Jumat, 01 Juni 2012

Cemoro Rindu


“Kenapa kamu masuk pecinta alam??”Tanya seorang wanita kepadaku.
“Karena saya mencintai alam kak” Jawabku sekenanya pada saat itu
“Ohh..mang seberapa cinta kamu sama alam??”Tanya wanita itu lagi
“Yahhh....!!!”Aku malah bingung menjawab pertanyaannya.
“Sudah sudah jangan kau jawab. Kalau kau memang cinta sama alam sekarang coba kau panjat pohon itu” Ujar wanita itu singkat sembari menunjuk ke arah sebuah pohon mangga. Beruntung pohon mangga itu tak terlalu besar sehingga aku dengan mudah memanjatnya.
“Sekarang kakak tanya sama kamu lagi,seberapa cinta kamu sama alam???”
“Cinta kak,pokoknya aku suka segala sesuatu yang ada di alam. Aku suka pantai dan aku juga suka laut” Jawabku singkat dan seadanya
“Kalau begitu sekarang kamu gelantungan di pohon itu seperti seekor orang utan”
Walau kesal tapi aku hanya bisa menuruti apa yang disuruhnya.
Wanita itu lalu menanyakan hal yang sama lagi “Kakak tanya sekali lagi,seberapa besar cinta kamu sama alam??”
Dan aku hanya mengeluarkan kata kata yang sama sebagai jawabannya.
Wanita itu lalu mendekatiku dan berujar pelan
“Kalau kamu memang cinta,coba sekarang kamu makan salah satu daun itu untuk membuktikan cinta kamu sama alam??”
“HAAAHHHHhhhhhh...kakak serius??”
“Katanya cinta,masa disuruh makan daun aja udah protes”Ledeknya sinis
Alamak,benar benar salah menjawab neh. Harusnya aku tak bilang cinta tadi.
“Ehh..dia malah diem!! Atau kamu mau kakak suruh gali tanah dan makan yang kamu temukan disana??”
Whattt...gila neh cewek
Masa disuruh ngorek ngorek tanah dan makan yang saya temukan didalamnya. Tanpa bertanya lagi aku melakukan saja apa yang disuruhnya tadi.
“Iya kak,aku makan neh daunnya”Jawabku sembari mengambil salah satu daun mangga. Lalu dengan ogah ogahan kumasukkan daun itu ke mulutku dan mulai mengunyahnya.
Sudah gelantungan di pohon,memakan daun pula. Aku benar benar merasa tak berbeda jauh dengan seekor kera.
Wanita itu hanya menutup mulutnya dengan tangan ketika melihat wajahku. Ia mencoba menahan tawanya.
“Sudah sudah,sekarang kamu turun dan bergabung dengan teman yang lainnya sana” Ujarnya seraya menunjuk ke arah sebuah kerumunan.
“Siap kak”
Aku pun segera turun dari pohon
“Kak,daunnya udah boleh dibuang kan??” Ucapku seraya menunjuk ke arah mulutku sendiri.
Aku tak langsung membuang daun itu karena takut akan kena hukuman.
“Yah kalau kamu suka,boleh kamu makan sepuasnya kok” Jawabnya singkat sembari berusaha mendekati pohon mangga dan memetik daunnya.
“Ga deh kak,makasih. Yaudah yah kak saya ke barisan dulu,takut nanti malah kena hukuman tambahan dari kakak yang lain!!” Aku pun segera mengambil langkah seribu dari sana dan segera kembali ke barisan teman temanku.
Yuph daripada nanti disuruh yang aneh aneh lagi sama itu cewek.
Sekali waktu aku menengok ke belakang dan melihatnya.
Rupanya ia masih tertawa puas karena berhasil mengerjaiku.


Tentang Dee. .

Namaku Samudra Kalla Awaludin.
Orang tuaku memberiku nama tersebut supaya aku bisa berwawasan luas seluas samudra,berpikiran sederhana dan bijak seperti Jusuf Kalla (tokoh idola mereka) dan selalu mendahulukan agamanya (Awal=pertama,din=agama).
Oleh teman temanku aku biasa dipanggil dengan nama Sam.
Saat ini aku merupakan siswa kelas 2 di SMA HUTAMA.
Cerita yang kuceritakan diatas adalah kejadian setahun yang lalu tepatnya saat aku masih mengikuti kegiatan MOS (masa orientasi siswa). Selain kegiatan MOS di sekolah,biasanya sekolahku juga mengadakan diluar sekolah. Dan untuk kali ini sekolahku memilih bumi perkemahan Cibubur.
Banyak kegiatan yang dilakukan diantaranya kegiatan kegiatan yang berhubungan dengan ekstrakulikuler siswa.
Sekolahku mewajibkan kepada setiap siswa barunya untuk memilih salah satu kegiatan ektrakulikuler.
Picture from HIAWATA
Saat itu aku memutuskan untuk mengikuti ekstrakulikuler sebagai Pecinta Alam (PA). Nama organisasi pecinta alam sekolah kami yaitu HIAWATA (Himpunan Siswa Pecinta Alam).
Sejujurnya aku tak tahu mengapa aku bisa memilih itu.
Pilihanku saat itu lebih karena mengikuti ajakan teman sekelasku,Abadi.
Maklumlah,aku sendiri masih bingung harus mengikuti ekstrakuliker apa.
Karate??
Hemm..sadar badan,pasti pulangnya sering pegel pegel deh
Rohis (Rohani Islam)??
Hemm..belum cocok belum cocok,sholat aja masih bolong bolong
Teater??
Hemm..pasti cuma bengong bengong kalo sampai disuruh akting
Tapi siksaan yang aku alami di atas belum seberapa sebenarnya jika dibandingkan pengalaman ketika harus orientasi dengan intern HIAWATA.
Jadi beberapa bulan setelah orientasi di Cibubur,biasanya HIAWATA juga melakukan kegiatan orientasi organisasinya sendiri.
Dan tempat yang saat itu dipilih adalah gunung salak.
God…siksaannya jauh jauh lebih menyeramkan ketimbang yang di cibubur!!
Ditengah dinginnya udara gunung yang menusuk kulit,pacet (sejenis lintah)yang setia menemani,dan tenda seadanya eh malam hari malah disuruh mandi!! gila dinginnya bener bener ngebuat seluruh badan remuk karena kedinginan.

