan kali ini.
Saya pun segera membeli sebuah sarung tangan,karena sepertinya akan sangat saya butuhkan dalam perjalanan nanti.
Karena rasa dingin yang masih teramat sangat, kebanyakan dari kami selalu aktif untuk bergerak.
Yuph..kalau masih ada yang ingat di pelajaran Kimia dijelaskan bahwa salah satu cara untuk melawan rasa dingin itu adalah dengan melakukan banyak gerakan.
Yayayaya. . . .
Ngomong ngomong kayanya ga nyambung deh ndar??masa pelajaran kimia...hahaha
Hussshhhhh....yaudah seh terima aja,ini kan blog saya,yang nulis juga saya,walaupun sangat sangat ga bener yah dibenerin aja deh :P ß Pemaksaan.com
Okelah back to the story
Ketika menunggu makanan yang kami pesan mateng,kebanyakan dari kami berada di luar warung. Selain untuk melawan rasa dingin, kami juga melakukannya untuk menyapa sinar mentari yang perlahan mulai terbit dari balik bukit.
Buat foto foto juga seh sebenarnya..hahaha


Dan ketika makanan yang ditunggu matang, tanpa perlu dikomando kami semua pun segera menyerbu masuk ke dalam.
Rasa makanannya benar benar berasa mie rebus #ehh emang makan mie yak :P

Eng..ing..eng..
The Crunchy Kingdom present (bahasa indonesianya kerajaan Garing mempersembahkan)
E.M.C (Eh Minta Comentnya dong).
Berhubung kami kesulitan menjelaskan deskripsi masakan yang sedang kami makan, maka kami pun mengundang Chef master asal kramat jati yaitu Chef JUNAwaludin untuk membantu kami menjelaskan.
“Hemm..rasa mienya kenyal, telornya benar benar berasa telor, sawinya benar benar berasa sayuran, daun bawang pada mienya menambah rasa sayur pada mienya, saosnya jangan banyak banyak karena akan mempercepat kematian anda dan dan dan bisa nambah lagi ga 1 mangkok..plisss...!!!
Nb : Bagian ini sebenarnya ga ada dan ga penting juga buat dibaca. Jadi daripada anda mencla mencle sendiri mending ga usah dibaca aja deh.

Nah ini lucunya saat makan di daerah pegunungan, mie yang tadinya puanas bukan main beberapa saat kemudian malah berubah menjadi dingin.
“Yaelah masih panas” ujar Abadi kala itu yang beberapa menit kemudian malah berbicara “Yaelah udah dingin aja”.
Hahaha...koplak
Dan inilah episode foto foto dari sinetron terbaru anak anak Rasta Pala yaitu “Di balik gunung itu perutku kelaparan” :P






Setelah makan kami pun beristirahat dulu sejenak untuk menikmati sinar mentari yang mulai terasa menyengat di kulit.
Suasana disekitar sana mulai terasa ramai.
Dari arah warung kami melihat beberapa orang mulai berdatangan. Ada yang punya tujuan sama seperti kami tapi ada pula yang sekedar berwisata disana.
Di sebelah kiri warung terdapat sebuah kebun strawberry. Kebun itu tak terlalu besar karena memang hanya menggunakan lahan seadanya.
Saat itu mungkin sedang musim panen karena banyak strawberry disana yang sudah memerah,siap untuk dikriuk kriuk di dalam mulut..hehe
Hemm lagi asik asiknya menikmati suasana pagi disana tiba tiba saya menemukan sesuatu yang menarik untuk difoto.
Itu adalah bayangan kami sendiri.
Yah memang hanya sekedar bayangan tapi jujur aja ini adalah salah satu foto yang saya sukai selepas dari Lawu.
Dan rupanya bukan cuma saya saja.
Ketika saya ajak yang lain untuk berfoto mereka juga antusias (emang pada dasarnya pada berjiwa narsis seh haha).
Bhagol pun menemukan tempat yang menarik dimana bayangan kami benar benar terlihat disana.
Yuph inilah beberapa fotonya.



Karena waktu sudah menunjukkan sekitar jam 7 pagi, kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Kami pun segera bergegas menuju ke dalam warung untuk membayar jajanan kami tadi (mie es dan kopi ampas :P) dan tentunya untuk mengambil barang barang bawaan kami.
Setelah mengucapkan terima kasih sama si mbok warung kami pun segera menuju ke Pos pendakian Gunung Lawu.



