Minggu, 09 Oktober 2011

Untuk Ana

Alhamdulillah yah bisa sampai ke postingan yang ke 50.
Haahh..masih butuh banyak belajar dan saya akan terus belajar.Untuk postingan ke 50 ini saya persembahkan sebuah cerpen aja deh.
Fiksi atau bukan??
Sebagai penulis saya cuma bisa katakan selamat membaca dan menikmati ceritanya..hehe ^^

Untuk Ana



Kamu ga pernah mengerti
Dengan apa yang kamu rasakan
Sama halnya seperti Ana
Tidak pernah mengerti
Dengan apa yang dia rasa
Rasa ini alami
Rasa ini anugrah
Bisa datang kapan saja
Tanpa disadari
Ana juga tak pernah menyangka
Kenapa mesti kamu yang menyita pikirannya
Dulu..
Memang Ana tak begitu mengenalmu
Hanya nama dan wajah yang ia tahu
Sekarang..
Kamu dekat
Mungkin...sangat dekat..
Tapi tetap saja kamu bagai misteri buat dia
Dengan meninggalkan beribu tanya dalam benaknya
Jika bisa menepati janji itu
Tepatilah..
Jangan hanya mengumbar janji-janji palsu
Kepada setiap hati kemudian meninggalkannya
Karena..
Ana akan menunggumu di ujung jalan itu
Selalu menunggumu...


