Selasa, 07 April 2015

Sabang Dan Kenangan Tentangnya


5 hal yang paling saya ingat tentang sabang,
1.      Kedai Kopi
2.      Tawon / Lebah / Jangak (bahasa aceh untuk lebah)
3.      Penduduknya yang santai
4.      Ikan
5.      Laut

Ah 2014 adalah tahun yang penuh warna. Yeah penuh dengan perulangan dan kejutan. Pergi ke tempat yang sama, melakukan kegiatan yang sama, ketemu orang yang itu-itu aja. Namun saya tidak menyangka, ketika akhir bulan agustus, datang sebuah tawaran untuk sebuah pekerjaan. Pekerjaan yang tidak pernah saya lakoni sebelumnya,
Dan karena pekerjaan itulah, beberapa mimpi yang saya pernah saya tulis dan harapkan kesampaian. Sebuah mimpi melihat museum tsunami aceh dan berkunjung ke pulau sabang.

Part 1 : Besok Sudah Naik Gunung

Pekerjaan ini berkaitan dengan survey, hal yang disurvey biasanya berupa barang tambang. Awalnya, saya ragu untuk menerima pekerjaan ini. Keraguan saya simple aja, saya tidak mengetahui apapun tentang pekerjaan ini. Namun pada hari kamis, saat dihubungi via telepon, si bos (panggilan saya untuk seorang rekan kerja, beliau adalah bos saya di kantor saya terdahulu) meyakinkan untuk tetap datang. Beliau hanya bilang “kamu tertarik ngga ndar? tapi pekerjaannya di luar kota nih dan bisa berbulan-bulan loh” urainya mencoba menjelaskan resiko dari pekerjaan saya ini. Sebenarnya bukan itu yang saya cemaskan, “tapi pak, saya ngga punya pengalaman apa-apa soal pekerjaan ini, yang ada malah ngerepotin bapak nanti” saya mencoba menjelaskan kekhawatiran yang saya alami.
“Tapi kamu suka naik gunung kan?” tanya si bos, sebuah pertanyaan yang segera saya benarkan.
“Sudah kamu coba tanya orang tua kamu juga, dan kalau kamu yakin, kamu segera kesini ya, kamu tahu gunung slamet ngga ndar??” tanya si bos.
“Tahu pak”
“Kamu tahu daerah guci ngga ndar”
“Oh.., tahu pak, kebetulan saya pernah kesana, yang ada pemandian air panasnya itu kan?”
“Iya betul, nah surveynya di deket-deket sini itu”
“Kapan saya harus kesana pak??”
“Kalau bisa besok pagi sudah berada disini” jawab si bos , saya terdiam sesaat. WHAT. BESOK.
“Gimana ndar?? Oke ngga, soalnya disini lagi dibutuhkan orang, jadi harus secepatnya, kalau ngga kami akan ambil orang lain” si bos mencoba menjelaskan.
“Yah pokoknya harapanku, pada hari sabtunya, kamu sudah bisa naik gunung, sebab takut orang yang mau melatih kamu keburu cuti duluan” tambah si bos lagi.
Well setelah nego hari kedatangan, kami pun bersepakat bahwa saya harus memikirkannya terlebih dahulu. “Nanti akan segera saya kabarkan pak, secepatnya” yah begitulah janji saya kepada si bos.
“Dateng ndar, banyak ilmunya loh surveynya” jelas si bos seraya mengakhiri pembicaraan.
Nah jawaban inilah yang mungkin membuat saya menjadi sangat tertarik akan pekerjaan ini. Malamnya, saya mengirimkan pesan singkat kepada si bos, menyatakan ketertarikan akan pekerjaan ini  “Dimana pak, saya harus turun”.
“Kamu turun aja di yomani, dari yomani kamu naik elf menuju polsek bojong. Kami stay di desa buniwah kecamatan bojong”, saya pun segera menyiapkan beberapa barang, menurut si bos saya wajib membawa sepatu gunung, sleeping bag, jaket, peralatan mandi dan tentunya baju ganti. Karena tidak punya tas, saya pun segera membeli tas teman dengan kredit lunak hahaha!! Tapi mungkin inilah salahnya, saya cuma membawa daypack kecil, jadi tidak dapat menampung banyak baju. Karena tadinya saya pikir hanya untuk beberapa hari.
Setelah pusing sendiri, dibujuk supaya ngga berangkat sama anak-anak basecamp, toh pada akhirnya saya memilih tetap jalan, membulatkan tekad untuk belajar dan menghadapi resikonya. Tengah malam itu, tanggal 28 agustus 2014, dengan diantarkan salah seorang teman saya, matze, menuju terminal pulogadung, saya pun berjalan menuju ke desa buniwah.

