Minggu, 10 Juni 2012

Assasin Pray "Some Words for God" Chapter IV


Chapter IV

Tentang Kehidupan...

Kehidupan di pasar mengajarkan banyak hal kepadaku.
Premanisme,Pencopetan,Perkelahian,Pelacuran dan Perjudian adalah hal yang biasa aku temui disana.Oleh Pak Dito aku selalu diingatkan untuk belajar waspada disana.
“Ambil baiknya,jangan pernah mengikuti buruknya”Nasehat Pak Dito singkat kepadaku.
Perlahan aku mulai belajar menjadi pribadi yang lebih kuat.
Dulu orang yang mengenalku di pasar itu hanyalah Pak Dito seorang,lambat laun sahabatku pun semakin banyak. Karena sama sama berasal dari masyarakat miskin,kami saling menghargai satu sama lain.
Di pasar itu pula aku mulai mengenal dan belajar mengenai ilmu bela diri. Aku mulai mempelajarinya ketika awal aku masuk SMA.
Aku mempunyai dua guru disana.
 Yang pertama bernama Bang Tigor,beliau adalah Preman di Pasar Induk Kramat Jati. Dengan badan besar,rambut bergaya mohank,tato yang menyebar hampir di seluruh badannya,dan juga ditambah dengan sifatnya yang suka mabuk mabukan. Mungkin tak akan pernah ada yang menyangka bahwa beliau adalah seorang ahli bela diri. Ia sangat mahir dalam perkelahian tangan kosong/Martial art.
Di Pasar pun tak ada seorangpun yang berani kepadanya.
Beliau sangat ahli dalam bela diri Tarung Drajat. Bang Tigor pernah bercerita betapa lamanya ia mempelajari bela diri itu. Ia bahkan rela datang ke tempat dimana beladiri itu berasal yaitu Bandung untuk mempelajarinya secara langsung.
Bang Tigor selalu menekankan bahwa Tarung Drajat bukan Cuma soal ilmu bela diri,tapi juga soal bagaimana memanfaatkan Senyawa Daya Gerak Otot, Otak serta Nurani secara Realistis dan Rasional.
Di dalam proses pembelajaran dan pemberlatihan gerakan-gerakan seluruh anggota dan organ tubuh serta bagian-bagian penting lainnnya. Dalam rangka memiliki dan menerapkan 5 (lima) unsur daya moral, antara lain yaitu : Kekuatan - Kecepatan - Ketepatan - Keberanian dan Keuletan.Intinya adalah penyelarasan pikiran.
Oh iya darimana aku mengenal Bang Tigor??
Jawabannya simple,karena beliau adalah adik dari Pak Dito.
Pak Dito selalu mewanti wanti Bang Tigor untuk tidak menggangguku,beliau malah terkadang disuruh untuk menjagaku.Karena itulah aku tak pernah mendapat masalah selama bekerja disana.
Pak Dito dan Bang Tigor bagai air dan api.Tiap kali mereka bertemu mereka pasti saling adu mulut.Tapi dibalik itu semua mereka saling peduli satu sama lain.
Pak Dito pernah menceritakan kepadaku,bahwa Bang Tigor menjadi seperti itu karena ditinggal mati oleh Istri dan anaknya.
Istri dan anak Bang Tigor meninggal dalam sebuah kebakaran.
Setiap mabuk,Pak Dito pasti selalu menceritakan tentang mereka. Kata Bang Tigor kalo anaknya masih hidup mungkin sudah sebesar diriku.
Mungkin karena hal itulah beliau jadi sangat menyayangiku,begitu pun sebaliknya.Aku sangat menyayangi orang ini,melebihi rasa sayangku terhadap ayah sendiri.Tapi tetap saja beliau sangat keras ketika melatihku.
Sekarang aku akan bercerita tentang guruku yang kedua.
Guruku yang kedua bernama Bang Wasis,beliau adalah teman satu pekerjaan di pasar yaitu kuli panggul. Beliau bertubuh tambun,berambut keriting gondrong dan mempunyai jenggot yang lebat. Meski gendut tapi jangan remehkan kelincahan Bang Wasis,ia selincah kancil.
Di pasar Bang Wasis mempunyai pekerjaan lain yaitu sebagai tukang potong hewan. Pekerjaan itu ia lakoni dari pagi hingga siang saja,setelahnya terkadang ia juga disuruh membantu berjualan oleh beberapa pedagang,kalaupun tidak ada biasanya akan tidur sambil menunggu jam 7 malam.
Aku sebenarnya bingung,kenapa Bang Wasis juga bekerja sebagai kuli panggul. Bagaimana tidak dari profesinya sebagai tukang potong hewan saja ia sudah mendapatkan pendapatan yang lumayan.
Ketika kutanyakan hal itu kepadanya ia Cuma menjawab singkat
“Iseng aja,sekalian ngelatih otot”
Sebuah jawaban yang membuat setiap orang yang mendengarnya hanya bisa mengernyitkan dahi.
Dari Bang Wasis aku diajari banyak hal,terutama seni memegang senjata.
Seperti yang sudah kukatakan,Bang Wasis bekerja sebagai tukang potong hewan. Beliau benar benar ahli dalam memegang semua jenis pisau.
God
kalian harus melihat sendiri ketika dia sedang melakukan pekerjaannya. Setiap kali melihatnya aku hanya bisa terperangah.
Ia benar benar hebat.
Untuk memotong dan menguliti seekor hewan (biasanya sapi atau kambing) ia cuma butuh waktu tak lebih dari setengah jam. Karena itu tak heran,meskipun bisa dibilang Bang Wasis mempunyai sifat pemalas tapi ia sangat disukai sama bosnya.
Bang Wasis mempunyai hobi yaitu memancing dan berburu. Hobinya ini benar benar diturunkannya kepadaku. Awalnya setiap minggu aku selalu disuruh pergi menemaninya,tapi lama kelamaan malah aku sendiri yang menyenangi hobinya ini.
Tiap kali aku memancing bersamanya aku selalu diberikan nasehat yang sama
“Memancing itu butuh kesabaran,sama seperti menjalani kehidupan. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan,amati dan tunggu !!mungkin jawaban yang kau cari ada di akhir jalan”
Entahlah!!!
Aku belum terlalu bisa mengartikan nasehat beliau kala itu. Yang kupahami bahwa sabar itu baik.
Yang jelas setiap kali memancing bersamanya,hasil tangkapanku pasti selalu kalah. Beliau benar benar tenang ketika memancing,berbeda jauh denganku yang cepat sekali bosan dan resah sendiri.
Yang selanjutnya diturunkan kepadaku adalah hobi berburu.
Hewan yang kuburu disini kebanyakan cuma hewan hewan kecil (semacam burung atau binatang pengerat).
Bang Wasis mempunyai banyak senapan angin di rumahnya. Setelah kutanyakan baru aku mengerti dari mana ia mendapatkan senjata senjata itu.
Rupanya dulu ia juga berjualan sebagai penjual senapan angin,hal itu ia wariskan dari ayahnya.
Tapi semenjak ayahnya meninggal dan Bang Wasis lebih suka dengan profesinya di pasar maka terbengkalailah senjata senjata itu. Ia cuma menaruhnya saja di rumah dan tidak menjualnya lagi.
Ada beberapa senjata yang sangat dibanggakan oleh Bang Wasis
“Neh ndi,senjata ini hasil rakitan dari abang sama ayah abang. Mantep banget dah walau cuma senapan angin” Ujarnya sembari menunjukkan sebuah senapan angin kepadaku. Senapan itu sama seperti bentuk senapan angin lainnya.Yang membedakannya mungkin cuma senjata itu lebih balance bahannya,ringan dan hasil tembakannya lebih jauh. Ada satu lagi senjata kebanggaannya yaitu senjata jenis Revolver.