-_-

Sore itu Agung masih berada di sekolah karena ia masih mengikuti kegiatan ekstrakulikuler teater di sekolahnya.Ketika break latihan ia pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di dekat kantin Pak Karman.
“Fiuhh..tumben neh lama banget latihannya”Ujar Agung sembari membuka air mineral yang baru saja dibelinya di kantin.
“Yah lo maklumin aja Gung,kan sebentar lagi udah mau pentas”Jawab orang disebelahnya,Reza.
“Yuph,apalagi pentasnya di Bulungan??pasti berat-berat tuh lawannya”Tambah Ocha.
Saat mereka tengah asik memperbincangkan masalah pentas esok,tak jauh dari arah kelas di sebelah kanan mereka keluar beberapa orang wanita.Ternyata mereka adalah teman-teman sekelas Agung yaitu Tya,Dita,Ana,Devi,Fitri dan Nita.
“Loh kalian belum balik”Tanya Agung begitu mereka berpapasan.
“Belum gung,baru aja selesai eskul volley tadi”Jawab Nita
“Ohh..geto,pantesan hawanya ga enak banget dari tadi..hehehe”
“Sial lo gung,cakep begini mana bisa menimbulkan hawa ga enak”Ujar Tya sembari menggoyang goyangkan tubuhnya yang gempal.Kontan saja hal itu langsung membuat semua yang melihatnya tertawa.
“Agung sendiri belum balik??”Tanya Fitri dengan suara lembutnya
“Belum,masih harus latihan.Mungkin agak malam baru bisa balik”Jawab Agung
“Awas lo Gung ntar dicariin emak lo lagi..ahahaha”sambung Tya.Dia memang paling suka menggoda Agung.
Setelah mengobrol sebentar mereka pun segera beranjak pulang.Saat itu Agung pun segera kembali berlatih bersama kawan kawan teaternya.
Baru sebentar ia latihan ia lalu melihat kawan kawan kelasnya yang tadi sudah pamit untuk pulang kembali masuk ke dalam sekolah dalam keadaan setengah berlari.Mereka pun menuju ke ruang kelasnya lagi yang terletak paling pojok di sekolah itu.
Belum hilang kebingungannya ia menjadi semakin bertambah bingung karena tak jauh dari kawan kawannya itu mengikuti seorang pria tinggi kurus.
Agung kenal orang itu,dia adalah Rusdi.Dia adalah alumni di SMAnya,kehadirannya di sekolah saat itu karena ia termasuk mentor di eskul volley.
Bisa dibilang sebagai pelatih.
“Ahh sudahlah”Gumam Agung dalam hati.Tapi saat itu latihan kembali ditunda sebentar karena pelatih kami Kak Ronald dipanggil oleh Guru pembimbing.
Agung pun kembali beristirahat di dekat kantin Pak Karman.Baru sebentar ia duduk ia sudah dipanggil oleh seseorang.
“Gung..Aguunggg......” Agung bingung dari mana arah panggilan itu datang,karena yang memanggilnya sambil berbisik.
“Gungg...Agung Oooonnn arah sini wooyyyy”Ujar suara itu lagi,ternyata suara itu datang dari arah lorong menuju kelasnya.
“Tya..Nita”gumamnya pelan begitu mengetahui siapa orang yang memanggilnya.Agung bingung kenapa mereka sampai mengendap ngendap seperti itu,seperti takut akan sesuatu.Lalu mereka membuat gerakan memanggil dirinya.
“Sini..sini,ada perlu gw sebentar”Ujar Nita pelan.
Agung segera saja menurutinya dan bergegas menuju mereka.
“Ada apaan seh??”Tanya Agung.Bukan jawaban yang didapat tapi Agung segera saja ditarik mereka menuju ke depan kelasnya.Disana ia melihat Dita,Ana,Devi dan Fitri seperti sedang mendiskusikan sesuatu.
“Loh kalian ga jadi balik”Tanya Agung pada mereka semua.Awalnya hanya keheningan yang ditemui Agung.Tak lama Fitri pun mulai menjelaskan.
“Gini Gung,kami butuh sedikit bantuan lo neh”Ujar Fitri
“Bantuan apa”
“Lo liat kan Gung cowo di depan yang tinggi kurus itu??”
“Ohh..Rusdi bukan”
“Iya..loh lo kok kenal??”
“Kenallah..dia kan populer di kalangan anak volley..hehehe”
“Yowesss..jadi gini loh Gung,dia tuh suka sama Ana??Nah si Ana udah bilang ga suka sama dia.Tapi orangnya masih ngotot dan tetep kekeuh mau ngomong sama Ana lagi”
“Lah terus apa hubungannya sama gw??”
“Ga ada hubungannya seh,kami Cuma minta bantuan lo aja sebentar”Ujar Dita
“Bantuan apa dah??”
“Bantuan ngeluarin Ana dari sini,lo pura pura jadi cowonya dan nemenin dia”Terang Dita lagi.
“Hahh..cowonya Ana???”
“Iya,Cuma sampe depan dan kami naik angkot doang kok Gung”Ujar Dita lagi.
Ana yang sebenarnya paling butuh bantuan Cuma terdiam saja dan hanya mendengarkan pembicaraan kami,wajahnya tampak begitu pucat seakan menandakan kepanikan yang tengah melanda dirinya.
Memang Ana adalah anak yang kikuk,agak sulit untuk berbicara dengannya.Dengan jilbab putih dan sifat tertutupnya jadilah ia seperti sebuah misteri buat teman yang lainnya.Parasnya pun biasa saja,entah apa yang membuatnya menarik.Bola mata dan hidungnya yang besar dan sangat pendiam di kelas.Agung bertanya dalam hati,apa yang membuat Ana menarik??
Belum lagi di kelas Ana biasa dipanggil si bebek oleh teman yang lain,itu merajuk pada cara jalannya yang jinjit jinjit mirip sekali dengan bebek.
Agung yang tahu saat itu dirinya sedang dibutuhkan ingin meledek mereka (terutama Ana) sebentar.
“Ahh..tapi kayanya gw ga bisa deh,sebentar lagi latihannya dah mau dimulai tuh”Ujar Agung sembari menunjuk ke arah lapangan Sekolahnya.
Kontan saja jawaban itu membuat keberatan dan membuat suasana menjadi gaduh.Teman temannya protes akan jawaban itu,terjadi perdebatan sengit.Bahkan hampir terjadi pertumpahan darah (hahaha..becanda).
Agung bukannya tak mau,hanya saja ia agak malu dalam melakukan perannya itu.Tapi pada akhirnya ia luluh juga setelah melihat usaha teman temannya yang tak kenal lelah dalam membujuknya.
“Okeh deh,Cuma deket deketan aja kan??”Tanya Agung lagi kepada teman temannya.
“Iya,yang penting si Rusdi ga terlalu curiga aja”Jawab Fitri
“Deket deketan kaya gini kan”Ujar Agung seraya mendekati Ana,lalu ia menggenggam tangan Ana.
“Yeeeee.....itu mah maunya lo”Ujar teman temannya serentak.
Agung hanya tertawa mendengarnya,sementara Ana hanya tertunduk diam.Tampak wajahnya memerah karena menahan rasa malu.
“Yaudah yuk buruan,nanti terlalu sore neh pulangnya”Rajuk Dita kepada teman temannya.
“Iya sebentar,Gung sini”Ujar Tya,ia lalu mengatur agar Agung berdiri berdekatan dengan Ana.
Lalu mereka semua pun berjalan keluar dengan Agung dan Ana berjalan berdekatan,dengan yang lain bisa dibilang berjalan hanya sebagai pengiring.
Ketika keluar dari lorong kelas,benar saja dugaan mereka semua bahwa Rusdi masih menunggu Ana.Ia duduk di dekat kelas tak jauh dari kantin Pak Karman,saat itu ia tengah ngobrol dengan temannya.
Dan untungnya semua yang direncanakan oleh teman-temannya berjalan lancar.Walau rencana sederhana tapi Rusdi benar benar tak berani untuk mendekati Ana.
Ia terpaku dan hanya bisa memandang saja,dia hanya bisa melanjutkan pembicaraannya dengan temannya.
Agung terus menemani Ana dan teman-temannya hingga sampai gerbang sekolah.Sekedar memastikan bahwa teman temannya itu sudah naik angkot dan aman dari kejaran Rusdi.
“Makasih ya Gunggg...”Teriak teman temannya dari dalam angkot.
Agung hanya membalas teriakan mereka dengan lambaian dan sebuah senyum.
“Ada ada aja dah ah”Tawa Agung begitu angkot itu perlahan menjauh,sambil berlalu masuk ke dalam sekolah.

-__-

7 tahun kemudian. . .

