Senin, 08 Agustus 2011

ASMARA KOLONG JEMBATAN

“Sedang apa kamu sayang??”Jule terkejut mendengar suara itu,belum selesai keterkejutannya,tiba tiba sudah ada yang memeluk tubuhnya dari belakang.
“Ah kamu sayang mengagetkanku saja”Suara Jule setengah melenguh begitu mengetahui siapa orang itu.
Dia adalah Romli,suami dari Jule.
“Bagaimana hasil pekerjaanmu hari ini sayang”Tanya Jule lagi kepada suaminya
“Alhamdulillah baik sayang,banyak hasil yang bisa kujual untuk esok hari”Jawab Romli,sebuah senyum hadir mengiringi jawaban itu.
“Kamu sendiri gimana??ngga bosen kan selama aku tinggal pergi”Ledek Romli kepada istrinya itu,maklumlah mereka masih pengantin baru.

“Ga dong,aku tadi abis dari rumah Bu Ati sayang??”
“Bu ati??ngapain sayang”
“Membantunya mengupas 2 karung bawang,kamu tahulah sayang pesanan dari seorang pedagang??lumayan loh sayang aku mendapat penghasilan neh”Ujar Jule seraya menunjukkan penghasilannya,selembar uang sepuluh ribuan.
“Alhamdulillah,terus kamu sedang apa sayang”Tanya Romli yang bingung melihat istrinya yang sedang memegang galah panjang dengan sebuah serokan besar di ujungnya,sejurus kemudian Jule mengarahkan galah itu untuk memunguti benda benda yang mengalir melewatinya.
“Sedang memunguti rezeki yang diturunkan oleh Tuhan sayang..hehe”
Mereka pun tertawa kecil!!
Buat Romli,Jule adalah seorang malaikat dalam hari harinya menghadapi kehidupan ibukota.
Entah jadi apa diri Romli jika tak mempunyai Jule dalam hidupnya.
“Kamu sudah makan sayang??”Tanya Jule begitu melihat suaminya tampak lemas saat beristirahat.
“Belum sayang”Jawab Romli singkat
Jule pun segera menyudahi pekerjaannya,lalu dengan cekatan segera menyiapkan makanan untuk suaminya.
“Makan dulu sayang,pasti kamu laper kan??”Ujar Jule sembari memberikan sepiring nasi beserta dengan lauk pauknya.
Hanya sepiring nasi sisa makan tadi pagi,dengan lauk ikan asin dan tempe hasil dari sisa makan kemarin.
“Sini sayang,temenin aku makan”Romli kemudian menarik tangan Jule untuk makan bersamanya.
“Ga ah sayang,aku ga mau??masih kenyang neh sayang”tolak Jule seraya memegang perutnya
“Yaudah,kalau begitu aku ga mau makan??abis kamu ga mau temenin aku seh”Ujar Romli sembari memiringkan wajahnya,ngambek.
“Duh sayang,manja banget seh kamu??yaudah,sini aku temenin”Jule akhirnya mau juga untuk menemani Romli.
Sesaat kemudian tampak mereka saling menyuapi satu sama lain.
Beratapkan langit malam,saat itu mereka lalui dengan penuh suasana kebersamaan.
Sesekali terdengar suara kendaraan yang lewat dari arah atas,dari arah bawah pun terdengar suara air yang mengalir begitu deras.
Mereka sudah sangat terbiasa dengan hal ini??
Sebuah hal yang lumrah karena mereka hanyalah penghuni kolong jembatan Manggarai,sebuah daerah di ibukota Jakarta.
Romli hanyalah seorang pemulung yang kesehariannya biasa bergelut dengan sampah di Ibukota,sedang Jule hanyalah seorang ibu rumah tangga yang kesehariannya biasa diisi dengan mengais rezeki dari aliran kali ciliwung.
Yuph..sekedar menyerok benda benda yang mengalir dari tempat tinggalnya.
Hari pun semakin beranjak malam,Romli pun segera mengajak Jule untuk tidur.
“Sini sayang,merebahlah didekatku??aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu”Ujar Romli sembari menggelar sebuah kardus untuk alas mereka tidur.
Jule pun segera merebahkan diri di paha Romli
“Sayang..tahukah kamu!!aku selalu bersyukur pernah mengenalmu..
Dirimu adalah penguat dalam tiap detak jantungku
Dirimu adalah nafas dalam setiap deru nafasku
Dirimu itu pelita sayang,yang selalu ada menemani tiap saat tergelapku
Dirimu ibarat pelangi sayang,memberi warna di dalam setiap langkahku
Tanpamu..
Aku mungkin akan meredup arti
Tercela di dalam kehidupan ini”

Tutur kata Romli melafadzkan kata demi kata untuk istrinya,Jule.
Jule hanya tersenyum lalu memandang wajah kekasihnya dalam dalam.
“Sayang..kamu tahu!!
Aku juga bersyukur karena mengenalmu..
Cintamu tulus semurni embun pagi
Kau selalu mengajarkanku untuk selalu mensyukuri hidup
Kau selalu menerima setiap kekuranganku
Rumah kita memang tak indah
Hanya beratap beton dan beralirkan air di bawahnya
Tapi kau selalu mengajarkanku sayang
Memang tak indah tapi dunia yang kita miliki luas
Tak terbatas oleh tebalnya beton di kepala kita
Tak terhentikan oleh derasnya aliran air di kaki kita
Kamu adalah malaikatku
Yang selalu menjaga tiap saat dalam hidupku
Cintamu itu cahaya tak terhingga
Membuatku kuat melewati segalanya”


Romli pun tersenyum mendengarnya,sebuah ciuman pun mengakhiri malam itu.
Tampak bahwa malam telah semakin beranjak,bulan pun tak tampak malu malu lagi ke peraduannya.
Suara angin berdesir lantang terdengar,seakan ingin menyatakan kesunyian malam itu.
Sunyi,seakan kota tak bertuan.

Menanti Pagi - Nandar Awaludin


Crunchy : Mungkin ini cerita tercepat yang pernah gw tulis.Inspirasinya seh gara gara waktu itu gw nonton Reportase Sore di Trans TV.
Saat itu sedang diwawancarai seorang pemulung yang tinggal di kolong jembatan manggarai.
Yah inti dari obrolan itu adalah sedikitnya pilihan yang dia punya selama hidup di Jakarta.
Yang paling gw suka adalah semangatnya,yang ga mau menyerah kepada kehidupan yang dia jalani.
Hebat..!!

0 komentar:

Posting Komentar