Senjata itu ia beli tak lebih karena kecintaannya kepada film koboi.
Aku selalu bersaing dengan Bang Wasis dalam mendapatkan buruan. Selain itu aku juga selalu bertaruh dengannya dalam hal menembak sasaran (dalam hal ini yang biasanya digunakan kaleng susu atau botol).
Walau masih banyak kalahnya,tapi entah mengapa hatiku selalu senang.
Karena tiap waktu dengan Bang Wasis aku selalu belajar menjadi orang yang lebih berkembang.
Dan perlahan tapi pasti aku mulai bisa mengimbanginya.
Kenapa Bang Wasis mau mengajariku semua hal itu,awalnya ia Cuma menjawab
“Iseng aja,daripada ga ada kegiatan”
Walau belakangan baru kuketahui alasan ia mengajariku karena ceritaku sendiri. Yah karena teman satu pekerjaan aku banyak bercerita tentang hidupku kepadanya.
Rupanya di balik badan besar dan segala kecuekannya,Beliau adalah orang yang sentimentil.
Itulah kedua guruku,masa masa Sekolahku benar benar banyak kuhabiskan dengan menuntut ilmu dari mereka.
Aku benar benar digembleng menjadi pribadi yang lebih kuat oleh mereka.

                                                                 ****

To be continued

2 komentar:

  1. salam hangat!

    wah, harus hati2 nih bacanya.. !
    jangan sampai kena tabok.. :D

    BalasHapus
  2. Affanibnu : salam hangat jg kawan..
    haha..slow aja masbro,paling cuma kena jewer sm jitakan xP

    BalasHapus