Jumat, 01 Juni 2012

Jarak


Selepas jam kuliah Fatur,Fauzi,Juli,Rizki dan Faisal berkumpul di sebuah warung mie ayam dekat kampusnya.
Sekedar makan dan berbincang sejenak sebelum masing masing dari mereka kembali lagi ke rumah.
“Bang Parmin,aku pesan mie ayamnya satu. Tak usah dipakaikan bakso yah bang dan ingat neh bang jangan pedas pedas yah” Ujar Rizki dengan nada khas orang Medannya.
Rizki memang tidak terlalu suka dengan makanan yang pedas.
Yang lain pun segera menyusul untuk memesan makanan. Sambil menunggu mereka pun kembali berbincang bincang.
Tak lama terdengar suara adzan Sholat Ashar yang berkumandang.
Adzan itu berasal dari sebuah Masjid yang terletak tak jauh dari tempat mereka makan.
Faisal yang tahu tentang tipisnya iman yang dimiliki Fatur segera berusaha menguji (lebih tepatnya seh meledek) keimanan dari sahabatnya itu.
“Sholat dulu yo Tur,makanannya juga masih lama tuh matengnya??”Ujar Faisal kepada Fatur.
“Ah elo sal,pake ditanya lagi” Jawab Fatur sembari tertawa kecil.
“Tampang kaya Fatur bakalan sholat,Jakarta bisa kena tsunami sal” Ledek Juli yang segera disambut dengan gelak tawa oleh mereka semua.
“ By the way memang kenapa seh kau Tur jarang sholat??tak takut kau dengan murka yang diatas” Tanya Rizki kepada sahabatnya itu.

“Yah ga taulah ki,lagian ntar aja deh rajin sholatnya kalau udah tua. Lagian orang orang juga banyak yang baru tobat kalau sudah uzur..hehehehe” Jawab Fatur sekenanya.
“Ah kau ini seperti memberikan jarak saja dengan Tuhan” Ujar Rizki lagi
“Habis Tuhan kadang juga suka ga adil dan memberikan jarak juga ki buat kita” Elak Fatur tak mau kalah.
Perbincangan pun menghangat.
Fatur dan Rizki saling beradu argumen,sementara Faisal dan Juli hanya sebagai cheerleader yang menyemangati mereka berdua #Kompor
Fauzi yang sedari tadi hanya terdiam dan menikmati obrolan obrolan sahabatnya itu lalu ikutan berbicara.
“Hei sudah sudah,geto aja kok pake ribut”Ujar Fauzi berusaha menenangkan suasana.
“Tur,kau lihat gelas yang ada di sana” Tambah Fauzi lagi seraya menunjuk sebuah gelas yang terletak di sebuah meja tepat dibelakang tempat mereka duduk.
Fatur lalu menengok dan matanya segera tertuju kepada sebuah gelas kosong yang berada di sebuah meja.
“Yuph..mang kenapa zi??”Tanya Fatur bingung
“Sekarang coba kau menggapainya dengan tanganmu,bisakah kau mencapainya dengan tetap mempertahankan posisimu??”
Fatur lalu berusaha sekuat tenaga,tapi tentu saja ia tak bisa mencapai apa yang disuruh oleh Fauzi karena posisinya yang jauh dan tak melihat dengan pasti letak gelas dibelakangnya.
“Susah Zi”
Fauzi hanya tersenyum mendengarnya
“Coba kau lakukan berputar di posisimu sekarang tapi tetap mempertahankan posisi dudukmu dan tidak menambah gerakan sedikitpun” Suruh Fauzi lagi.
“Mang mau ngapain seh zi,bingung gue??”
“Udah lakuin aja”
Fatur pun melakukan apa yang disuruh oleh sahabatnya itu. Ia berputar putar ditempat duduknya tapi tetap saja ia tak mampu menggapai gelas yang dimaksud Fauzi. Padahal ia dan sang gelas cuma berjarak beberapa centi lagi.

