Jumat, 11 November 2011

Janji Bunga (Part II)


(Konflik di bumi Serambi Mekah)

Pertengahan tahun 90an bumi Serambi Mekah atau lebih dikenal sebagai Nangroe Aceh Darussalam kembali bergolak. Kelompok Separatis atau lebih dikenal sebagai Gerakan Separatis Aceh (GSA) kembali menyebarkan teror di bumi Serambi Mekah.
Rama yang sudah 3 tahun bertugas di Medan akhirnya dipindah tugaskan ke perbatasan Aceh oleh kesatuannya. Saat itu ia ditugaskan untuk berjaga di daerah sarat konflik. Walau kurang menyukainya tapi Rama selalu bisa menerimanya karena biar bagaimanapun itu sudah menjadi bagian dari tugas dan kewajibannya sebagai seorang Prajurit.

Di sana Rama berkawan baik dengan Komandannya yang bernama Ahmad, Rama tentu saja selalu memanggilnya dengan panggilan Pak Ahmad. Sebagai pribadi Pak Ahmad adalah orang yang baik, bahkan mengajarkan banyak hal kepada Rama. Ia juga tak pernah lupa untuk memberikan nasehatnya terhadap Rama. Tetapi lain halnya jika sudah kembali berperan sebagai Komandan,Rama hanya bisa mengatakannya dengan satu kata yaitu Tegas. Tak terhitung deh, berapa kali Rama harus terkena hukuman olehnya.
Rama senang berbagi cerita dengan Pak Ahmad, jika sudah berdua mereka selalu berbagi banyak hal. Malam itu Pak Ahmad bercerita betapa ia sangat merindukan keluarganya di Surabaya, betapa kangennya Pak Ahmad karena hampir 5 tahun sudah mereka tak bertemu. Ia selalu bercerita tentang kedua anaknya yang kini sudah memasuki dunia sekolah. Wajahnya selalu ceria ketika menceritakan tentang keluarganya. Rupanya di balik segala ketegasannya, beliau adalah orang yang sangat mencintai keluarganya.
Rama juga selalu bercerita banyak hal kepada Pak Ahmad. Dari keluarganya hingga pujaan hatinya.
“Siapa namanya Ram?? tanya beliau
“Bunga, namanya Bunga, Pak. Ujar Rama sembari tersenyum.
Rama selalu menceritakan betapa rindunya ia terhadap kekasihnya itu. Rama juga bercerita bahwa ia akan meminang pujaan hatinya segera setelah ia selesai bertugas.
Pak Ahmad hanya bisa tersenyum mendengarkan setiap perkataan Rama.

Seminggu setelahnya..
Hari itu ada apel di lapangan, Pak Ahmad sebagai Komandan memberi tahu kepada anak buahnya bahwa daerah perbatasan yang mereka jaga kini semakin rawan. Kelompok Separatis kini sudah mendekati wilayah penjagaan mereka.
Karena itu mereka diminta untuk semakin waspada dan untuk besok akan ada pembagian tugas untuk patroli. Untuk setiap patroli akan dibagi menjadi 7 orang.
Rama kebagian tugas 3 hari kemudian. Saat itu bersama beberapa teman patrolinya ia sedang berjalan menyisiri hutan di perbatasan. Tanpa mereka sadari ternyata gerak gerik mereka diperhatikan oleh sekelompok orang. Rupanya itu adalah kelompok separatis. Mereka rupanya tengah berusaha menjebak Rama dan kawan kawan.
Ketika kelompok Patroli Rama sudah memasuki wilayah yang mereka tandai, dengan sekali gerakan mereka mengepung Rama dan teman temannya. Tentu saja Rama dan teman temannya memberikan perlawanan dan terjadilah pertempuran disana.
Tapi apa daya, Rama kalah jumlah orang dan juga senjata. Mereka benar benar habis digempur peluru lawan.
2 orang temannya telah gugur didepan mata kepalanya.
“HEII...KAU CEPAT KELUAR !!” Teriak salah seorang dari kelompok separatis.
Saat itu tak ada lagi bunyi senjata, hanya terdengar suara gemerisik penghuni hutan yang mengeluh karena pertempuran tadi.
“CEPAT KELUAR DAN MENYERAHLAH, ATAU KAU MAU KETIGA TEMANMU INI KUTEMBAK MATI. sambung orang tadi.
Pelan pelan Rama mengintip, rupanya benar bahwa ketiga temannya yang lain telah tertangkap.Mereka semua dalam keadaan terluka.
Berdegup degup jantung Rama.
Dan Rama pun semakin bingung ketika melihat keadaan teman di sebelahnya. Temannya mengalami luka tembak di bagian bahunya.
Sebagai seorang prajurit, tentu saja Rama ingin berjuang sampai titik darah penghabisan. Tetapi sebagai seorang manusia, ia tak ingin lagi melihat kematian dari teman temannya.
Rama pun akhirnya menyerah.
Rama dan teman temannya dijadikan tawanan oleh kelompok separatis, mereka dibawa ke suatu tempat di hutan dan dikurung disana.Selain mereka ada banyak tawanan lain, kebanyakan dari mereka adalah warga sipil.
“Ya Tuhanku..berikanlah selalu perlindungan terhadap hambamu ini.” Ujar Rama yang hanya bisa berdoa di dalam kurungan itu.