Sabtu itu teman teman SMA Agung mengadakan reuni,itu adalah reuni pertama setelah mereka lulus.
Saat itu mereka mengadakan reuni di rumah salah satu temannya yaitu Maria.Suasana sangat ramai,kami semua tertawa sambil mengenang masa masa yang lalu.
Yah walau tidak semua temannya datang karena jarak atau sedang mempunyai kesibukan yang lain,tapi Agung cukup senang karena bisa bertemu sebagian dari teman-temannya lagi.
Apalagi ketika ia melihatnya...
Sebelum menuju tempat reuni ia janjian untuk bertemu dengan temannya yaitu Adul,Mail,Yoyo dan Arif terlebih dahulu.Mereka berjanji untuk bertemu di rumah Adul kecuali Yoyo yang baru akan bertemu mereka di pinggir jalan tak jauh dari rumah Maria.Karena Agung lupa lupa ingat dengan rumah Maria,jadi ia sempat terlewat sedikit dari gangnya.Sesampainya di pinggir jalan,Agung segera menghubungi Yoyo.Yoyo pun menjawab untuk menunggunya sebentar.
Ketika mereka sedang menunggu Yoyo tak disangka olehnya disana mereka bertemu dengan temannya yang lain.
Saat itu mereka bertemu dengan Umar,Adi,Amad,dan Lukman.Tak lama dari arah angkot Agung juga melihat beberapa temannya turun dari sana yaitu Dita,Ana dan Yanti.
Okelah to the point aja,untuk temannya yang lain Agung tak merasa terkejut sama sekali.Tapi jika ditanya tentang Ana,ia takkan bisa menjawabnya.
God..Ana sudah sangat berubah,Gadis yang dulu Agung kenal selalu memakai jilbab dan pakaian tertutup kini mengurai rambut indahnya dengan bebas dan berpakaian formal.Wajahnya ah wajahnya,Agung jadi bertanya pada dirinya sendiri “Apa benar dia Ana yang dulu kukenal??”
Agung sempat tertegun sesaat dan tersenyum sendiri.
“Si bebek udah berubah jadi Angsa”Gumam Agung dalam hati
“Hoii..gung pa kabar,bengong aja dari tadi”Ujar seseorang membangunkan Agung dari lamunannya.
Ternyata itu Dita,yang sudah berada di dekatnya.
“Ahh..lo Ta,ganggu konsentrasi gw aja”
“Caelah mang konsentrasi ngapain seh”Ledek Dita
“Ada deh,mau tahu aja..hehe”
“Eh by the way pa kabar Gung,ga kangen apa ma gw??”
“Dikit”Ujar Agung seraya menunjukkan takaran rindunya dengan kelingking.
“Ahh..lo tuh mah dari dulu tega banget ma gw”Ujar Dita sembari mencubit Agung
“Hahahaha...becanda ta,gw kangen kali ma lo!!kangenlah ma kalian semua”
Dita hanya tersenyum mendengar jawaban itu.
Dalam candaannya dengan Dita,tanpa diduga Ana dan Yanti mendekat juga untuk memberi salam.Agung tentu saja gelagapan dengan hal itu tapi ia berusaha tetap stay cool.
Yah pokoknya jangan sampai bertindak yang memalukan pikirnya.
“Agung apa kabar??”Tanya Yanti dan Ana kepadanya
“Baik kok,kalian sendiri apa kabar??”
“Baik baik juga kok,oh iya kok kalian semua ngumpul disini??ga ke rumah Gina”Tanya Yanti.
“Ntar yan,ini lagi nunggu si Yoyo sebentar”
“Ohhhh.....geto”
Agung kembali terdiam ketika melihat Ana.Ana yang merasa dirinya sedang diperhatikan oleh Agung tentu saja segera menanyakan.
“Kenapa Gung??Kok bengong aja”
“Ga apa apa kok An,aneh aja”
“Aneh..??Aneh kenapa deh”
Belum sempat Agung menjawab,ia melihat kedatangan Yoyo.Yoyo yang baru saja datang segera meminta maaf pada teman temannya itu.Mereka pun lalu segera berangkat menuju rumahnya Maria.
Sepanjang reuni pandangan Agung hanya teralihkan oleh Ana,tapi begitu sulit untuk mendekatinya.
Selain karena dari Agung sendiri,saat itu Ana juga selalu menempel pada teman teman wanitanya.Lama Agung berpikir akhirnya jawaban itu malah datang sendiri.
Saat itu Maria membawakan kertas dimana anak anak disuruh untuk menulis nama dan nomor teleponnya disana.
Maklumlah,untuk reuni kali ini kami benar benar hanya mengandalkan Facebook.
Eniwei disanalah kesempatan itu terbuka??
Agung segera saja mencatat nomor Ana yang sudah terlebih dulu mengisi kertas itu.Agung benar benar tak berani untuk memintanya secara langsung.

