Rabu, 14 Januari 2015

Anonim – Cerita Tentang Awan





1.      Kamu tahu awan kumulonimbus. Tebal, pekat, sulit ditembus dan mengandung badai. Ya itulah kita. Sulit membayangkan melewati hari bersamamu.
2.      Kamu adalah bagian dalam sejarah hidupku. Memiliki kisah dalam rangkaian perjalanan yang kulalui. Itu saja, selebihnya kamu hanyalah awan. Tampak padat berisi namun rapuh ketika disentuh.
3.      Kita pernah menatap awan yang sama, melukis harapan yang ingin kita lalui berdua. Ah mungkin itu jualah alasan perpisahan kita. Kita terlalu memaksakan teduh tanpa mau melalui sukar.
4.      Melihatmu seperti memandang awan hitam di kejauhan. Ketakutan terbesar adalah akan terjadinya badai tanpa ada persiapan untuk menanggulanginya.
5.      Berjanjilah bukan hanya ketika cerah datang menaungi langit. Bukan saat awan bersenandung beriring berarak. Berjanjilah ketika hidup membawa ke dalam lingkaran badai. Kamu akan tetap memegang tanganku.
6.      Kamu hanyalah cerita dibalik awan. Padat berisi namun rapuh saat kusentuh. Hanya butir embun sebagai pengingat kenangan.
7.      Aku dan kamu adalah kumpulan awan. Yang hanya akan menjadi hujan apabila bersatu.
8.      Pernah aku melihat awan di ketinggian. Aku senang saat menatapnya. Sebatas itu saja. Sebab jika kugapai pun, hanya kesiasiaan yang menanti.
9.      Ini kisah jaman dahulu kala, dimana hiduplah seorang nelayan dan keluarganya. Ketika itu, sang nelayan sedang melaut bersama dengan seorang anaknya. Ketika hari mulai beranjak pagi, mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak.
“ayah, kenapa awan itu begitu jauh diciptakan?” tanya sang anak sembari menunjuk sekumpulan awan, yang pagi itu terlihat putih berarak.
“karena jika terlalu dekat akan menyebabkan hilangnya keseimbangan” jawab ayahnya.
“keseimbangan??”
“iya, memang seperti itulah garis yang sudah ditakdirkan. Dahulu kala, sebelum Tuhan menciptakan keadaan tersebut. Awan dan lautan berjarak  tidak begitu jauh. Mereka selalu dengan mudahnya bertemu”
“Lalu mengapa kini mereka diciptakan saling berjauhan?” tanya sang anak yang masih penasaran.
“Karena keadaan tersebut menyebabkan ketidakseimbangan, dan juga menimbulkan kecemburuan”
 “Ketidakseimbangan, kecemburuan??” sang anak hanya bisa menggarukkan kepala mendengar jawaban ayahnya.
Sang ayah hanya tersenyum melihat raut wajah anaknya “Karena kedekatan mereka, daratan merasa dijauhi. Daratan merasa, awan hanya memperhatikan lautan”
“Daratan pun mengajukan keberatannya kepada Tuhan, dan Tuhan mengambil keputusan terbaik untuk semua. Yaitu menciptakan sebuah siklus” lanjut ayahnya lagi.
“Dengan siklus itu, semua dapat saling berhubungan, tanpa harus menimbulkan  kecemburuan satu dengan lainnya”
Sang anak akhirnya mengerti, sekalipun tidak ia akan selalu mengingat pesan dari ayahnya. Bahwa hidup tidak harus dimengerti saat itu juga, bisa saja nanti. Saat kita sudah berjalan melalui beberapa siklusnya.
10.  “Kita seperti awan dan lautan. Dipersatukan oleh sebuah siklus. Laut berpesan kepada awan melalui uap. Awan menitipkan rindu dalam butiran hujan. Hanya dapat saling memandang kagum, tidak memiliki.”

Kramat Jati, 9 Januari 2015

3 komentar:

  1. Yang ke-10 paling gue suka kata-katanya. Keren! :)

    BalasHapus
  2. waduhh tulisannya , makna nya dalam banget bang...

    BalasHapus
  3. @irfan : ^_^,,syukurlah jika disukai..terima kasih atas kunjungannya :)

    @Lapak Medan : ga sedalam sumur tetangga kok gan :p

    BalasHapus