Sabtu, 19 November 2011

Janji Bunga (Part III)

(Jawaban)

Seminggu kemudian Rama keluar dari rumah sakit, oleh kesatuannya ia diberikan kesempatan cuti untuk memulihkan kondisinya. Sebenarnya Rama ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk bertemu dengan Bunga tapi hingga sekarang Bunga masih belum memberikan kabar kepadanya.
Bunga benar benar seperti menghilang dalam hidup Rama. Ia pun memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan bertemu dengan kedua orang tuanya. Ketika akan keluar dari rumah sakit, ternyata ada beberapa wartawan dari media cetak dan elektronik disana.
Keberadaan mereka disana memang untuk mencari berita tentang korban korban gerakan separatis kemarin. Tapi karena oleh pihak rumah sakit dan para Tentara keberadaan mereka dianggap akan mengganggu para pasien, maka mereka pun Cuma bisa menunggu di luar.
Rama yang baru keluar dari rumah sakit tentu saja langsung dikerubungi oleh mereka. Para wartawan pun segera menanyakannya banyak hal. Mulai dari awal mula ia tertangkap sampai harapannya terhadap kondisi di Aceh.
“Lalu apa yang ingin anda lakukan setelah ini saudara Rama??” Tanya salah seorang wartawan.
“Hemm..saya ingin kembali ke rumah dan memulihkan diri untuk sejenak. jawab Rama.
“Adakah orang yang ingin anda temui setelah pulang nanti saudara, Rama?? Tanya salah seorang wartawan lain.
“Tentu ada. Keluarga, sahabat dan tentu saja saya sangat ingin bertemu dengan pujaan hati saya.” Jawab Rama sembari tersenyum.
“Ciiieeeeeeeeee........” Ujar para wartawan serempak.
Setelah beberapa pertanyaan, wawancara pun segera diakhiri. Rama pun pamit kepada para wartawan dan meminta doa mereka untuk kedamaian di Aceh.
Rama pun segera kembali ke markas kesatuannya untuk mengambil beberapa barang miliknya sebelum kembali ke Jakarta keesokan harinya.


Sementara itu di Malang
Berita tentang gerakan separatis saat itu begitu ditunggu di tanah air. Banyak orang yang menunggu berita tentang para korban. Tentu saja kebanyakan mereka berharap yang terbaik untuk para korban.
Saat itu di berita sore, beberapa stasiun televisi menayangkan berita wawancara mereka dengan Rama. Ada seseorang yang begitu tertegun melihatnya, ia benar benar tak bisa berpikir kala menatapnya.
“Rama..kau masih hidup Ram??” Ujar orang itu. Air mata pun menetes dari wajahnya.