-__-

Seminggu setelah reuni itu,Agung baru berani untuk menghubungi Ana.Itupun dilalui dengan kegalauan yang luar biasa.Siang malam Agung berpikir apa yang harus dikatakannya kepada Ana,bagaimana cara memulai pembicaraan dengannya,alasan apa yang harus diutarakannya.
Pada hari itu,keberanian yang selama ini dicarinya pun kembali.
Walau sedikit akhirnya ia memberanikan diri untuk sms Ana.
“Haii..boleh kenalan ga??”
“Ini siapa ya??”
“Baru minggu kemarin ketemu pas reunian..hehe”
“Hemm..siapa seh??”
“Agung..”
“Ohh..Agung toh,gw pikir siapa.Btw dapet nomor gw dari mana”
“Nyolong,dari kertasnya Gina..haha”
“Pantesan”
Ana Cuma tertawa saja mendengar jawaban itu,Agung senang pada akhirnya ia mulai bisa ngobrol dengan Ana.Walau Cuma sekedar smsan.
Beberapa bulan setelahnya Agung pun semakin dekat dengan Ana.Jauh di luar perkiraan Agung,Ana adalah orang yang asik buat diajak ngobrol.
Tiap malamnya ia habiskan untuk berbicara dengan Ana.Semakin lama perasaan yang selama ini terus berdebar di dadanya tak lagi terbendung.Perlahan Agung pun yakin dan mulai memantapkan hatinya untuk mendekati Ana lebih jauh.Apalagi belakangan ia ketahui bahwa Ana juga masih sendiri.
Hingga..
Hari minggu itu Agung berencana untuk berkunjung ke rumah Ana.Agung sama sekali tak bilang terlebih dahulu kepada Ana,ia juga tak mengetahui dimana letak rumahnya tapi ia yakin bahwa ia bisa menemukannya.Yang jelas ia mengetahui rumah Ana hanya dari buku reunian sekolahnya.
Siangnya Agung pergi dulu untuk membeli komik pesanan temannya,ia pun pergi mencarinya di toko buku di salah satu Mal di daerah Cijantung.Setelah menemukan apa yang dicarinya Agung berencana mencari rumah Ana.Langkahnya terhenti ketika ia melihat Toko aksesoris disana.Ia melihat sebuah gantungan handphone kecil disana,bentuknya malaikat kecil sedang memegang tulisan “4U”.
“Wah..bagus juga neh kalo diberikan untuk Ana”Gumam Agung dalam hati.
Agung pun lalu membelinya,ketika ia ingin segera beranjak pergi dari toko itu Agung mendengar suara seseorang memanggilnya.
“Loh..Agung???”
“Amara...”
Hening
Agung tak mampu berkata apapun lagi dari mulutnya.