2 Minggu setelahnya. . .
Hingga saat ini pencarian intensif terus dilakukan untuk mencari para anggotanya yang masih belum ditemukan. Walau menemukan kenyataan bahwa ada 2 anggotanya yang meninggal tapi Pak Ahmad selalu meyakini bahwa Rama dan teman temannya masih hidup.
Walau kemungkinan untuk itu tipis, tapi Pak Ahmad tak pernah berhenti berharap.
“Tuhan..lindungilah mereka semua. lafadz Pak Ahmad dalam setiap doanya.
Malam itu Pak Ahmad dan kesatuannya bermalam di hutan.Pada malam itu entah kenapa mata Pak Ahmad begitu sulit terpejam.Ia pun lalu memutuskan untuk berjalan jalan sejenak ke sekeliling tenda.
Pak Ahmad pun menghentikan langkahnya di Api unggun tak jauh dekat tenda.Saat itu ia hanya sendiri karena para prajurit yang lain sudah tertidur.
Ada prajurit yang lain yang masih terbangun tapi mereka sedang siaga dan berpatroli. Jadilah Pak Ahmad sendirian disana,lama ia melamun disana hingga ia tak menyadari telah ada seseorang yang berdiri tak jauh didepannya.
Pak Ahmad kaget bukan main, belum selesai keterkejutannya ia semakin kaget ketika mengetahui bahwa yang berdiri di hadapannya adalah seorang wanita.
“Anda siapa Nona??” Tanya Pak Ahmad kepada wanita itu.
Wanita itu hanya tersenyum.
Lalu ia berkata kepada Pak Ahmad
“Pergilah ke arah Tenggara,disana bapak akan bertemu dengan sebuah gua. Di sanalah para tawanan disekap. Berhati-hatilah karena banyak musuh yang berjaga disana.
Wanita itu pun beranjak pergi, Pak Ahmad yang masih bingung dan bertanya tanya siapa wanita itu tentu saja segera berusaha mengejarnya.
Tapi..
“Bruukkkk....” Pak Ahmad terjatuh dan terbangun dari tidurnya. Rupanya malam itu ia tertidur dekat api unggun.
“Ahh..Cuma mimpi. Pak Ahmad menertawakan dirinya sendiri. Hari itu Pak Ahmad dan kesatuannya kembali melakukan pencariannya.
“Hari ini kita menyusuri ke arah mana Pak??” Tanya salah seorang Prajurit.
Entah mengapa  kata hatinya begitu kuat untuk menuju ke arah Tenggara, sesuai dengan yang diamanatkan wanita dalam mimpinya.
“Kita menuju ke arah tenggara, katakan kepada semuanya untuk selalu bersiaga. Jawab Pak Ahmad pelan. Pada akhirnya ia mengikuti perkataan wanita dalam mimpinya.

(Arti hadirmu I)

Pak Ahmad dan kesatuannya terus berjalan menuju ke arah tenggara. Menjelang sore Pak Ahmad sepertinya hampir sampai di tempat yang dimaksud oleh wanita dalam mimpinya. Itu bisa dilihat dari adanya goa besar yang berada tak jauh di depan mereka.
Ia menyuruh pasukannya untuk lebih bersiaga. Ia pun menyuruh 2 orang prajurit dari pasukannya untuk memata matai keadaan di Goa itu.
Tak lama kedua prajuritnya kembali memberikan laporan yang membenarkan dugaan Pak Ahmad.
“Lapor Pak, ternyata benar dugaan bapak. Disana rupanya dijadikan persembunyian oleh musuh. Bisik mereka perlahan.
Mendengar hal itu Pak Ahmad selaku Komandan segera saja membuat strategi. Segera mereka pun akan menjalankan semua rencana tersebut ketika matahari telah terbenam.