Malamnya..
Saat itu Rama sedang membereskan barang barang yang akan dibawa pulang bersamanya. Saat dia sedang membereskan beberapa barangnya tiba tiba ada seseorang yang memanggilnya.
“Ram,ada telepon tuh.” Rupanya itu Rahmat, temannya.
“Dari siapa Mat??” Tanya Rama.
“Ahh..gw lupa tanya, tapi dia bilang seh asalnya dari kota Malang. Jawab Rahmat seraya berlalu dari hadapannya.
“Malang?? Apa mungkin itu Bunga?? Tanya Rama kepada dirinya sendiri.
Tanpa panjang lebar Rama pun segera berlari menuju ke arah kantor, tempat dimana telepon itu berada. Langkahnya begitu terburu, seperti mengejar rindu yang selama ini dicarinya. Begitu sampai ia pun tak langsung memegang gagang telepon melainkan menenangkan dirinya dulu.
“Halo..disini Rama. Ujar Rama begitu nafasnya mulai bisa ia atur, sambil berharap bahwa telepon itu berasal dari orang yang disukainya.
“Ya Allah Ramaaaaaaaaa...kau benar benar masih hidup. Jawab suara di seberang sana dengan setengah berteriak.
“I..i..iya..Alhamdulillah Tuhan masih memberikan kesempatan kedua kepada saya. Tapi maaf ini siapa ya??” Tanya Rama dengan raut wajah sedikit kecewa, karena ia yakin suara yang didengarnya bukanlah suara Bunga.
“Ini aku Ram, Mbak Risma.
“Ya Allah mbak Risma, apa kabarnya?? sudah lama sekali ga bertemu.
Rama begitu senang mendengar suara itu.
Risma adalah kakak dari kekasihnya, Bunga. Sudah hampir 9 tahun Rama tak bertemu dengan dirinya.
Itu terjadi karena setelah lulus sekolah menengah atas, Mbak Risma memutuskan untuk kuliah di Jogja. Di sana pulalah ia bertemu dengan jodohnya dan akhirnya memilih menetap disana.
“Ngomong ngomong dari mana Mbak dapat nomor telepon ini??” Tanya Rama.
Mbak Risma pun menjelaskan bahwa ia mendapatkannya dari salah stasiun televisi. Memang saat itu banyak stasiun televisi memberikan bantuan kepada keluarga korban.
Saat itu mereka memberikan layanan telepon untuk pemberian informasi tentang para korban. Maklumlah saat itu berita tentang para korban begitu sulit didapat. Alasan yang dikemukakan adalah mereka tak ingin para korban merasa tertekan oleh pemberitaan yang berjalan.
Rama sendiri pun baru bisa mengabarkan kondisinya kepada keluarganya sendiri sehari yang lalu, ketika itu ia sudah diperbolehkan oleh pihak atasan.
“Ngomong ngomong, mbak kok bisa ada di kota Malang??”
Tak ada jawaban, hanya sebuah keheningan yang ditemui Rama. Tapi Rama tak berhenti bertanya.
“Bunga apa kabarnya mbak, disana pasti bertemu dengan dia kan?? Tanya Rama lagi.
Hening..
Selanjutnya yang didengar oleh Rama hanyalah sebuah tangisan dari mbak Risma.
Rama bingung, apa yang sebenarnya sedang terjadi. Perasaannya saat itu benar benar tak karuan.
“Ram..besok kamu bisa ke Malang??
“Bisa mbak, kebetulan saya sudah diberikan izin untuk istirahat terlebih dahulu. Tapi sebenarnya apa yang sedang terjadi mbak??ada apa dengan Bunga?? Tanya Rama lagi.
“Mbak tunggu yah kedatangan kamu di Malang besok. Jawab mbak Risma seraya mengakhiri teleponnya.
Sebuah jawaban yang tentu saja membuat hati Rama tak menentu. Hatinya benar benar diselimuti tanya kala itu. Malam itu Rama benar benar tak bisa tertidur karena terus memikirkan hal tersebut.


