Sabtu, 23 Februari 2013

HIU "Riwayatmu Kini"



Kamis 7 Februari 2013

Sekitar jam 10 malam lewat saya menonton sebuah acara di Kompas TV. Nama acara itu adalah “Berkas Kompas”. Berkas Kompas sendiri pada malam itu mengangkat topik tentang ikan hiu.
Lebih tepatnya seh tentang Pembantaian ikan hiu.
Berkas Kompas menyorot tentang lemahnya penegakan hukum terhadap para “penikmat hiu”.  Yah yang saya maksud dengan para penikmat disini adalah para pencari rezeki dari binatang yang sebenarnya sudah masuk hewan yang dilindungi. Kebanyakan dari mereka seakan begitu bebas untuk memperjualbelikan Hiu di pasaran. Tanpa ada yang mencegah,tanpa ada yang bisa melarang.
Patut diketahui bahwa per tahun jumlah hiu yang dibunuh bisa mencapai angka 100 juta ekor. Dan kita dengan lantangnya menyebut bahwa mereka adalah makhluk pemangsa yang ganas dan hewan yang patut untuk ditakuti.

Oh come on,ini bukanlah jaman dimana anda masih percaya dan ketakutan dengan kebenaran dari film JAWS.
Well sebagai contoh lihatlah diri kita sendiri,manusia.
Apa saja kita makan bukan,dari hal kecil sampai hal yang dianggap tabu sekalipun. Manusia adalah pemangsa teratas dalam rantai makanan di bumi ini. Dan mungkin karena itulah kita jadi lupa bagaimana memaknai dan mensyukurinya. Kita jadi tega memangsa segalanya,bahkan terhadap manusia yang lain.

Sometimes when we are at the top,humans forget how to be humanity.


Yang memprihatinkan dari permasalahan ini adalah sebagian besar masyarakat kita yang seakan tidak peduli dengan hal tersebut. Kalau bisa dikategorikan mungkin sudah bisa masuk kategori SIAGA 1.
Well saya pernah menonton di salah satu acara televisi yang bercerita tentang masakan ikan hiu. Nama masakan itu sendiri bernama “Baby Hiu”.
Namanya memang imut,namun masakan yang disajikan adalah sebuah pembodohan.
Pembodohan yang saya maksud disini adalah minimnya informasi yang diberikan. Yah sebenarnya bukan cuma informasinya seh,dari ditayangkannya acara itu aja sudah merupakan sebuah kebodohan.
Seperti namanya,hidangan yang disajikan adalah seekor ikan hiu. Diutamakan ikan hiu yang berukuran kecil.
Reaksi saya saat menontonnya “Bego banget neh acara,masak hiu kok dibanggain”.
Entah kenapa malah jadi geram dan emosi sendiri.
Apalagi ketika pembawa acaranya mengatakan masakan itu lezat banget.
Alamak bodoh kali ini orang,terlalu ingin menaikkan acara tersebut tanpa mempelajari apa yang akan dimakannya.
Well bagi yang belum tahu,menurut sebuah penelitian kandungan merkuri dalam tubuh hiu paling tinggi jika dibandingkan dengan binatang laut lainnya. Belum lagi buat para lelaki hal ini patut dicatat bahwa mengkonsumsi sirip hiu dalam waktu tertentu itu sama saja dengan penggunaan steroid jangka panjang yang konon dapat menyusutkan alat kelamin.
Nah loh hahahaha (tapi ini ciyus loh)
Selama ini, berita yang beredar di masyarakat bahwa sirip dan daging hiu banyak bermanfaat bagi kesehatan tubuh kita, misalnya saja kanker bisa dikurangi dengan mengonsumsi daging hiu secara teratur. Tapi, penelitian terbaru yang ditemukan para ilmuwan bertolak belakang dengan berita yang berkembang di masyarakat.
Penelitian studi ilmiah terbaru membuktikan bahwa sirip hiu dapat meningkatkan kasus Chondrosarcoma atau kanker tulang rawan, karena tulang rawan ikan hiu berisi 7398b kromosom dengan kadar merkuri tinggi yang mematikan.
Bahkan nelayan sendiri pun mengakui,bahwa hiu adalah hidangan yang tidak enak dibandingkan dengan hidangan laut yang lain.