Tujuannya yah tentu saja untuk mendaftar terlebih dahulu.
Daftar??buat apaan Ndar pake daftar segala,kaya mau lamaran kerja aja pake daftar dulu.
Mungkin buat yang pernah/hobi nanjak gunung pasti tahu hal ini. Penjelasan sederhananya seh kurang lebih sama dengan bertamu ke lingkungan orang lain.
Umumnya di setiap rumah di Indonesia kan biasanya ada tuh tulisan “Tamu 1x24 jam wajib lapor”.
Yah kurang lebih sama ajalah kaya geto.
Karena saat itu kami memang tengah bertamu ke Gunung Lawu. Jadi kami harus berlaku sopan disana agar jika terjadi apa apa kami tidak akan mengalami kesulitan.
Tapi sialnya saat itu Pak RT eh penjaga posnya lagi ga ada di tempat.
Hadehhhh. . . . . . . . .
Kami pun mencarinya kesana kemari.
Mencari ke dalam pos penjagaan,ke dalam selokan bahkan kami mencarinya ke dalam hati tapi sayang ga juga ketemu.
Butuh hampir setengah jam bagi kami untuk berkata “eh kenapa ga tanya mbak warungnya aja yah”
#Koplak.com
Papay pun segera menuju ke warung yang tadi kami singgahi, pertama seh mbaknya nyuruh periksa posnya lagi.
Setelah kami katakan bahwa kami sudah melakukannya eh si mbaknya malah berteriak teriak ke arah seberang jalan.
Teriakannya ampun deh merdu banget mirip banget sama penanyi seriosa Onion Icons
Karena merasa panggilannya ga menemui jawaban eh si mbaknya malah setengah berlari ke arah tempat itu. Ga lama dia pun kembali dan berteriak ke arah kami.
“Sudah tuh mas, ditunggu sebentar aja soalnya orangnya baru aja bangun” sembari mengeluarkan senyum ala miss Indonesia.
Selagi kami menunggu si mas penjaga pos, ada segerombolan orang yang sepertinya memiliki tujuan yang sama dengan kami. Tapi bedanya dengan kami mungkin Cuma pada barang bawaan dan tingkat kegantengannya aja :P
Sepertinya mereka tinggal masih di daerah sekitar Solo jika melihat barang bawaan yang dibawa.
“Udah mas langsung aja,ga usah daftar juga ga apa apa” Ujar salah seorang dari mereka.
Rupanya mereka membujuk kami untuk melalui jalur legal..hahaha
Reaksi kami???
Tentu saja Cuma senyam senyum dan berlaga seperti putra keraton.
“Makasih mas buat infonya” Ujar Papay kepada mereka.
Wah ini orang orang bukan memberikan contoh yang baik.
Sebenarnya seh lumrah aja buat ngelewatin pos geto aja, tapi kita juga tahu bahwa informasi itu sangat penting di atas gunung.
Ibaratnya begini (mudah mudahan seh ga terjadi) kita hilang atau tersesat di atas gunung. Nah kalo misalnya kita sudah meninggalkan info pasti akan segera dicari dengan segera karena sudah memiliki informasi tentang diri kita.
Hem selagi menunggu si abang penjaga pos kami juga melakukan sesi foto gerbang haha


