Jumat, 15 Februari 2013

Rindu Ditawar Puisi




Kita pernah berdiri di sore serupa.
Aku menari.
"Aku memuja jemari" katamu.
"Aku memuja puisi" kataku
“Dan gunung-gunung yang kau tuju"
Sekali pernah kau genggam tanganku,
Di hutan dingin, di hadapan perapian.
Sekali saja. Dan kita tak bicara. Dan kita tak tidur hingga paginya.
Dan kita terus merindukannya.
Itu cinta, yang tanpa rasa sakit.
Yang rindu ditawar puisi.

Salemba Tengah, 24 Januari 2013.
Diansari

0 komentar:

Posting Komentar