Indonesia sendiri terhitung sebagai salah satu Negara paling parah untuk urusan pembantaian hiu ini. Badan Pusat Statistik (BPS) bahkan mencatat sekitar 434 ton sirip ikan hiu diekspor sepanjang tahun 2012. Nilai perdagangan tersebut mencapai US$ 6 juta atau mencapai Rp 57 miliar.
Nah kebayang kan berapa ekor hiu yang harus “dibunuh” untuk itu.
Well selain belum adanya peraturan perundangan yang jelas,bisa dibilang Negara ini sangatlah lembek dalam penerapan peraturan. Ga ada hukum yang jelas untuk pelaku perburuan hiu. Bahkan hiu bisa dijual bebas di pelelangan pelelangan ikan di Indonesia.
Bahkan di dalam mal mal di Jakarta sudah banyak yang menjual dan menyajikan hidangan Hiu.
Hiu asam manis,sate hiu bahkan sup hiu kini sudah masuk dalam daftar menu dibeberapa restaurant di Jakarta. Di beberapa supermarket bahkan sudah ada yang menjual ikan hiu secara terang terangan.
Harganya juga sekarang jauh lebih terjangkau. Satu hal lagi yang patut dicatat adalah,Indonesia adalah Negara didunia yang mengkomsumsi daging hiu secara keseluruhan. Dalam artian seluruh bagian tubuhnya dikomsumsi dan tak ada yang terbuang.
So cruel and stupid right?? but that’s the truth.

Lalu saya juga pernah membaca disalah satu berita online yang memberitahukan bahwa ada hiu di dalam salah satu mal di Jakarta. Eitss si hiu bukan salah habitat dan berencana belanja di Mal kok tapi lebih kepada apa yang disebut sebuah bisnis pertunjukkan (kejam).
Bilangnya seh buat edukasi dan pengenalan terhadap generasi muda.
Oh come on,ga perlu segitunya juga kan. Menaruh ikan pemangsa didalam sebuah aquarium kecil dengan segala keterbatasan.
Yah dengan teganya mereka memasukkan beberapa ekor hiu kedalam sebuah tangki dengan alasan untuk edukasi bagi para pengunjung mal. Bilang aja seh cari sensasi,biar mal yang dikelola oleh anda tampil beda dari yang lain.

Lagipula edukasi dimananya yah -__-zz

Bahkan menurut laporan para pengunjung,ada beberapa hiu yang mati.
Tapi disinilah pintarnya pihak pengelola,mereka segera menggantinya dengan hiu yang lain sehingga seperti tidak terjadi apa apa. Yang saya bingung tuh pemasoknya dari mana yah,kok bisa bisanya mendapatkan hiu hiu tersebut.
Tapi ketika saya berpikir lebih jauh dan berpikir lebih jauh,jawaban yang saya temui hanya satu.
Karena ini INDONESIA.
Yah inilah salah satu  ironi dari Negara ini. Asalkan anda mempunyai kuasa dan uang,kepentingan apapun yang ingin anda lakukan sekalipun itu salah maka itu akan menjadi benar di Negara ini. Diberikan kemudahan malah.
Hukum yang berlaku di Negara ini adalah hukum untuk sang penguasa,bukan untuk kehidupan banyak.
Sok tau lo ndar??
Saya gak sok tahu,tapi apa yang saya katakan ini setelah melihat banyak berita tentang Negara ini. Negara yang semakin jauh dari nilai luhur Pancasila,Negara yang semakin jauh dari jauh dari tujuan reformasi dulu,Negara yang semakin lupa akan arti dari kemerdekaan itu sendiri.
Nilai kemerdekaan hanyalah sebuah arti lepas dari Negara lain,bukan dalam arti memerdekakan pemikiran bangsa yang terjajah. Yah dengan lantang saya katakan bahwa mental Negara ini masihlah mental Negara terjajah dulu.
Menyedihkan tapi itulah kenyataannya.
Indonesia yang sekarang kita tinggali,secinta apapun kita terhadap Negara ini. Tidak mempunyai masa depan yang pantas dibanggakan jika keadaannya terus seperti ini.
Sebuah Negara yang bahkan tidak bisa menjamin pendidikan bahkan kehidupan warganya dengan baik.

Apa yang salah???