-___-

“Kamu apa kabarnya Gung??Lama yah ga ketemu”Ucap Amara memulai pembicaraan
Agung hanya terdiam
“Gung..kamu apa kabarnya??”
Agung tetap terdiam
“Gung...”Ucap Amara pelan sembari berusaha memegang tangan Agung
“Apa hanya itu yang ingin kamu katakan Ra??”Jawab Agung
“Kalau iya,aku mohon lepasin tanganku”Sambung Agung seraya berusaha melepas tangan Amara.Tapi tangan Amara semakin erat mendekapnya.
“Gung tolong dengerin aku dulu”Ujar Amara berusaha meyakinkan Agung kembali
“Apa lagi yang harus didengar,semuanya udah jelas kan”
Amara hanya terdiam mendengar kata kata itu,air mata mengalir pelan membasahi kedua pipinya.
“Semua udah jelas kan,kau yang meninggalkanku begitu aja”Sambung Agung setengah berteriak.Tanpa mereka sadari,tingkah laku mereka berdua menjadi perhatian oleh para pengunjung Mal yang lain.
“Sudahlah ra,biarin aku pergi”
“Tapi Gung,aku mau buat semuanya jelas dulu diantara kita??aku juga ga mau terus terusan merasa bersalah sama kamu”
Agung terdiam,ia tak tega juga melihatnya.
Amara adalah mantan pacar Agung.Agung mengenal Amara ketika ia masih kuliah dulu,mereka berkenalan karena sering menaiki jurusan Bus yang sama.
Hampir selama 3 tahun mereka berpacaran hingga di pertengahan tahun 2010 Amara menghilang begitu saja.
Tak ada kabar sama sekali kemana Amara pergi.
Bahkan rumah yang keluarga Amara tinggali pun sudah tidak ditempati.Agung sudah berusaha menanyakan kepada semua yang mengenal keluarganya tapi jawaban yang didapat hanya sebuah gelengan kepala.
 “Yaudah,tapi jangan ngomong disini yah”jawab Agung
Amara menurut saja,Agung lalu mengajak Amara pergi ke taman tak jauh dari Mal tersebut.
Sesampainya disana suasana kembali hening,tak ada yang memulai pembicaraan.
“Gung”
“Hemmm....”
“Aku mau minta maaf”
“Buat??”
“Karena ninggalin kamu tanpa ngasih alasannya”
 “Heehh..apa perlu aku tahu itu sekarang??”
Hening
Amara lalu menatap mata Agung dalam dalam.Ada sebuah tanda tanya besar yang menggantung disana.
“Ya..kamu harus tahu,karena aku mau semuanya jelas”
“Jelas??jelas untuk apa”
“Untuk kita berdua Gung”
Agung tertunduk,tak sekalipun ia berani menatap mata Amara.Ia sangat bingung saat itu,disaat ia mulai belajar untuk melupakan kisahnya dengan Amara tapi kini Amara malah hadir di hadapannya.
Tuhan..betapa adilnya engkau ini.
“Aku dijodohkan Gung”
“Hahh....”
Tak ada jawaban lagi dari Amara,ia hanya tertunduk diam setelahnya.
“Terus kamu menerimanya??”
“Ya..karena aku harus”
“Harus..??”
“Ya..karena itu sudah ditakdirkan dan menjadi tradisi di keluargaku”
“Tradisi??jadi kau menyerah pada tradisi itu??”
“Tidak..”
“Lalu kenapa kau masih menerimanya”
“Aku hanya tak ingin orang tuaku terus bertengkar karenanya,aku tak ingin mereka bercerai hanya karenaku”
Terang Amara singkat,air mata mengalir pelan membasahi kedua pipinya.Agung tak tega juga melihatnya.Apalagi setelah ia mengetahui kenyataan yang terpapar di depannya.Sebuah pilihan pahit yang harus dilalui Amara.
“Kita pindah tempat ra???”
“Hahh....”
“Kamu ga keberatan kan”
Amara hanya menggelengkan kepalanya tanda setuju,Agung lalu membawa Amara pergi ke Setu Babakan.Tujuan Agung kesana ingin membuat Amara tenang dulu,selain itu ia juga masih penasaran dengan apa yang terjadi kepada Amara selama ini.
Lebih dari setengah tahun yang lalu,Amara menghilang begitu saja dari hidup Agung.
“Jadi selama ini kamu pergi kemana Ra??”
“Aku kembali ke Surabaya Gung,untuk mengurus pertunanganku”
Amara adalah orang asli Surabaya,dia pindah ke Jakarta baru pada tahun 2002.Saat itu dia baru lulus SMP dan melanjutkan sekolahnya disini.Agung bertemu dan mengenalnya pada tahun 2006,saat ia masih kuliah.Pada saat itu Amara bekerja di salah satu Mal di bilangan Fatmawati.
“Kenapa kau tak pernah berkata apapun Ra??Kau tahu betapa gilanya aku memikirkanmu”
Amara terdiam,ia menatap mata Agung.Hanya ada kekosongan yang dilihatnya.
“Karena aku tak mau menyakitimu Gung,aku terlalu menyayangimu”
Hening..
Air mata kembali meleleh diantara kedua pipinya,tangis itu begitu melukai kecantikan Amara.
Agung hanya menghela nafas panjang mendengarnya,ia lalu menghampiri Amara dan menghapus air matanya.
“Kapan kamu menikah Ra??”
“Juni nanti Gung!!”
“Juni??masih 3 bulanan lagi ya”
“Itu karena aku harus menunggu dia kembali dari tugasnya”
Amara lalu menjelaskan bahwa calon suaminya adalah seorang pelaut,calon suaminya merupakan anak dari sahabat baik ayahnya.
“Gung”
“Hemm...”
“Aku masih belum bisa melupakanmu Gung”Ucap Amara pelan
Agung yang mendengarnya Cuma bisa menatap Amara.Ada sebuah keinginan tulus disana,Agung tak mengerti itu apa.
“Apa kita masih bisa seperti dulu lagi Gung??”Sambung Amara lagi
“Entahlah..aku tak pernah tahu!!Tapi yang pasti aku masih belajar melupakan dirimu.Begitu sulit Ra,melupakan apa yang pernah terjadi diantara kita dulu.Aku begitu kehilanganmu dalam malam-malamku,bahkan aku tak tahu kemana melarikan keluhku.Dan kini ketika aku mulai mencoba merajut hidupku kembali.Kau kembali dengan jawaban yang hanya bisa membuatku tenggelam dalam kehampaan”Jawab Agung,Amara hanya menangis mendengarnya.
“Tapi aku senang karena akhirnya aku bisa bertemu denganmu dan mendapat jawaban dari mulutmu sendiri,itu sudah cukup untuk menjawab segala tanya yang terpendam selama ini”Sambung Agung lagi.Senyum menyimpul dari mulutnya.
“Siapapun kelak jodohmu,ia pasti sangat beruntung Ra karena bisa memiliki wanita sepertimu”
Amara tersenyum mendengarnya,entah kenapa perasaannya menjadi kuat kembali saat itu.
“Gung maafin aku”
“Untuk apa??”
“Atas semuanya”
“Heehh..aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kau mengucapkannya”
Amara terdiam mendengarnya
“Yah..walau awalnya emang agak sulit seh,tapi kau tahu sendiri sifatku seperti apa??”
Amara kemudian tertawa kecil mendengarnya.Bagi Amara,Agung memang pribadi yang rumit dan menyebalkan,tapi ia juga selalu mengetahui bahwa Agung juga pribadi yang baik,lucu dan kerap menolongnya.Tak pernah sekalipun dalam hubungan mereka terlibat pertengkaran,karena Agung selalu mengalah terhadapnya.
“Makasih ya Gung”
Hanya sebuah senyum yang keluar sebagai jawaban,Agung lalu membelai kepala Amara.Ada sebuah rasa kehilangan juga sebuah kelegaan yang kini berada di hatinya.

-____-

Entah kenapa setelah bertemu Amara,hati Agung mulai meragu lagi.
Sebuah keraguan bahwa ia takkan bisa menjaga cintanya lagi,lama Agung terdiam.Banyak hal yang dipikirkannya malam itu.Hingga pada suatu titik ia memikirkan wanita yang kini sedang meraja di hatinya.
Ana..
Tiba tiba Agung merasa jatuh kala memikirkannya.Ada sebuah beban yang kini malah menggantung di hatinya.
Hari itu Agung menulis sebuah puisi,ia melarikan semua keluhnya disana.Agung lalu sengaja menaruhnya di catatan Facebooknya.Tujuannya hanya satu,ia ingin mengetahui reaksi Ana.

