Kamis, 08 Maret 2012

Nol


Aku tak tahu kebetulan apa yang mempertemukanku denganmu di dunia yang serba paralel ini.
Mungkin Tuhan sedang lengah atau mungkin para Malaikat tengah jengah mengawalku sehingga membuatku bisa mengenal dirimu. Lengah mengawasi sehingga seseorang sepertimu bisa berkenalan dengan pecundang sepertiku.
Entahlah. .
Selalu ada pertanyaan manakala aku mengingatmu, gadis yang kukenal beberapa tahun yang lalu.
Aku ingat betapa bodohnya aku dahulu,sulit bagiku untuk sekedar bertutur kata denganmu mengingat begitu banyaknya jarak yang terbentang diantara kita.
Tapi aku senang karena kau menerima keberadaanku dengan tangan terbuka. Menerima apa adanya diriku.


Waktu pun berlalu. .
Kau sering bertanya kepadaku,meminta pendapatku dan berbagi cerita tentang dunia yang masing masing kita jalani.
Aku selalu tersenyum ketika mengingat salah satu nasehatku kepadamu.
Kala itu kau meminta nasehatku untuk menghadapi ujian nasional. Aku ingat betapa paniknya kata kata yang keluar dari dirimu, dan aku merasakan ketegangan yang tengah melandamu.
Karena aku juga pernah mengalami hal yang sama denganmu.
Ingatkah Nura apa yang kunasehatkan kepadamu??
“Percaya kepada sahabat ketika segalanya terasa terhambat”, “Pejamkan mata lalu tarik nafas pelan pelan. Percaya bahwa semuanya akan berjalan baik baik saja”
Apa kau masih mengingatnya??

Lambat waktu yang berjalan. .
Aku terkejut mengetahui persamaan yang ada diantara kita.
Dan tanpa bisa kuhindari secara perlahan aku mulai menaruh hati kepadamu. Tapi pada saat itu aku merasa bersalah untuk mendekatimu karena aku masih mempunyai masalah yang menggantung dengan kisah asmaraku yang lalu. Aku hanya tak ingin engkau salah menilai ketika kita akan memulai nanti.
Tapi. .
Permasalahan yang ada ternyata jauh lebih rumit dari yang tertutur, semua janji yang dulu sempat terucap perlahan luntur oleh derai waktu.
Aku terlalu terhanyut ke dalam permasalahanku dan perlahan menepikam kehadiranmu.
Mungkin akan terdengar bodoh dan terlihat sekedar mencari alasan tapi itulah kebenaran yang terjadi.
Selang beberapa waktu, aku benar benar merasa menjadi pecundang dalam hidup ini.
Tak tentu arah dan tak punya tujuan dalam melangkah.
Butuh waktu untukku menemukan cahaya, cahaya yang menerangi jalanku.

Kini. .
Segalanya telah berlalu dan aku sadari terlalu banyak waktu yang terbuang kau tunggu. Sehingga ketika aku kembali membawa perasaanku kau hanya berujar
“Seiring waktu penilaian seseorang bisa berubah”
pict from here

Heh..remuk redam perasaanku tapi aku bisa mengerti akan jawabanmu itu.
Aku benar benar tak mengerti Nura. Aku tak pernah mengerti kenapa rasaku berbeda terhadapmu.
Bahkan ketika aku menjauh entah mengapa aku malah semakin merasa dekat denganmu.
Entahlah. .
Mungkin seperti yang kau bilang dan aku bisa menerimanya.
Tapi aku tak bisa berbohong Nura.
Meski beribu kali aku mengatakan kepada diriku untuk menjauh darimu, walau berjuta kali kuucapkan untuk melepasmu
Tapi aku tak bisa memungkiri, betapa aku ingin menggenggam tanganmu. Betapa ingin aku berada disampingmu.
pict from here

Nura. .
Segala sesuatu tentang kita memang telah berubah. Aku  terima dan aku pahami kata kata yang dulu kau ucapkan kepadaku.
Aku sadari jika kini kau menjauh dan memudarkan perasaanmu kepadaku.
Kini. .
Aku hanya ingin memulainya kembali denganmu. Jika memang aku harus memulai segalanya dari titik nol,aku akan menerimanya.
Jika memang aku harus berusaha lagi mengejarmu,aku akan melakukannya.
Bisakah Nura??
Aku ingin kita bertutur kata seperti dulu,sekedar berbagi sedikit waktu yang kita jalani.
Tanpa ada beban tanpa ada tanya yang menggantung.

Nura. .
Jika memang pintu hatimu kini tengah tertutup untukku, di lain waktu bisakah kau membukanya kembali.
Walau kini tengah tertutup percayalah aku kan tetap menunggu.
Betapa inginnya aku berbicara denganmu, sekedar say hai dalam keseharianmu, ataupun sekedar mengingatkan untuk segera makan.
Terdengar bodoh bukan..haha
Tapi entah kenapa perasaan itu begitu membuncah dalam jiwaku. Perasaan ini seperti ingin melihat sunrise bersinar dari balik wajah gunung. Perasaan ini seperti ingin melihat sunset tenggelam di kesunyian samudra.
Sebuah perasaan yang selalu kurindukan
Seperti itulah penantian akan adamu di hidupku.
Bodoh ya ^^

Kramat Jati 8 Maret 2012

0 komentar:

Posting Komentar