Padahal, ikan hiu merupakan species yang dilindungi berdasarkan Konvensi Perdagangan Internasional untuk Species yang Terancam Punah (Convention on Internastional Trade in Endangered Species/ CITES).
Pemerintah Indonesia sendiri ternyata mengeluarkan larangan penangkapan hanya untuk satu jenis hiu, yaitu jenis Alopiidae atau Thresher Shark yang dikenal dengan Hiu Monyet. Larangan ini dikeluarkan berdasarkan konsesus Komisi Tuna Internasional di mana Indonesia juga menjadi salah satu anggotanya. Sementara untuk hiu hiu lainnya masih bebas diburu dan diperdagangkan.

Yah selain belum ada peraturan perundangan yang jelas. Yang patut disorot adalah kepribadian warga Negara Indonesia itu sendiri. Well ini pendapat saya aja yah tapi menurut saya bangsa Indonesia adalah bangsa yang mudah terpengaruh dan didoktrin.
Ga percaya??
Lihat aja tayangan televisi di Negara ini. Jarang sekali ada tayangan yang bermutu. Padahal tayangan televise sebuah Negara membuktikan keadaan dari Negara tersebut.
Mulai dari trendsetter korea (yang memicu timbulnya boyband and girlband),Sinetron,Film Televisi (FTV),bahkan acara gossip yang ga ada habisnya dan cenderung lebay. Masyarakat kita lebih tertarik membicarakan Syahrini yang kelakuannya cetar menggelegar anehnya ketimbang membicarakan keberadaan orang hutan yang semakin habis habitatnya karena penebangan liar dan untuk industri.
Masyarakat Indonesia lebih tertarik membicarakan nasib Raffi Achmad yang masuk bui karena Narkoba ketimbang membicarakan ketimpangan pendidikan antara kota dengan daerah.
Lebih senang memakai barang bermerk mahal tanpa mengetahui bahwa barang tersebut menyebabkan limbah industri yang mengotori alam dan mengganggu kesimbangannya.
That’s hurt but that’s reality.
Sebagian besar masyarakat Indonesia cenderung tidak perduli dengan hal ini. Mereka lebih senang menghujat satu sama lain ketimbang membantu sesamanya.

Satu saat,hiu hanya akan menjadi sebuah cerita. Sebuah dongeng pengantar tidur untuk generasi kelak.

Pernah lihat cara orang Jepang menangkap hiu??well untuk urusan yang satu ini mereka adalah yang terkejam. Begitu ikan hiu ditangkap mereka akan segera memotong siripnya dan membuangnya ke laut.