Part 2 : Jedar-Jedur Gunung Slamet

Tidak sulit menemukan desa buniwah, dengan sedikit petunjuk dari si bos, saya sudah dapat menemukannya. Yah kurang lebihnya memang karena pengalaman naik gununglah saya mengetahui tempat itu.
Hari pertama saya habiskan dengan beristirahat dan berkenalan dengan orang-orang yang terlibat dalam project. Yang pertama akan saya perkenalkan adalah pak anton, si bos yang membujuk saya, beliau adalah pemimpin dalam tim kami. Lalu ada pak teguh, mentor utama saya dalam melakukan pekerjaan ini, lalu mas ardi, mentor saya juga, tapi berbeda perusahaan dengan pak anton dan pak teguh. Lalu ada pak sigit dan mas yoga, beliau berdua berasal dari perusahaan yang sama dengan mas ardi, pak sigit adalah pemimpin lapangannya.
Jadi singkatnya ada dua tim, dua perusahaan, yang melakukan pekerjaan, dengan berbeda metode survey. Dan saya masuk di tim pak anton.
Pemilihan desa buniwah sendiri dikarenakan metode survey itu sendiri yang mengharuskan adanya jarak sekitar 10 kilometer. Bisa dibilang desa buniwah adalah basecamp kami. Terdapat 2 tim dalam metode survey tim pak anton, tim pertama lebih banyak berada di basecamp, sedang tim kedua lebih banyak berada di lapangan, dan kedua tim itu harus terkoneksi satu sama lain, terutama saat merecord data. Saya lebih banyak ditempatkan sebagai tim lapangan bersama pak teguh, tim lapangan lebih banyak berinteraksi dan bergerak. Karena peralatan yang dibawa juga banyak, maka kami membutuhkan bantuan jasa porter, yang biasanya diambil dari penduduk sekitar. Dari sanalah saya berkenalan dengan sofi, khapid, pak RT, muslimin, pak slamet, pak slamet (lagi), pak rohim, pak zakib dan 3 orang lainnya (saya lupa namanya hehe), kebanyakan mereka diambil dari desa guci.
Singkatnya hari-hari dilalui dengan belajar, naik turun gunung, ngerecord data, dan buat laporan, tiap hari itulah yang dilakukan. Bisa dibilang di gunung slamet ini saya digembleng buat cepat belajar, kalau ada suatu masalah dan mentor saya ngga ikut, maka teleponlah jalan tengahnya.
Beberapa hal yang paling saya ingat dari survey di daerah guci adalah makan hasil ladang langsung (strawberry, kentang, wortel), menikmati hasil produksi petani (tahu, teh), naik turun pos 2 guci dalam hitungan jam, interaksi dengan crew lapangan, bakar ayam dengan mereka, nyari-nyari sinyal di gunung dan tentu saja mendengarkan melodi sumbang nyanyian gunung slamet. Yuph, pada saat saya survey, gunung slamet memang tengah memasuki masa siaga. Bahkan saya pernah mendapatkan tugas, untuk survey di satu titik yang berbatasan dengan satu igir (satu bukit) dari kawah gunung slamet. Dan rasanya benar-benar nano-nano?, itu adalah pengalaman paling extreme waktu naik gunung, saya benar-benar bisa mendengar suara dentuman dengan jelas, merasakan tanah bergetar, dan mendengar batu yang berjatuhan.
“DUUUUMMMM….,krosak..,krosak..krosak” bunyi dentuman gunung slamet. Saya yang bingung tentu saja segera menanyakan hal tersebut kepada crew lapangan, “itu suara apa pak, ada krosak krosaknya” tanya saya ketika berada 1 igir dari kawah gunung slamet. Saya sudah tidak asing dengan bunyi dentuman, tapi ada yang berbeda dengan bunyi dentuman kali ini “apa karena terlalu dekat yah?” gumam saya dalam hati.
“Oh.., itu suara batu jatuh mas nandar, dari letusannya” jawab pak rohim.
WHAT. BATU. Hal pertama yang terpikirkan saat itu adalah menelpon crew di basecamp, pak anton dan pak teguh, yang saat sedang tidak ikut survey lapangan.
Sedihnya saya tidak bisa langsung menghubungi mereka, ngga ada sinyal hahahahapes !!!. Saya pun segera naik turun gunung lagi untuk mencari sinyal.
Segera setelah bisa menghubungi mereka, saya menyampaikan keberatan, tapi pihak basecamp bersikukuh untuk terus melanjutkan recording data, “nanggung dar, udah jauh-jauh sampai sana” alasan mereka saat itu. Pada akhirnya, setelah berdiskusi dengan crew lapangan dan jawaban mereka “aman, tenang aja mas nandar” saya pun mengalah dan segera menyegerakan untuk merecord data. Ditemani dentuman gunung slamet sepanjang hari dan terkadang pacet, saya mencoba menikmati hari itu dengan bercanda saja dengan crew lapangan.
View dekat aliran sungai pos 1 guci
Letusan Slamet terlihat dari Desa Guci

Istirahat di Simpang Celeng, Jalur Guci

Udah mirip Harrison Ford belum?

Crew lokal lagi pada bobo cantik :D

Selama 3 minggu lebih saya berada disana, gunung slamet begitu setia menemani saya dalam dentumannya.
3 pekan kemudian, ada sebuah kabar dari Jakarta, yang menyebutkan untuk menyudahi kerja kami di gunung slamet. Ada tujuan baru untuk disurvey, yaitu pulau sabang. (bersambung bung bung)

Jakarta, 2 April 2014

0 komentar:

Posting Komentar