Minggu, 30 Oktober 2011

Sesal



Sore itu saya berada di rumah Bibi saya yaitu Bi Erna,ketika itu saya disuruh oleh Ibu saya untuk mengantarkan Wajik dan Geplak pesanan Bi Rembang.
Ibu saya juga berpesan agar jangan lupa untuk mengambil uang pembayarannya.
Niat saya Cuma sebentar untuk berada disana karena sore itu saya masih ada jadwal untuk kuliah.
Tapi sial ketika itu Bi Erna sedang pergi mengantar Zahra,anak pertamanya yang kini sudah menginjak bangku SMP pergi ke pasar Pondok Gede untuk membeli suling.
Yah jadi dengan terpaksa saya menunggu sebentar,daripda nanti harus bolak balik mengambil uangnya.
Sore itu di rumah Bibi Cuma ada Nenek dan Citra,anak kedua Bi Erna.
Saya menghabiskan waktu saya disana dengan mengobrol dengan nenek saya.Nenek banyak bertanya tentang apa yang saya lakukan kini,tentang kuliah saya dan juga membicarakan keluarga keluarga kami.
Hingga pada satu pembicaraan nenek menyinggung sebuah masalah yang sedang menimpa mereka (Bi Erna dan nenek).

Saat itu Bi Erna sedang dilanda masalah,beliau sedang terlibat masalah karena terjerat hutang yang bisa dikatakan besar buat keluarga kami.
Beliau pun terpaksa menjual rumah yang sedang ditempatinya saat ini.
Walau saya tahu ini terjadi karena gaya hidup komsumtif Bi Erna tapi saya juga mengetahui masalah ini terjadi bukan karena beliau seorang.
2 bibi saya yang lain yaitu Bi Lastri dan Bi Tijah juga ikut berperan.
Malah bisa dibilang Bi Tijahlah yang mengajarkan gaya hidup komsumtif kepada Bi Erna.Tak terhitung deh masalah yang timbul di keluarga kami karena beliau.
Saat itu mereka bertiga dengan mudahnya meminjam uang kepada rentenir dan Bank dalam jumlah besar.Hasilnya nenek menceritakan bahwa beberapa kali debt kolektor datang dan menagih utang kepada mereka.
Tiap saat utang itu bertambah hingga jumlahnya menjadi ratusan juta.
Bi Erna pun dengan berat hati menjual rumah yang puluhan tahun ditinggalinya.
Biarpun itu bukan kesalahannya seorang tapi saya tahu Bi Erna akan berusaha untuk melunasinya sendiri.
Saya paling tahu sifat Bi Erna,karena sewaktu kecil saya selalu bersamanya.Bisa dibilang Bi Erna adalah ibu kedua saya.Karena dulu saya lebih senang bersama dia ketimbang orang tua saya sendiri.
Bi Erna adalah orang yang baik,sangat sangat baik diantara Bibi bibi saya yang lain.Kalau bukan karena beliau mungkin saya sudah meninggal ketika kecil.
Ketika kecil saya pernah masuk rumah sakit karena Muntaber.Yah pada intinya saat itu keadaan saya sudah lumayan parah bahkan selang infus saja sampai harus di kepala.
Saat itu orang tua saya tak mampu membayar biaya rumah sakit,bahkan ayah saya hanya mendiamkan dan menyalahkan semuanya kepada Ibu saya.
Tapi saya masih mempunyai Bi Erna,dialah yang sangat berjasa menyelamatkan hidup saya.Beliaulah yang membayar semua biaya rumah sakit.

Singkatnya,kini Bibi dan Nenek harus pindah ke rumah yang jauh lebih kecil.
Sebenarnya saya sudah mengetahui cerita itu dari Ibu saya.Tapi tetap saja mendengarnya langsung dari Nenek membuat perasaan saya benar benar hancur saat itu.
Saya sesali keberadaan saya sendiri yang belum bisa berbuat banyak untuk orang orang yang paling saya sayangi.