Seharusnya Negara kita belajar dari Jepang.
Walau yang dipelajari adalah keburukan mereka dalam mengelola hasil laut itu sendiri. Bukan cuma pengelolaan namun juga eksploitasi berlebihan dan kebodohan dalam tujuan hasil sumber daya.
Lautan disekitar Jepang sendiri memiliki kelimpahan kekayaan hasil laut dikarenakan merupakan pertemuan dari dua arus yaitu arus dari utara yang dingin dan arus selatan yang hangat. Yah bisa dibilang lautan disekitar Jepang adalah pulau tropis bagi para ikan.
Karena itu setiap tahunnya banyak ikan dalam jumlah banyak disekitar perairan sana.
Saya pernah melihat beberapa acara disebuah stasiun televisi swasta yang menceritakan tentang nasib tuna sirip biru,lumba lumba dan ikan paus di Jepang.
Well sekedar untuk diketahui kini keberadaan Tuna sirip biru sudah sangat langka dilautan Jepang. Malah kebanyakan dari Tuna itu didatangkan dengan ekspor.
Negara asia dan Brasil adalah pemasok utama ke Jepang. Setiap harinya,bisa berton ton ikan tuna dibawa ke Jepang.
“Apa yang dari langit,tidak lagi mengalir dengan baik ke laut” Yah kira kira begitulah jawab salah seorang narasumber (yang merupakan ahli masakan sashimi ) ketika ditanya oleh pembawa acara mengenai keberadaan tuna sirip biru yang kian menghilang dari lautan Jepang.
Padahal menurut acara tersebut,Jepang boleh saja membantah hal tersebut. Akan tetapi akar persoalan hal tersebut sendiri bermula dari ekploitasi berlebihan yang dilakukan Negara tersebut.
Ambil contoh kasus untuk perburuan paus,setiap tahunnya perburuan paus yang dilakukan oleh para nelayan disana ke perairan Southern Ocean disponsori oleh pemerintah. Berbeda dengan masyarakat Lamalera yang masih melakukannya secara tradisional dan melakukannya hanya untuk dikomsumsi penduduk. Apa yang dilakukan pemerintah Jepang tentunya berbeda karena dilakukan dengan peralatan yang canggih dan menunjang untuk berburu paus dalam jumlah yang besar.
Jepang sendiri memburu paus dengan memanfaatkan sebuah celah pada moratorium global yang membolehkan pembunuhan mamalia laut tersebut untuk apa yang mereka sebut sebagai "riset ilmiah", walau daging hasil perburuan itu kemudian dijual secara terbuka di toko-toko dan restoran.
Sekarang beralih ke lumba lumba.
Pernahkah anda mendengar sebuah film yang berjudul “The Cove”. Jika anda ingin melihat ketamakan dan keserakahan manusia,saran saya untuk segeralah menontonnya.
Well saya sendiri pernah melihat film itu dari sebuah stasiun televisi swasta (tapi saya lupa yang mana stasiun televisinya). Film itu sendiri bercerita tentang “pembantaian” ikan Lumba lumba di daerah Taiji,Jepang. 
Saya ingat betapa di film itu sang pembuat film begitu kesulitan untuk mengambil gambar dikarenakan daerah taiji sendiri seakan begitu kompak untuk menutupi keberadaan pembantaian Lumba lumba ini.
Jadi inti dari film dokumenter tersebut adalah para nelayan Jepang menggiring sekitar 2.000 ekor lumba-lumba ke sebuah teluk terpencil, kemudian mereka memilih puluhan ekor untuk dijual kepada para pemilik akuarium dan menjagal sisanya untuk dikonsumsi dagingnya. Aksi perburuan lumba-lumba berlangsung dalam periode beberapa bulan.


Kasihan kan??seekor lumba lumba yang bersahabat pun bisa dihabisi dengan sadisnya. Kalaupun hidup,mereka hanya akan menjadi pajangan dalam aquarium aquarium orang yang mempunyai kuasa dan harta.
Dan jeleknya ini ikut merembet ke Indonesia. Well kalau anda sedikit peduli dengan keadaan Negeri ini,pasti pernah mendengar yang namanya sirkus lumba lumba. Yah saya ga perlu menjelaskan bagaimana detailnya,yang jelas saya sedih karena itu terjadi di Negara saya sendiri.
Beruntunglah ada sebuah gerakan yang dimotori oleh Choky (gitaris band Netral). Melalui petisi daring (online) yang dilakukan olehnya melalui situs Change.org,keadaan perlahan mulai sedikit membaik.

Lalu gimana riwayat si Hiu Ndar?? Langkah apa saja yang telah diambil??

Di luar negeri sendiri sudah terjadi gerakan massal agar eksploitasi hasil laut secara berlebihan ini dihentikan.
Bagaimana di Indonesia sendiri??
Saat ini dengan dipelopori oleh (embahnya jejak petualang) Riyanni Djangkaru,kampanye untuk menyelamatkan hiu kembali digaungkan melalui berbagai media,khususnya melalui social media. Jika biasanya kampanye untuk menyelamatkan hiu hanya dilakukan oleh orang pihak-pihak asing, kini Riyanni berusaha untuk menggandeng pihak-pihak lokal yang peduli dengan ekosistem laut dan populasi hiu khususnya.
Dalam sebuah wawancaranya beliau berkata “Kami (saya dan teman-teman) berusaha menggalang teman-teman lain yang peduli terhadap keberadaan hiu di dunia dan juga keberlangsungan ekosistem laut. Yang diharapkan dari kampanye #SaveShark ini adalah adanya regulasi dari pemerintah untuk melindungi perburuan hiu dan juga untuk mengedukasi masyarakat bahwa sebenarnya mengonsumsi hiu berbahaya bagi tubuh karena kandungan merkurinya yang sangat tinggi dan pastinya sangat berbahaya untuk kesehatan kita,” ujar Riyanni Djangkaru,salah satu motor penggerak dari #SaveShark.

