Minggu, 20 Januari 2013

Senandung Lirih






Saya tak tahu mengapa udara Jakarta terasa melankolis malam ini. Arus udara yang memecah malam menciptakan ruang sebuah kenangan. Terasa begitu memadati ruang hampa di kota ini. Menyapa diri dalam indahnya,mendekap erat dalam pesonanya.
Lampu lampu kota seakan meremang manja. Mengerlipkan pesona memanja mata.
Aku terteguk dalam gelak canda.
Tertegun dalam bias pesona maya. Diam muram menepi.
Kibas angin menamparku perlahan. Senandungkan rindu memuja,untuk wanita perebut singgasana jiwa. Sesap menyesap dalam liang hasratku.
Goda menggoda membakar gelora asmaraku.
Seketika itu padam. Kala aku tahu tak bisa memilikimu. Sekedar mendamba pun engkau redupkan.
Asaku meremuk redam,nyanyikan lagu sedih menyepi.

Tidakkah kau dengar,senandung lirihku?

Kramat Jati 20 Januari 2013

0 komentar:

Posting Komentar