Ada yang harus kuceritakan denganmu Ana
Tentang sebuah rasa
Yang selama ini ingin kuungkapkan padamu
Ana..
Aku memang menyukaimu
Sangat menyukaimu
Aku tak pernah tahu mengapa
Tak sekalipun aku mengerti jawabnya
Saat ini yang terpikirkan hanyalah tentangmu
Ana..
Aku juga tak tahu dari mana rasa itu tercipta
Ia datang begitu saja mengetuk pintu hati
Melukiskan warna dalam tiap geraknya
Besar dan semakin besar
Hingga aku tak tahu bagaimana cara mengguratnya
Dulu..
Tak pernah sekalipun aku mempunyai rasa terhadapmu
Tak pernah terpikirkan olehku
Dan kau juga mengetahui akan itu
Entahlah Ana
Rasa itu tercipta begitu saja
Tercipta terakhir kali aku menatapmu
Aku masih ingat dengan perasaan itu
Hatiku berdegup kencang takkala memandangmu
Aku benar benar tak mampu berkata Ana
Tatapanmu melumpuhkanku
Tuturmu meluluhkanku
Aku benar benar terpesona akan hadirmu
Aku tak tahu Ana
Kenapa aku bisa menyukaimu
Tak pernah sekalipun aku mengerti jawabnya
Hanya tanya yang setia membelengguku
Ana..
Aku benar benar tak mengerti
Mungkin seperti kata pepatah
“Dari mata turun ke hati”
Karena itulah yang kurasakan saat ini
Ana..
Maaf jika belum ada kata yang terucap dari bibirku
Sekedar mengucap kata suka atau sayang terhadapmu
Maaf jika belum ada rasa yang mengalir ke nadimu
Sekedar menanam sayang ke dalam benakmu
Aku hanya tak ingin kau kecewa akan hadirku
Maafkan aku ana
Aku belum mempunyai keberanian untuk itu
Aku tahu ana
Kau pasti lelah menungguku disana
Aku pahami ana
Jika rasamu mulai meredup pelan karenanya
Tapi Ana
Aku berharap kepadamu
Kau mau menungguku di ujung jalan itu
Bersedia menungguku
Menuntaskan semua janji yang terucap untukmu
Ana
Aku hanya ingin kau tahu
Inginku kini hanya berjalan bersamamu
Hanya itu ana
Hanya ingin terus menggenggam tanganmu
Melewati hari bersamamu
Menggenggam dunia
Dengan mimpi yang terbentuk karenanya
Menjalani cita
Dengan dirimu sebagai penyemangatku
Menghabiskan masa hidupku
Dengan dirimu berada di sampingku
Menghabiskan masa tuaku
Dengan dirimu sebagai cintaku

Tanpa diduga Ana meresponnya begitu cepat,ia mengirim pesan (sms) kepada Agung.Yang pertama Ana menanyakan maksud Agung menulis puisi itu.
Agung hanya menjawab sekenanya.
Pada sms yang kedua Agung akhirnya mendapat sebuah jawaban,pada malam itu ia mendapatkan jawaban dari pujaan hatinya.

Kamu ga pernah mengerti
Dengan apa yang kamu rasakan
Sama halnya seperti Ana
Tidak pernah mengerti
Dengan apa yang dia rasa
Rasa ini alami
Rasa ini anugrah
Bisa datang kapan saja
Tanpa disadari
Ana juga tak pernah menyangka
Kenapa mesti kamu yang menyita pikirannya
Dulu..
Memang Ana tak begitu mengenalmu
Hanya nama dan wajah yang ia tahu
Sekarang..
Kamu dekat
Mungkin...sangat dekat..
Tapi tetap saja kamu bagai misteri buat dia
Dengan meninggalkan beribu tanya dalam benaknya
Jika bisa menepati janji itu
Tepatilah..
Jangan hanya mengumbar janji-janji palsu
Kepada setiap hati kemudian meninggalkannya
Karena..
Ana akan menunggumu di ujung jalan itu
Selalu menunggumu...

Agung hanya tersenyum membacanya,ia dilanda kebingungan untuk membalasnya.Dan bodohnya lagi ia malah ketiduran pada malam itu dan meninggalkan Ana dalam penantiannya.
Malam itu Ana terus bertanya kepada Agung,tapi Agung telah terlelap dalam tidurnya.
Ana terus bertanya apa yang dimaksud puisi itu adalah dirinya.
Agung tentu saja tak membalas karena telah terlelap dalam tidurnya.
Hal itu tentu saja membuat Ana kebingungan,dalam kebingungannya Ana malah meminta maaf kepada Agung karena sudah berpikir macam macam.Malah ia berkata tak usah sms dia lagi.
Setelah itu Ana tak sms lagi,meninggalkan Agung dalam lelapnya.Paginya ketika Agung membaca smsnya,ia hanya bisa tersenyum sekaligus bingung bagaimana membalasnya.Ia juga bingung dengan langkah apa yang akan dilakukan olehnya kedepan.