“Susah zi”Tambah Fatur lagi
“Yah sampai kiamat juga kaga bakalan sampe Tur kalo persyaratannya kaya geto” Ujar Juli seraya menepuk pundak Fatur.
“Terus gimana caranya biar kau bisa sampai ke gelas itu??”Tanya Fauzi
“Yah gue harus sedikit bergerak Zi dari tempat gue duduk” Jawab Fatur.
Dalam posisi berhadapan dengan sang gelas ia lalu sedikit membungkuk dan berhasil mencapai sang gelas.
“Tuh,baru bisa sampe zi”Urai Fatur singkat seraya mengangkat gelas yang dimaksud Fauzi.
“Hemm..kau akan kesulitan menggapai gelas itu bukan jika tak bergerak dari tempatmu duduk??”Tanya Fauzi yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Fatur.
“Nah seperti itulah jarakmu dengan Tuhan Tur”Tambah Fauzi lagi
“Maksudnya apa zi??”Fatur hanya bisa mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Fauzi
“Tuhan itu selalu dekat dengan kita Tur,meskipun kita selalu merasa sebaliknya”
Fauzi lalu mengambil gelas yang ada di tangan Fatur dan menaruh ditempatnya semula.
“Lihat gelas itu,dia tak akan kemana mana bukan jika tak kita pindahkan. Kita juga tak akan bisa mencapainya dari posisi kita duduk. Mau dari arah depan,samping kanan,samping kiri apalagi jika sampai membelakangi, kita berdua tahu bahwa kita tak akan mungkin bisa menggapainya jika tak bergerak dari posisi dimana kita duduk”Terang Fauzi lagi
“Yah seperti itulah keberadaan Tuhan tur,Tuhan selalu ada dan tak pernah pergi kemana mana. Diri kitalah yang selalu merasa jauh darinya”
“Tapi Zi,terkadang saat kita mendekat,kita merasa bahwa Tuhan selalu menjauh,dan gue yakin semua yang ada disini pasti pernah merasakannya”Fatur rupanya masih penasaran dengan penjelasan yang didengarnya.
Fauzi hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Fatur. Ia lalu menggeser duduknya mendekati gelas dan melanjutkan penjelasannya.
“Seperti aku dan gelas ini saja Tur,meskipun sudah dekat dan ada dalam genggaman tapi tetap saja selalu merasa ada kekosongan dan hanya bisa memandanginya saja”
Terang Fauzi seraya memandangi gelas kosong yang dipegangnya.
“Walau kau coba mengisinya dengan air,terkadang engkau masih merasakan ada kekosongan bukan??”Tambah Fauzi lagi yang segera dijawab dengan sebuah anggukan kepala oleh Fatur.
“Seperti itulah tur mempercayai sebuah keyakinan. Anggaplah gelas itu kita isi dengan kebaikan kebaikan yang kita lakukan.  Terkadang kita begitu meyakini sudah melakukan banyak kebaikan dan sudah merasa bahwa diri kita sudah cukup baik.
Tapi bukankah sebuah gelas yang terisi air juga bisa habis bukan karena diminum?? Bisa saja gelas itu kosong karena terjatuh.
Bukankah sebuah gelas yang terisi air yang bersih terkadang tak bisa diminum?? Bisa saja kita batal meminumnya ketika kita melihat gelas itu kotor atau ada hewan dan hal lain yang kotor berada didalamnya”Urai Fauzi lagi
“Tuhan tuh dekat tur,hanya saja Tuhan memang tak pernah menunjukkan seberapa dekatnya ia. Tuhan selalu mendengar apa yang kita keluhkan tapi Tuhan tak selalu cepat mengabulkannya. Tuhan selalu ingin melihat seberapa besar proses perjuangan kita di dunia ini”
semua yang ada disana terdiam mendengarkan perkataan Fauzi. Mereka juga berusaha memaknai kata kata sahabatnya itu.
“Nah makanya le, rajin rajin sholat sebelum lo disholatin”Ledek Juli kepada sahabatnya itu.
“Ibarat kata begini Tur!! kalo kita aja udah itung itungan soal kebaikan,jadi apakah Tuhan juga bersalah jika melakukan hal yang sama terhadap kita”Tambah Rizki
“Neh coba lo tarik tangan gue Tur”Ujar Faisal kepada sahabatnya itu.
Fatur menurut saja dan melakukan apa yang disuruh sahabatnya itu. Lalu sayup sayup terdengarlah suara yang membuat mereka menjadi gaduh.
“Lo kentut sal”Teriak Fatur seraya menutup hidungnya.
“Huahahahahahaha.....makasih ya tur udah bantu ngeluarin. Itung itung berbuat kebaikan juga tur ngelancarin kentut gue”Jawab Faisal sekenanya,ia hanya tertawa melihat reaksi sahabatnya itu.
“Yeee...setan”
Suasana pun kembali riuh rendah oleh tawa mereka.
“Berisik banget lo pada,neh dimakan dulu  pesenannya” Rupanya itu bang Parmin yang datang membawa pesanan mereka.
“Tuh kan Zi emang takdirnya disuruh makan dulu..Hehehe” Ucap Fatur kepada sahabatnya itu.
Petang pun terus beranjak,meninggalkan sekumpulan anak adam yang terlarut didalam candanya.

Kadang kita lupa mensyukuri rezeki yang datang pada diri kita,walau rezeki yang datang itu cuma sebesar rambut.
Kadang kita suka meremehkan hal yang sebenarnya bisa segera kita laksanakan. Tuhan akan dekat apabila kita juga berusaha mendekatkan diri dengannya dan ia tidak akan menjauh karena Tuhan akan selalu ada diposisinya.
Yang menjauh adalah diri kita,yang kadang lupa bersyukur akan karunia yang diberikannya.
Selamat pagi Sahabat,semoga kita menjadi orang yang selalu bersyukur setiap harinya.

Kramat Jati 26 April 2012

3 komentar:

  1. nice post ..... makasih renungannya

    BalasHapus
  2. Sukma : hehe..thx
    makasih yah ma buat komen & kunjungannya :)

    BalasHapus
  3. Setuju... Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah :)

    BalasHapus