Sementara itu di tempat tawanan disekap
Para tahanan benar benar merasa tersiksa disana. Cacian, makian, pukulan, tendangan dan segala macam siksaan mereka lalui tiap harinya. Disana para tawanan takkan pernah dibunuh melainkan akan terus disiksa sampai ajal sendiri yang menjemputnya. Keberadaan mereka disana hanya sekedar mainan atau sebagai alat barter. Jaminan jikalau memang diperlukan.
Rama saat itu diikat di kolam siksaan, seluruh tubuhnya ditenggelamkan, hanya bagian kepalanya yang tidak. Ia diceburkan di kolam yang penuh dengan lintah.
Teman teman dan para tawanan yang lain hampir bernasib hampir sama dengan Rama. Ada yang masuk kolam siksaan, ada yang diikat dan dijemur seharian, ada yang dihukum cambuk atau sekedar jadi bulan bulanan pukulan oleh kelompok separatis.
Rama hampir tidak kuat menjalani siksaannya,bagaimana tidak??, setelah dipukul dan dihukum cambuk ia kemudian dimasukkan ke kolam lintah. Tentu saja hal itu membuat lintah senang dan mengerubuti tubuhnya.
Dalam keadaan hampir kehilangan kesadaran ia mendengar sebuah suara yang memanggilnya
“Rama.....Rama......Ramaku bertahanlah.....Bertahanlah sebentar lagi.” Ujar suara itu.
“Siapa kau..???” Rama yang saat itu tak mampu membuka matanya, hanya bisa bertanya kepada asal suara itu. Suaranya begitu parau karena siksaan yang dilaluinya.
“Bertahanlah Ram..bertahanlah untukku. Sambung suara itu lagi. Rama merasakan dekapan hangat dari suara itu. Perlahan Rama mulai menyadari sesuatu.
Ia seperti mengenal suara itu.
Tidak..Rama betul betul mengenal suara itu. Suara itu adalah suara dari orang yang paling disayanginya selama ini. Perlahan suara itu pergi menghilang,menjauh dari Rama.
“BUUNNGGGAAAaaaa a a a a a a.. . . . . . . . “
Teriak Rama terhenyak dari alam sadarnya, ternyata Rama sempat jatuh pingsan tadi. Rupanya suara yang terdengar tadi datang dari alam bawah sadarnya.
Dalam keadaan setengah sadar ia kembali mendengar sebuah suara.
“Ram..Rama..Bertahanlah, Ram. Kami akan segera mengeluarkanmu.” Bisik suara itu kepada Rama.
Rama susah payah melihat ke asal suara tersebut, rupanya itu teman dari kesatuannya. Sepertinya rencana yang disusun Pak Ahmad mulai dijalankan.
Setelah para tawanan satu per satu bebas dan diamankan, mereka pun mulai menyergap pihak separatis. Pertempuran pun terjadi karena pihak separatis ternyata tak mau menyerah begitu saja. Korban pun berjatuhan di kedua belah pihak.
Karena kalah jumlah dan senjata, pada akhirnya pihak Tentaralah yang menang. Musuh yang tersisa pun menyerah di tangan mereka.
(Arti hadirmu II)