Ga lama berselang setelah kepergian orang orang tadi muncullah seorang pria dari arah seberang jalan, langkahnya begitu pasti menendang roda roda kehidupan.
Tatapan matanya tajam seakan ada badai yang berpusar dari matanya. Dan ketika langkahnya sudah mendekati kami beliau pun berkata
“Aiihh..pada mau daftar ya bo”
#Gubraakkkk :P
Engga deng, doi ga ngomong kaya geto..hahaha tapi cuco banget kalo emang kejadian beneran :P
Dia Cuma langsung masuk ke pos ke pendaftaran dan meminta fotokopi KTP dari kami semua dan mencatatnya.
“Untuk tiket harganya Rp 5000/orang” ujar mas itu singkat seraya mencatat data data kami.
Sang sekretaris merangkap ketua perjalanan juga pemandu wisata yaitu saudara Firman bhagol pun menyuruh bendaharanya yaitu Papay untuk membayar jumlah tiket tadi.
Kenapa Papay,jawabannya kalau baca dari awal pasti tahu..hehe
Tak lama kemudian dari arah seberang jalan kami melihat kedatangan seseorang. Dari kejauhan sumpah itu orang mirip banget sama Ki Joko Bodo.
Rambut gondrong acak acakan, tampang kumel,jenggotan, badan kurus seadanya. Yang membedakan mungkin Cuma penampilannya aja. Kalo Ki Joko Bodo dukun merangkap anak boyband, sedang ini orang penampilannya metal abis.
Celana sobek dibagian lutut dan selalu bawa tas kecil.
Saat sudah dekat beliau pun menyapa kami semua
“Kancil” ujar beliau mengenalkan namanya. Rupanya beliau merupakan penduduk sekitar sana.
Belakangan baru kami ketahui bahwa doi adalah salah seorang Ranger di gunung Lawu. Beliau kemudian memberikan beberapa wejangan kepada kami sebelum menanjak. Saat itu suasana benar benar mencair.
Banyak ketawanya deh saat ngobrol dengan beliau.
Nah saat mengobrol itulah saya sempatin bertanya “Bang kalo sumber air ga terlalu jauh kan yah dari pos 1??”
“Ada kok di pos 1 tapi tempatnya agak menjorok ke dalam hutan. Setelah dari pos 1 sumber air baru ada lagi di pos 5” Ujar bang kancil kepada kami
“Kalau emang mau ngisi air lebih baik dari sini aja, tuh dari masjid aja ngisinya” Sambung bang kancil lagi.
Tanpa pikir panjang saya pun langsung bergegas menuju Masjid untuk mengisi jirigen bersama Papay.
Awalnya kami mengisi air di bak yang ada pada masjid tersebut tapi tak lama Papay berteriak ke saya (padahal jaraknya deket).
“Te, ngisi disini aja??” teriaknya dari arah samping Masjid. Rupanya disana ada sebuah pancuran air yang tak pernah berhenti mengalir.
Yang jelas seh airnya jauh lebih higienis dari yang di dalam masjid.
Saat sedang mengisi air kami melihat ada beberapa orang yang sedang memanen strawberry. Saya dan papay seh saat itu seh ngobrol ngobrol aja, tapi jujur aja laga kami udah kaya pemilik kebun yang lagi mantau hasil panen..hahaha
Yah ngebahas strawberry busuklah,ngebahas strawberrynya dijual kemana,ngebahas ini itu yah pokoknya jadi ketawa ketiwi sendiri.
Tak jauh dari kami ada seorang ibu yang sedang memanen strawberrynya. Oh iya sebelumnya papay juga minta izin terlebih dahulu dengan ibu itu untuk mengambil air disana.
“Bu, lagi mau dipanen yah” ujar papay membuka pembicaraan kepada ibu itu.
Nb : Sebenarnya percakapan Papay sama ibu ini masih ada sedikit campuran dalam bahasa jawa,tapi berhubung saya cuma ngerti ngartiin bahasa jawa tapi ga bisa ngomongnya. Yowes dibaca aja ya langsung translatetannya..hehe ^^v
Saya salut banget sama ibu ini, ditengah cuaca yang menyengat tapi beliau masih dengan giatnya bekerja.
Belum lagi ditambah dengan gangguan 2 makhluk halus dari kota yang sok-sokan akrab..haha
Tapi beliau masih menyempatkan diri untuk tersenyum kepada kami.
Like this yo ^_^
“Iya,neh udah banyak yang mau dipanen” Jawab ibu itu.
Papay lalu mengambil sebuah strawberry yang menjadi perdebatan dengan kami tadi perihal layak atau tidaknya itu dipanen.
“Bu yang kaya gini dipanen ga yah??” tanya papay kepada ibu itu seraya mengacungkan strawberry yang dipegangnya.
“Oh yang kaya geto mah ga dipanen, biasanya dibiarin aja disitu mas” jawabnya lagi.
Saat itu air di dalam jirigen sudah terisi penuh. Saya dan papay pun masing masing memegang satu.
“Tapi ini masih bisa dimakan kan bu??”Tanya papay masih penasaran
“Bisa kok mas, tapi kalo mang mas mau jangan makan yang itu. Makan aja yang lainnya (maksudnya disini itu yang ga busuk)” ujar ibu itu seraya menunjuk seluruh kebunnya.
“Bener neh bu??” Tanya saya lagi kepada ibu itu.
“Iya” ibu itu hanya tersenyum mendengar rasa tidak percaya kami.
Saya dan papay saling berpandang pandangan seakan ga percaya.
“Wah dapet rezeki nomplok neh” seperti itulah kata kata yang tersirat dari wajah kami.
Tanpa pikir panjang kami pun membawa tas dan mengambil semua yang ada di kebun itu dan menjualnya di atas gunung.
Tapi sayangnya itu semua bohong..hahaha
Kami Cuma mengambil beberapa buah aja kok,sekedar buat dicicipi oleh kami dan tentunya anak anak Rasta Pala yang lain.
Lagian kurang kerjaan juga makan strawberry pas lagi mau nanjak gunung. Buat ngurangin ngantuk seh emang bagus tapi setelahnya perutlah yang akan berbicara.
Ga lucu kan lagi di tengah tengah sesi nanjak lalu perut berasa mules ..haha
Di atas gunung nyari toilet aja harus permisi dulu sama alam. Masa iya mau permisi mulu sama si alam.
“Pang numpang numpang..saya mau numpang b***r”
Hahahahahaha Onion Icons

Setelah mengucapkan terima kasih kami pun segera bergegas dari sana.
“Si ibu baek banget ya pay” Ujar saya kepada papay
“Yoi..emang rata rata orang jawa begitu te, ga terlalu sungkan buat ngasih bantuan”
Saya tersenyum senyum sendiri saat mendengarnya. Memang di zaman seperti sekarang ini sudah agak sulit menemukan kebaikan seperti ibu itu.
Kebaikan ibu itu benar benar berwarna cerah, semerah strawberry lawu yang memiliki citarasa berbeda dalam setiap gigitannya.
“Tapi pantesan aja yah Pay, teroris kayanya betah banget di daerah jawa. Orang jawanya pada baek semua” Ucap saya kepada papay
“Ho’oh” jawabnya seraya tersenyum simpul.
Dan kami pun segera menuju ke pos, dimana anak anak yang lain sudah menunggu kami untuk melanjutkan perjalanan.

Kramat Jati 18 Februari 2012

0 komentar:

Posting Komentar