Minggu, 02 Oktober 2011

My Love N.G

Semua sahabat dekat saya pasti tahu bahwa saya paling suka Traveling.Mengunjungi suatu kota yang belum pernah saya sambangi atau liburan ke Pantai adalah salah satu hal yang paling saya sukai.
Saya selalu bersyukur karena pernah lahir di Indonesia,karena Indonesia memiliki segalanya.Indonesia adalah cermin dari kata “MUTIARA”.
Indah dan membuat setiap mata yang melihatnya terpesona.
Rasanya tak sulit bukan untuk menyebutkan nama pantai dan gunung yang indah di Negara ini.
Kali ini saya akan menceritakan about my love N.G !!

Eitsss..N.G disini maksudnya bukan nama seorang wanita tapi singkatan dari Nanjak Gunung.
Yuph..Saya sangat suka Nanjak.
Walaupun baru beberapa Gunung di pulau Jawa yang saya sambangi tapi saya selalu mempunyai hasrat buat nanjak.Impian saya adalah mendaki semua gunung di Indonesia,walau mungkin untuk Gunung Jayawijaya di Papua akan terasa berat.
Memang kenapa Dar??
Yah..Jujur saja,ongkos buat kesananya mahal banget..haha
Bukan Cuma Jayawijaya saja sebenarnya tapi juga untuk Gunung Rinjani,ongkosnya kesana cuma bisa membuat saya menarik nafas dalam dalam.
God..kau pasti tahu betapa sangat inginnya saya melihat secara langsung Telaga Warna di Gunung Rinjani,dan kau pun pasti tahu betapa sangat inginnya saya untuk merasakan kilau Sunrise di atas sana.
Dalam rangkulan dingin selimut gunung,merasakan cahaya mentari yang perlahan merayap keluar dari ufuk barat.
Saya mempunyai harapan,setidaknya sebelum saya mati dan tiada agar saya setidak tidaknya bisa menanjak Gunung Semeru.
Yuph..seperti idola saya Soe Hok Gie.
Eitsss..bukan berarti saya ingin mati disana seperti beliau.Hanya saja ini memang benar benar impian saya sejak masa SMA.Sebuah impian yang diperkenalkan oleh sahabat baik saya Firman.
Satu hal yang pasti dalam hidup saya,sampai tua pun saya akan mencintai dunia Nanjak.

-_-

Kenapa saya suka nanjak??
Jawabannya simple “Karena saya menemukan kedamaian disana.Sunyi,sepi dan jauh dari hingar bingar perkotaan.Hanya canda tawa bersama teman yang selalu setia sepanjang perjalanan,dengan alam datang sebagai penyejuknya.Saya benar benar merasa damai ketika melakukannya,tak ada konflik atau riak yang bergemuruh dalam hati saya”
Mungkin banyak penilaian orang yang mengatakan Nanjak gunung Cuma kesia-siaan,banyak juga yang menilai seperti orang tua saya bahwa hal itu membahayakan dan buang buang waktu saja.
Entahlah...
Saya juga tak mempunyai jawaban pasti untuk itu.Saya hanya merasa tenang jika melakukannya.
Lagipula biarkanlah apa kata orang.Saya hidup untuk mengikuti kemauan dari kata hati saya,bukan untuk orang lain.
Ada satu puisi tentang alam yang begitu saya sukai.Mungkin para penanjak gunung juga tak begitu asing dengan puisi ini dan menjadikannya puisi wajib dalam hidup mereka.
Puisi ini berjudul Mandalawangi – Pangrango.
Benar jika anda mengatakan bahwa ini adalah judul dari puisi karya Soe Hok Gie.Saya pertama kali membaca puisi ini ketika jaman sekolah menengah pertama dulu.Saat itu tetangga saya,Bang Miko meminjamkan saya beberapa buku.Salah satunya adalah buku karya Soe Hok Gie – Catatan seorang Demonstran.Dan belakangan saya baru membacanya kembali ketika saya secara tak sengaja menemukannya di netbook teman saya,Heru.
Inilah puisi yang selalu menginspirasi saya

Mandalawangi - Pangrango

Senja ini
Ketika matahari turun kedalam jurang jurangmu
Aku datang kembali
Kedalam ribaanmu
Dalam sepimu dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi
 ,Kau datang kembali 
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

"Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar , terimalah dan hadapilah”

Dan antara ransel ransel kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
Melampaui batas batas hutanmu,melampaui batas batas jurangmu

Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup

Jakarta 19-7-1966


Nah bagi Soe Hok Gie sendiri, gunung adalah tempat untuk menguji kepribadian dan keteguhan hati seseorang.
Ia juga mengatakan : “Hanya di puncak gunung aku merasa bersih.”
Tapi lebih dari itu, kecintaannya pada alam adalah bagian penting dari jiwa cinta-Tanah Airnya.