-_____-

25 Juni 2011

Hari itu Agung sedang berada di stasiun Senen,ia berada disana untuk melepas kepergian Amara.
Ya pada hari itu adalah hari terakhir Amara berada di Jakarta,untuk seterusnya ia akan tinggal di Surabaya mengikuti calon suaminya.
3 minggu dari sekarang ia akan menikah dengan jodoh yang sudah dipilihkan orang tuanya.Selama ini ia berada di Jakarta karena pekerjaannya.
“Makasih ya Gung”
“Buat apaan dah,perasaan makasih mulu”
“Yah buat segalanya,beberapa bulan ini kamu kan sudah setia membantuku”
“Halah..lebay kau Ra,kaya baru kenal aja”Ujar Agung sembari tersenyum.
Selama beberapa bulan terakhir,Agung memang sering membantu Amara.Apalagi di Jakarta,Amara Cuma tinggal bersama keluarga kakaknya karena kedua orang tuanya sudah memutuskan untuk menetap kembali di Surabaya.
Selain itu Agung merasa masih punya kewajiban dengan Amara,ia merasa berkewajiban untuk menguatkan hati Amara lagi.Karena Agung masih melihat banyak keraguan di matanya.
“Kalo bisa datang ya Gung ke pernikahanku”Harap Amara
“Haahhh..boleh boleh tapi ongkosin ya,aku ga punya ongkos kesananya Ra..hehe”
Amara hanya tersenyum mendengarnya.
“Aku titip doa aja deh,semoga semuanya berjalan lancar disana.Semoga engkau diberkahi keluarga yang sakinah,mawadah dan warohmah.Aku juga yakin bahwa suamimu pasti orang yang baik dan dapat mengertimu”
“Amin..makasih ya Gung”
“Kamu tuh,makasih mulu orangnya??lama lama malah mirip sama Mpok Indun” Ujar Agung membandingkan Amara dengan Mpok Indun,tetangga Bang Bajuri dalam sitkom Bajaj Bajuri.
Amara yang tak terima tentu saja segera mencubit Agung.
“Auuuwww..sakit Ra”Agung segera mengaduh akibat cubitannya.Amara hanya tertawa melihat ekspresi Agung.
“Oh iya,hampir aja lupa”Ucap Agung seraya mengeluarkan sesuatu dari tasnya.Rupanya itu sebuah Map coklat besar.Amara tentu saja bingung dengan pemberian Agung.
“Neh Ra”
“Apaan neh Gung??”
“Bom..hahaha!!ada deh,yang jelas nanti aja ya dibukanya”Ujar Agung seraya tertawa.
“Simpan baik baik ya Ra”sambung Agung lagi
Amara tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Oh..iya neh satu lagi”Ujar Agung seraya membuka gelang di tangannya.Lalu ia memberikannya kepada Amara,gelang tasbih kesukaannya.
“Simpan juga yah,Cuma itu yang bisa kuberi”
“Makasih ya Gung”
“Sama sama mpok Indun..hahaha”
Amara langsung mencubit Agung lagi,ia kemudian hanya bisa tertawa.
“Jam berapa kamu berangkat Ra??”
“Sekitar jam 11an”
“Ohh..berarti sebentar lagi yah”Ujar Agung seraya melihat jam tangannya.Waktu sudah menunjukkan pukul 10.55 di jam tangannya.
“Ya”Ujar Amara.Ia lalu tertunduk menahan kesedihannya.
“Heeiiii....”Ucap Agung sembari memegang dagu Amara dengan tangan kirinya.Lalu dengan tangan kanannya ia memegang bibir dan membuat senyum di wajah Amara.
“Nah begini kan kelihatannya lebih bagus..hehe”
Mereka berdua tertawa,perasaan senang begitu menyelimuti mereka.Tak lama ada pengumuman bahwa kereta akan segera berangkat.
Amara lalu memeluk Agung,Agung membalas pelukan itu dan membelai rambutnya.
Saat itu semua seakan menjadi hening,diam dalam kesunyiaan.
Tak ada kata lagi yang terucap,hanya sebuah senyum yang terkulum yang terus melepas kepergian Amara.
Kereta berjalan pelan,seakan jengah ingin berlari meninggalkan segala kegaduhan yang berada di stasiun.
Dalam kereta Amara terus melihat Agung melepas kepergiannya.Dalam senyuman Agung berdiri dan terus melambaikan tangannya.Amara membalas senyuman itu.
Kereta itu pun perlahan menjauh,meninggalkan sebuah sosok dalam senyumannya.
Setelah tak tampak lagi sosok Agung,Amara segera membuka map coklat yang tadi diberikan Agung.Ternyata Map itu berisi beberapa Novel kesukaannya.
Amara ingat,waktu itu ia pernah bilang ke Agung tentang beberapa Novel yang ia suka tapi sulit ia dapatkan.Ia benar benar tak menduga Agung masih mengingatnya,karena ketika membicarakannya Agung bersikap cuek dan seperti menganggapnya angin lalu.
Di antara kumpulan Novel itu ada sebuah surat,Amara segera saja membuka dan membacanya.