Belum lagi kami harus menjalani setiap perintah perintah (yang terkadang aneh) dari para senior.
Hadehh. . . .!!!!!
Tapi sesudahnya justru masa masa itulah yang selalu dirindukan. Masa masa awal sebagai anggota HIAWATA.
Kegiatan pecinta alam ternyata benar benar menyenangkan. Banyak hal baru yang bisa aku pelajari disana.
Dulu ketika aku masih kelas satu memang kegiatannya tak selalu rutin,biasanya hanya diadakan seminggu sekali. Tapi semenjak sekolah memiliki wall climbing,hampir setiap hari kami berkumpul.
By the way wanita yang saya ceritakan diatas bernama Diah Ningrum.
Anak anak HIAWATA biasa memanggilnya dengan panggilan Dee.
Dee adalah kakak kelas saya.
Dee merupakan salah satu orang yang paling berjuang untuk organisasi ini. Contoh nyata adalah perjuangannya untuk wall climbing. Banyak yang pesimis akan kehadiran wall climbing di sekolah kami mengingat beberapa hal diantaranya peralatan yang harganya begitu mahal.
Selain itu juga keyakinan bahwa usaha ini akan mental di mata kepala yayasan kami,yaitu Pak Haji Utar.
Ketika  anggota lain mundur untuk mengajukan proposal. Dee dengan segala keyakinannya terus gigih berjuang. Walau harus kena beberapa ocehan ketika memberikan proposal itu kepada Pak Haji Utar tapi dia tetap optimis. Bahkan saya dan seorang teman saya yang saat itu disuruh mendampingi Dee Cuma bisa terdiam mendengar ocehan Pak Utar.
Tapi ketika Dee memberikan jawaban “Semua ini saya lakukan bukan untuk kepentingan saya,beberapa orang ataupun organisasi saya sendiri Pak. Semua saya lakukan demi kepentingan sekolah ini kedepan. Walau mahal dan mungkin terlihat seperti akan memboroskan uang tapi hal ini akan menjadi salah satu kebanggan dari sekolah ini. Saya meyakini itu”
Well..semua itu sudah terbukti sekarang.
By the way selain terkenal karena sifat bawel dan keras kepalanya,Diah merupakan orang yang sangat baik dan perhatian terhadap teman temannya.
Diah memiliki tubuh yang mungil,berkulit putih,dan rambut yang selalu dipotongnya sebatas bahu. Kesan pertama ketika melihatnya pasti akan menilainya sebagai wanita yang tomboy.
Yah apalagi jika sudah melihat penampilan Dee diluar jam sekolah.
Sepatu/celana gunung,celana jeans belel yang sudah robek robek yang selalu dipakainya,gelang yang hampir menutupi seluruh permukaan tangannya (karena hal ini aku selalu mengejeknya dengan sebutan dukun..haha) dan  lebih suka memakai kaos oblong biasa.
Dee benar benar jauh dari kesan feminim.
Sepanjang aku bersama dengannya tak pernah satu kali pun aku melihatnya berpenampilan layaknya seorang gadis. Bahkan dalam balutan seragam sekolah yang mengharuskannya memakai rok,kesan yang paling terlihat justru aura maskulinnya.
Cekcekcek!!!!!!
Emaknya mungkin salah ngidam neh waktu di kandungan..hahaha!!
Di samping segala keliarannya banyak juga yang berkata bahwa Dee itu wanita yang manis (matanya sudah rabun kali neh orang haha).
Di sekolah banyak yang menyukai dirinya tapi kebanyakan dari mereka malah mental atau mundur duluan karena berbagai alasan.
Yah ga perlu dijelasin kan alasannya.
Kalau di mata anak anak pecinta alam kami menyebutnya dengan sebuah pengandaian “Jangan terpesona dengan segala kehijauan hutan,karena dibalik segala kehijauannya hutan memiliki berjuta misteri yang tersemat didalamnya”
Yah kebanyakan dari mereka mundur karena tak bisa memahami sifat yang dimiliki oleh Dee. “Gimana bisa paham kalau setiap mendekat malah kena omelan melulu”Keluh salah seorang dari mereka kepadaku.
Aku cuma bisa ketawa aja.
Yah memang tak ada salahnya seh dengan mereka semua. Tapi bukan berarti Dee adalah pihak yang paling bersalah.
Sebenarnya Dee hanya perlu dimengerti lebih,kalau memang belum mengerti segeralah mengerti lagi. Kalau tak bisa mengerti cobalah memahami.
“Seperti sebuah hutan yang luas,walaupun kita telah berusaha mempelajarinya. Bukankah kita masih bisa tersesat didalamnya"

To be Continued . . . .

0 komentar:

Posting Komentar