-_-

Saat itu Nenek juga menceritakan sedikit konfliknya dengan Bi Lastri.Nenek saat itu marah kepada Bibi karena masalah hutang itu.
Tapi Bi Lastri malah menyinggung kembali masalah masa lalu.
Bi lastri bertanya kepada nenek,kemana harta kakek yang jumlahnya banyak itu??
Hening...
Lalu nenek menceritakan masa lalunya,masa dimana Engkong masih hidup.Nenek bercerita bagaimana kurang pintarnya kakek saya.
Dulu kakek saya bekerja sebagai tukang sapu di sebuah sekolah.Oleh karena pekerjaannya itu dia diberikan beberapa petak tanah oleh Pemerintah.
Tapi semua itu lenyap tak berbekas,Engkong kehilangan semuanya karena memang kurang terpelajar.Engkong saya bisa dibilang tak mengenyam pendidikan dengan baik.
Bayangkan saja..
Beberapa meter tanah hilang begitu saja hanya untuk ditukar dengan Kasur (tempat tidur) dan Radio.
Belum lagi Kakek saya juga dulu gemar bermain judi dadu,makin hilanglah satu per satu yang dimilikinya.
Tampak rona rona penyesalan yang saya tangkap di wajah nenek.Saya benar benar sedih mendengarkan ceritanya,tapi saat itu saya harus kuat demi nenek saya.
Nenek juga tertawa ketika menceritakan beberapa hal,diantaranya ketika kakek saya membeli membeli beberapa karung tape singkong untuk dijual,tapi karena tidak laku akhirnya tape itu diberikan kepada orang orang di pasar.
“Aduh,,bener bener bego banget dah engkong lo” Ujarnya sembari tertawa.Tapi di tengah tawanya itu,nenek juga mengucurkan air mata.
Bodoh memang tapi itulah kenyataannya.Kakek saya benar benar tak bisa memikirkan usaha yang akan dijalankannya.
Nenek semakin geli saat mengenang teman kakek yaitu (saya lupa namanya) tapi sebut aja Pak Tohir.
Saat itu ketika Pak Tohir tak mempunyai beras,ia lalu mengambil beberapa genteng di atap rumahnya dan menjualnya hanya untuk membeli beras.
Onion Emoticon Set
Yah itu Cuma untuk menggambarkan betapa kurang berpendidikannya orang orang jaman dulu.Dengan ilmu seadanya maka hasil yang didapatkan pun Cuma seadanya.
Saya sangat bersedih untuk hal ini,ga terbayang deh kalau semua hal dari kakek itu masih ada.
Entah seperti apa??
Mungkin akan ada lebih banyak senyum di wajah keluarga saya,mungkin saya tak akan pernah menunda nunda keinginan saya untuk bersekolah setinggi tingginya.
MSN Onion Emoticon
Tapi itulah kenyataannya,biar pahit tapi itulah yang namanya kehidupan.Selalu ada makna dalam setiap perbuatan.
Apa yang sudah dilakukan oleh Kakek saya,itu adalah sebuah kesalahan yang tak boleh terulang.
Di akhir obrolan nenek mengatakan sebuah hal kepada saya.
“Makanya Ndar,lebih baik mati ninggalin ilmu ketimbang mati meninggalkan harta”
Nenek hanya tertunduk bersedih setelahnya,beliau seperti sedang mengenang segala hal yang dulu terjadi.
Saya hanya mengusap ngusap punggungnya mencoba memberikannya kekuatan akan cobaan yang kini sedang dialami oleh keluarga kami.
Tak lama Bi Erna kembali.Dia minta maaf karena agak lama,lagipula dipikirnya saya tak akan kesanan sekarang.
Setelah meminta uang wajik dan geplak,sebenarnya mau langsung ke tempat kuliah pada saat itu.
Tapi saya ditahan sebentar karena bibi sudah membelikan bakso buat saya.
Karena ga enak akhirnya saya makan dulu disana,biarlah walaupun masuk kuliahnya nanti pasti agak telat.
Suasana saat itu sangat ramai.
Bi Erna,Nenek,Zahra,Citra,dan juga ada Desta (anak kedua dari Bi Lastri).
Saya benar benar merasakan kehangatan disana.
Setelah magrib saya pun memutuskan untuk berangkat ke tempat kuliah.Dalam perjalanan entah kenapa ada perasaan yang begitu kuat pada diri saya.
Ada sebuah janji yang begitu terpatri di hati saya.Begitu besar keinginan saya untuk mewujudkannya.
Keinginan kuat untuk menjadi orang yang berhasil,keinginan untuk menjadi orang yang berguna untuk orang orang yang saya sayangi.
Saya sangat ingin membalas jasa jasa mereka,saya ingin menjaga mereka.
Saya Cuma bisa berdoa dan berusaha,semoga saja keinginan itu bisa menemui titik terang nantinya ^^

Kramat Jati 30 Oktober 2011



0 komentar:

Posting Komentar