Belakangan ini
Aku baru menyadari
Betapa aku kehilanganmu
Kamu..
Yang dulu selalu hadir dalam hariku
Kamu..
Yang dulu selalu ada untuk diriku
Kamu..
Yang selalu ada berbagi denganku
Kini telah pergi menjauh
Aku telah berusaha
Melupakanmu
Baik dalam setiap kataku
Entah dalam setiap gerakku
Tapi
Aku tak bisa mendustai hati
Aku tak bisa membohongi diri
Senyum itu
Kurindu..
Tawa itu      
Kunanti..
Aku merindukan setiap tutur lembutmu
Aku menantikan setiap lembut belaimu
Aku merindukan saat manja bersamamu
Mata itu..
Bibir itu..
Rambut itu..
Aku merindukanmu
Aku tak bisa berbohong
Dan mengatakan “aku sudah melupakannya”
Aku telah mencoba
Mengisi hariku dengan tawa
Berusaha menyibukkan hariku
Tapi
Aku masih saja merindukan tiap saat
Bersamanya..
Aku masih saja mendambakan tiap waktu
Dengannya..
Dirimu
Seperti pelangi
Selalu datang untuk mewarnai hariku
Dirimu
Seperti mentari
Selalu datang menguatkanku dikala lemah
Dirimu
Seperti pelita
Selalu menyinariku di tengah kegelapan yang mendera
Aku tahu
Bahwa kau masih mencintaiku
Kau juga tahu
Bahwa akan selalu ada bagian dalam hatiku untukmu
Tapi kita berdua juga tahu
Bahwa kisah ini tak mungkin lagi berjalan
Karena sesuatu yang tak mungkin kita ingkari
Dan itu tak mungkin dipungkiri
Sayang..
3 tahun bersamamu adalah saat yang terbaik
Tak banyak yang tahu tentang kisah yang kita jalani
Dan sampai akhir pun tak banyak yang tahu
Karena dunia adalah cinta kita
Bukan cinta yang harus terbagi oleh dunia
Seperti janji kita
Untuk selalu merahasiakan ini
Sayang..
Kau mengertiku
Seperti kapas yang menyerap air
Kau selalu memahamiku
Seperti daun yang tertiup angin
Kau tahu sifatku..
Aku adalah penyendiri di tengah keramaian
Aku adalah pelamun di tengah teriakan
Dan kau menutupi semua kekuranganku
Sayang..
Ini telah menjadi keputusanmu
Untuk melupakan perjalanan cinta ini
Dan pergi menjauh dari sisiku
Percayalah sayang
Aku menghormati keputusanmu
Aku juga takkan pernah membencimu
Sayang percayalah
Aku takkan melupakan tiap saat bersamamu
Aku akan selalu mengingatmu
Dalam tiap deru nafasku
Dalam tiap detak jantungku
Aku akan selalu mengenangmu
Sebagai bagian terindah dalam hatiku
Sayang..
Memang saat ini aku akui
Aku sedang kesulitan untuk melupakan kisahku denganmu
Saat ini aku akui
Aku masih tak bisa melupakan bayang wajahmu
Tanpamu
Aku bagai Puisi Tak Berima
Aku tak tahu kemana melarikan tiap kataku
Aku seperti kehilangan semangat dalam baitku
Tapi sayang..
Aku akan belajar dan akan terus belajar
Melupakanmu
Meski itu sulit untuk kuhadapi
Aku akan terus belajar
Untuk membuat puisi baru dalam hidupku
Meski itu bukanlah denganmu
Sayang..
Berjanjilah kepadaku
Untuk menjadi wanita yang tangguh
Untuk menjadi wanita yang hebat
Jadilah seseorang yang membanggakan
Jadilah selalu pelita itu
Sayang..
Jangan pernah menyesali sedihmu
Karena melalui sedih kita belajar untuk menjadi kuat
Jangan pernah mengutuk tangismu
Karena melalui tangis kita belajar untuk tersenyum
Sayang..
Kini berjanjilah kepadaku
Kita boleh melupakan cinta ini
Tapi
Jangan pernah lupa akan persahabatan yang pernah kita jalani
Kini demiku
Maafkanlah dirimu sendiri
Jangan jadikan yang lalu sebagai beban
Dan jadi penghambat kebahagiaanmu
Demiku..
Berbahagialah disana
Belajarlah untuk mencintainya
Jadilah mentari untuknya
Dan tataplah masa hidupmu semakin baik ke depan
Terima kasih atas segalanya
Atas warna cinta yang kau beri
Atas segala kebaikan yang kau tanam
Percayalah
Bahwa doaku akan selalu bersamamu
Wahai Wanitaku
^_^

Sesampainya di rumah Agung mendapat sms dari Amara.
“Terima kasih Gung,untuk ketulusan yang selama ini kau beri J

-______-

Ancol, 2 Juli 2011

Seminggu ini Agung banyak berpikir,ia tak bisa berbohong bahwa kehadiran Amara membuat ia melakukannya.Apa ia bisa menjaga cintanya nanti.Atau hanya kehilangan lagi yang akan dialaminya.
Lama Agung termenung disana,menatap garis cakrawala di batas awan kala senja.
Melamunkan gundah yang kini tengah meraja di hatinya.
Ombak berdebur pelan kala itu,menyisakan buih hitam sisa dari pekatnya polusi perkotaan.
Keruh,seperti warna air laut itu.
Hening..
Mengantarkan Agung pada sebuah kesimpulan.
Agung lalu mengeluarkan sesuatu dari jaketnya,ternyata sebuah gantungan hape yang waktu dibelinya untuk Ana.
Lama ia menatap gantungan kunci itu.Ia lalu memejamkan matanya dan
“Maafin aku An,atas semua janji yang tak bisa kutepati”
Agung menyerah kalah pada perasaannya.Ia masih merasa belum cukup baik untuk siapapu sekarang.
Agung lalu membuang gantungan kunci itu ke laut yang membentang luas di hadapannya.Seakan menyerahkan semua jawaban itu kepada samudra.

video

Maafkan diriku
Kepadamu ana
Tak mampu kujaga hatimu
Sepenuh ragaku

Maafkan aku ana
Akan hadirku
Yang membuat hatimu
Menjadi terluka
Reff
Aku memang bersalah
Menggantungkan semuanya
Tentang kemana kita kan melangkah dalam hubungan ini
Aku memang berdosa
Mengingkari segalanya
Semua kata yang pernah aku janjikan untukmu

Maafkan aku ana
Memberi harapan
Atas semua cinta yang tak pernah tersampaikan
Back to reff lalu *
*Maafkanlah.. jika memang maaf itu memang ada

Menanti Pagi – Kramat Jati 09 Oktober 2011

0 komentar:

Posting Komentar