Dalam kampanye #saveshark yang sedang digaungkan, Riyannni Djangkaru tidak menyerang industri ataupun nelayan, melainkan memberikan informasi mendalam pentingnya hiu dalam ekosistem. Sasaran utamanya adalah kalangan konsumen.
Menurut beliau,konsumen Indonesia saat ini sudah termakan oleh tren yang sedang berlangsung. Patut diketahui,bahwa di Indonesia sendiri makanan ini bukanlah lagi makanan yang mewah,harganya pun sudah masuk kategori terjangkau.
Atas dasar itulah,beliau giat mengkampanyekan perlindungan untuk hiu dan mencoba membujuk masyarakat untuk tidak mengkosumsi daging hiu lagi.
“Adanya hiu juga mengembalikan keberagaman ikan di meja makan Anda, lho, karena itu penting untuk hewan ini agar selalu ada"tukasnya lagi.

Hehh manusia memang salah satu makhluk terkejam. Bahkan saya percaya bahwa kiamat bukanlah diciptakan oleh Tuhan,tetapi oleh kita manusia. Bagi saya Tuhan terlalu baik untuk menciptakan sebuah kiamat. Lihatlah betapa kita dengan mudahnya merusak keseimbangan ekosistem.
Yang paling menyedihkan dari hal ini adalah bahwa kita tidak berbuat apa apa untuk itu. Cukuplah dengan tindak tanduk pemerintah yang tidak pernah konsisten dalam penegakan hukum di Negara ini. hanya berbuat seadanya saja dan mementingkan citra saja.
Mereka hanyalah pembuat peraturan tanpa tindak nyata untuk menegakkannya.
Saya tak menyuruh anda untuk peduli. Saya juga tak melarang anda untuk tidak melakukan perbuatan . Tapi yang paling saya minta dari anda adalah untuk sedikit belajar. Belajar untuk sekedar mengetahui. Bahwa kita (manusia) tidaklah hidup sendiri di alam ini.
Kita hidup dalam sebuah rantai yang bernama rantai kehidupan.
Saya tak akan menggurui anda dengan pelajaran bernama Piramida makanan. Tapi setidaknya mengertilah sedikit. Bahwa dalam sebuah piramida,apabila salah satu keseimbangan itu hilang. Maka alam akan mengalami keguncangan secara perlahan.
Saya berharap setidaknya kita bisa sedikit menghargai alam. Untuk Hiu sendiri saya berharap setidaknya masyarakat mulai belajar untuk menolak segala jenis hidangan dari hiu.
Mulailah dari diri anda sendiri dengan mengatakan tidak buat "hidangan hiu". Sebab saya percaya menularkan hal yang positif,walau berarti sedikit akan jauh lebih bernilai ketimbang berarti banyak namun melalui cara kekerasan.

Terakhir buat mbak Riyanni Djangkaru,Divemag,WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia),GreenPeace Indonesia dan buat semua rekan yang berjuang untuk Hiu,tetaplah bersemangat dalam menggalakkan kegiatan ini. Saya mendukung dan mendoakan setiap titik perjuangan kalian.
Kalau perlu buatlah hari Hiu sedunia. Hari untuk memperingati dan peringatan atas apa yang telah kita (manusia) lakukan di bumi ini. Mari dobrak tradisi dan beritahukan kepada dunia bahwa di Indonesia masih ada orang yang berpikiran luas dan tidak berbuat seenaknya terhadap alam ini.
Dan kalau semua itu menemui tembok tebal bernama rintangan,ingatlah selalu sebuah kutipan dari CEO dan pendiri Facebook, Mark Zuckerberg
When you give everyone a voice and give people power, the system usually ends up in a really good place.”
Suara dari satu orang mungkin tak akan terlalu didengar,namun apabila kita bersatu,segala rintangan yang menghadang pasti bisa dihadapi dengan lebih mudah.

Like Beatles said in one of lyrics from their song “Nothing you can make that can't be made.No one you can save that can't be saved.Nothing you can do but you can learn how to be you in time.It's easy.”

Yeah nothing we can do if we want to do it, right. So keep Ganbatte guys ^_^


Kramat Jati 21 Februari 2013


Credit : Fimela.com, kompas.com, divemag.com, okezone.com, analisadaily.com, detik.com


0 komentar:

Posting Komentar