Keesokan harinya...
Sore harinya Rama pun sampai di kota Malang. Sepanjang perjalanan di pesawat ia hanya bisa tertidur. Semalam ia benar benar dibuat tak bisa memejamkan matanya karena bingung memikirkan apa yang sedang terjadi di Malang.
Di Bandara ia telah ditunggu oleh mbak Risma dan suaminya yang sengaja datang untuk menjemputnya.
“Loh Bunganya mana Mbak, ga ikut jemput?? Tanya Rama begitu melihat hanya mereka berdua yang menjemput.
Tak ada jawaban. Rama hanya melihat raut raut kesedihan dari wajah kecemasan dari wajah mereka.
Mereka pun langsung mengajak Rama pergi ke suatu tempat. Sepanjang perjalanan, Mbak Risma dan suaminya lebih banyak terdiam. Setiap kali Rama bertanya hanya dijawab seadanya oleh mereka berdua. Rama akhirnya menyadari bahwa ada sesuatu yang disembunyikan
Entah itu apa, yang jelas hatinya kini semakin tak karuan karena memikirkannya. Tentu saja hal itu membuat Rama semakin bertanya tanya pada dirinya sendiri. Rama semakin bingung ketika ia malah dibawa ke rumah sakit oleh Mbak Risma.
“Ada apa ini, kenapa malah dibawa ke rumah sakit??” Tanya Rama dalam hatinya.
“Ayo Ram, ikut mbak masuk ke dalam. Ujar Mbak Risma singkat.
“Ta..tapi mbak..sebenarnya ada apa ini??, kok saya malah dibawa ke rumah sakit??” Tanya Rama kepada Mbak Risma.
Mbak Risma hanya tersenyum kecil, tapi senyum itu seperti berbalas dengan rona kesedihan yang keluar dari wajahnya.
“Sudah, nanti kau akan mengetahui jawabnya.
Rama pun hanya bisa menuruti kata kata Mbak Risma, ia pun mengkuti langkah kaki mbak Risma masuk ke rumah sakit. Rama semakin bingung ketika ia dibawa mbak Risma masuk ke ruangan ICU. Sebelum masuk ia disuruh mengenakan baju safety dan juga masker.
“Mbak, sebenarnya siapa yang sakit?? Tak ada jawaban, Mbak Risma kemudian masuk ruangan terlebih dahulu.
“Bunga..lihat siapa yang datang berkunjung. Ujar Mbak Risma kepada seseorang yang terbaring disana.
Rama terdiam..
I..ini bohong kan?? Ujar Rama dalam hati begitu melihat siapa orang yang terbaring di hadapannya.
“Bunga lihat, Rama yang kau sayangi datang mengunjungimu,  kau pasti senang kan Bunga?? Ujar Mbak Risma lagi.
Rama masih terdiam, tangannya gemetar melihat pemandangan di depannya.
“Bunga..i..ini benar benar tidak terjadi kan?? ujar Rama dalam hati, berusaha meyakinkan dirinya lagi atas apa yang sedang dilihatnya kini.
“Kau pasti senang kan Bunga” Ucap mbak Risma lagi seraya tersenyum.
Hening..
Perasaan Rama begitu kosong saat itu, melayang layang hatinya melihat apa yang sedang dilihat oleh matanya.
Sosok yang terbaring itu benar benar Bunga, sosok yang sangat dicintainya. Bunga dalam keadaan terbaring dengan infus memenuhi hampir seluruh bagian tubuhnya. Untuk sekedar bernafas saja Bunga memerlukan bantuan dari sebuah selang yang disambungkan lewat tenggorokannya.
“Dia dalam keadaan koma Ram, akibat kecelakaan lalu lintas sebulan yang lalu. Ucap mbak Risma.
“Kata dokter kalau nasibnya baik, dia akan segera pulih tapi dia akan Cuma bisa berbaring seperti ini sepanjang hidupnya karena kedua tangan dan kakinya mengalami kelumpuhan.
I..ini bohong kan Bunga?? Ujar Rama dalam hatinya lagi.
“Ayo Rama, ajaklah Bunga bicara. Mbak rasa dia bisa mendengarmu, mbak yakin akan hal itu.
Rama terdiam, wajahnya benar benar diselimuti kalut saat itu. Rama pun tak kuat lagi dan jatuh tersimpuh di ruangan itu.
“Buuunnnggaaaaaaaaaaaa.....................” Teriak Rama yang tak tahan lagi menyaksikan apa yang sedang dilihatnya.

Bunga.. Bunga..
Apa yang terjadi denganmu sayang
Kenapa engkau terbaring disana
Apa kau tahu perasaanku kala memandangmu
Aku benar benar tak sanggup Bunga
Bunga
Kenapa denganmu sayang
Apa kau mengerti apa yang kini sedang melandaku
Aku benar benar tak sanggup Bunga
Aku hancur melihat dirimu
Aku tak sanggup Bunga

TBC (lagi...:Pv)

Kramat Jati 19 Oktober 2011

0 komentar:

Posting Komentar