Butuh waktu 2 minggu buat Rama untuk memulihkan diri di rumah sakit. Bahkan ia sempat pingsan selama seminggu karena luka luka yang dideritanya.
“Apa kabarnya kamu, Bunga. Apa kamu tahu apa yang menimpaku kemarin??, apa kamu tahu tentang keadaanku sekarang??” Tanya Rama dalam lamunannya.
Bahkan ketika pulih yang ia pikirkan hanyalah tentang kekasihnya Bunga. Rama begitu merindukan kekasihnya itu. Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari dompetnya. Rupanya itu sebuah foto dari orang yang dicintainya, Bunga.
Apa yang terjadi dengan Bunga sekarang, apa yang sedang dipikirkannya, apa yang sedang ia lakukan disana, kenapa Bunga tak jua menghubungi dirinya.
Kenapa dan kenapa..
Tanya itu begitu menggumpal di hati Rama.
Setiap surat yang ia kirimkan hanya berbalas kehampaan, tak ada jawaban. Ketika ia berusaha menghubungi Bunga lewat telepon, jawaban yang ditemui hanyalah keheningan.
Tak ada satupun yang menjawabnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi denganmu, Bunga. Kenapa engkau begitu mengacuhkan diriku?? Tanya Rama pada dirinya sendiri.
“Lalu apa arti hadirmu ketika itu, Bunga. Apa arti dari suara yang kudengar ketika aku ditawan.
Selagi Rama mempertanyakan semua itu, ada seseorang memasuki tempat dimana ia dirawat. Ternyata itu adalah Pak Ahmad, Komandannya. Senyum menyembul keluar dari wajah Pak Ahmad begitu ia melihat Rama.
“Wah..sudah siuman rupanya, apa kabarnya neh jagoan perbatasan..hehe. Ujar Pak Ahmad menggoda Rama.
“Ahh..bapak bisa saja.” Rama hanya tersenyum mendengar perkataan Pak Ahmad.
“Oh iya sampai lupa ini ada sekedar bingkisan dari teman teman yang lain, buat penyemangat biar cepat sembuh.” Ujar Pak Ahmad sembari menyerahkan bingkisan yang dibawanya. Ia lalu menaruhnya di meja tempat Rama terbaring.
“Terima kasih Pak.
“Oh iya maaf, Ram.. karena bapak baru bisa menjenguk. Bapak harus mengawal para tahanan ke Jakarta, karena kamu tahulah bahwa mereka sudah dianggap sebagai penjahat kelas atas oleh Negara kita.
Lalu Pak Ahmad juga bercerita bahwa keadaan di perbatasan tempat dimana mereka ditugaskan sudah mulai kondusif. Penduduk sekitar sudah tak takut lagi akan ancaman gerakan separatis.
“Ngomong ngomong, Pak.. ada satu pertanyaan yang menggantung di hati saya. Bagaimana bapak bisa menemukan saya dan para tawanan lain begitu cepat??, karena jujur saja, jika itu adalah diri saya, kemungkinan untuk pergi ke arah sana begitu kecil. Mungkin tak akan pernah terpikirkan oleh diri saya karena selain medan yang sulit, tempat itu juga sulit untuk ditemukan.
Awalnya Pak Ahmad hanya terdiam,ia lalu menghela nafas panjang
“Heehhh..itulah yang tak bapak mengerti Ram,    entah kamu percaya atau tidak tapi bapak menemukan kamu karena sebuah mimpi.
“Mimpi...??” Rama hanya bisa mengernyitkan dahi begitu mendengarnya, setengah tak percaya dengan kata kata Pak Ahmad. Apa mungkin hal sepenting itu bisa ditemukan lewat mimpi.
“Tapi bagaimana mungkin Pak, hal seperti itu bisa terjadi??”
Pak Ahmad kemudian menceritakan tentang seorang wanita yang singgah di mimpinya. Ia menceritakan bahwa wanita itu menyuruhnya untuk pergi ke arah tenggara, menurut wanita tersebuat Pak Ahmad akan menemukan apa yang ia cari disana.
Rama hanya terperangah, masih tak percaya.
“Bapak kenal dengan wanita itu??” Tanya Rama. Jawaban yang keluar hanya sebuah gelengan kepala.
Secara tak sengaja Pak Ahmad melihat sebuah foto yang sedari tadi dipegang oleh Rama. Ia kemudian memperhatikannya dengan seksama.
“Iii..itu siapa, Ram??” Tanya Pak Ahmad kepada Rama tentang foto yang dipegangnya.
“Ohhh..ini, ini Bunga pak !! yang sering saya ceritakan sama bapak.
“Maaf Ram,boleh bapak lihat fotonya??
Rama kemudian menyerahkan foto yang dipegangnya. Lama Pak Ahmad terdiam melihat foto itu. Pak Ahmad seperti ingin meyakinkan sesuatu pada dirinya sendiri.
“Pak..Pak Ahmad, wah dia malah melamun. Bapak kagum yah sama kecantikan pacar saya..hehe.” Ujar Rama yang tentu saja segera membuyarkan lamunan Pak Ahmad.
“Ram..wanita dalam mimpi bapak itu betul betul mirip dengan dia. Ujar Pak Ahmad sembari menunjuk foto yang dipegangnya.
“Bapak yakin??” Rama semakin penasaran akan perkataan Pak Ahmad.
“Demi Tuhan Ram, itu benar benar mirip dengan Bunga, Ram”
“Apa itu mungkin??” Ucap Rama kepada dirinya sendiri.
Tanya segera menghantui perasaan Rama.
Ada apa dengan Bunga disana??, kenapa ia muncul di mimpi Pak Ahmad??, Apa benar yang waktu itu datang dan menguatkan dirinya ketika disiksa itu benar benar Bunga??


CrunchBreak : Apa yang akan terjadi selanjutnya??lalu siapakah orang di mimpi Rama??
Ahh..ceritanya sampai disini dulu ya..hehe
Salam kriuk kriuk selalu ^^v

Janji Bunga Bagian ke 2
..end..

Kramat Jati 19 Oktober 2011

0 komentar:

Posting Komentar