-__-

Terakhir saya nanjak yaitu pada bulan Agustus 2009,saat itu saya pergi bersama sahabat sahabat saya di Rasta Pala.
Saat itu dari tanggal 14-19 Agustus kami melakukan perjalanan.Dimulai dari Sumir,Solo,hingga Jogja.
Untuk lebih jelasnya kelak saya akan menceritakannya di Kumpulan Cerpen Menjejak Lawu.
Saya rindu dengan Lawu,yah saya benar benar merindukan Gunung itu.Bahkan ketika saya sampai di Jakarta dan harus kembali ke rutinitas kerja saya,hal pertama yang saya lakukan adalah membuat puisi untuk Lawu.
Aneh ya!!

Lawu

Tuliskan niat dalam hati
Dengan sejuta hasrat ku pergi
Menjejaki jalan yang tak bertepi
Walau kerikil yang kerap kutemui
Dingin romaku
Kala kucapai kakimu
Menusuk tiap sendi dalam tubuhku
Membekukan liang pikirku
Mematikan gerak langkahku




Lawu
Aku datang menyapamu
Terbakar hati untuk mendakimu
Nafsuku berkobar menikmatimu
Dari cemoro sewu aku mendaki
Diiringi doa kulangkahkan kaki
Hargo dumilah tujuanku pasti
Indahmu..
Laksana negeri di atas awan
Terbunuh kata untuk melukisnya
Mencekat cekat daya pikirku
Awanmu..
Ibarat untaian permadani
Bintangmu..
Laksana kilauan mutiara
Mataharimu..
Seperti lukisan dalam khayal
Seakan penghuni surga turun menyapaku
Lawu..
Aku kan pergi
Dengan sejuta kenangan dalam hati dan rasa bangga yang menyelimuti diri
Aku berjanji
Aku akan kembali
Ketempat awal dimana kumulai bermimpi
Terima kasih atas kesejukan hati
Yang telah kau tabur ke dalam memori
Someday..
I hope we can meet again
Always hoping to climb there again
Lawu

Thank you my mountain..


Rawamangun 20 Agustus 2009

-___-

Sudah 2 tahun berlalu sejak nanjak terakhir yang saya lakukan.
Ada suatu kerinduan disana,bahkan saya sampai tak bisa melukiskannya.Aku merindukan setiap saat disana,di puncak gunung.
Ingin kembali berteriak teriak lepas,menyatakan kebebasan yang tak terkira.Aku merindukan tiap saatnya.Bahkan ketika pagi aku terbangun,aku tetap tak mampu untuk menggambarkannya.
Apa ini yang namanya jatuh cinta??
Sebab aku sudah tak mampu, sungguh tak mampu untuk mengatakannya

Kangen Nanjak

Hari ini..
Ada sesuatu yang kurindukan
Kian hari kian dalam kurasakan
Membentuk sekat dalam tiap jalan pikiran
Entah itu apa
Dan aku juga tak pernah tahu mengapa
Perasaan itu selalu hadir menyapa
Menghadirkan tanya dalam tiap hadirnya
Udara pagi ini seakan menyadarkanku
Tentang rasa yang ingin kutahu
Tentang sebuah ingin yang kumau
Akhirnya aku menemukan jawaban segala keraguanku
Aku rindu gunung
Terbangun pagi hanya untuk melihat sunrise
Lalu mencoba menatapnya dari balik rona bukit
Angin lalu membelai menyertakan dinginnya

Aku rindu perasaan ini
Takkala aku menatap kemilau sang mentari
Menatap jutaan bintang sebagai lenteranya
Beralaskan awan sebagai pijaknya
Aku rindu perasaan ini
Berjalan dengan teman seperjuangan
Bercanda tertawa sepanjang jalan
Menjalani waktu dengan penuh kebebasan


Aku rindu perasaan ini
Bertemu teman sesama pendaki
Berbagi kisah tentang dunia yang kami jalani
Berbagi tawa walau esok tiada lagi berjumpa





Aku rindu perasaan ini
Bercengkrama dalam tenda bersama teman
Menikmati dinginnya malam dalam balutan hangat persahabatan
Dengan secangkir kopi hangat sebagai kawan

Aku merindukan perasaan ini
Merasa lelah lalu ada kawan yang kan berkata 
“Ayo semangat Dar, sudah sedikit lagi”
Merasa dingin lalu ada teman yang mengucap 
“Neh Dar minum dulu kopinya”
Merasa tak sanggup lagi tapi ada sahabat yang berbicara
“Sini,biar kugantikan untuk membawanya”

Ahhh..aku merindukan perasaan itu
Melihat kabut tipis turun perlahan-lahan turun dari balik bukit
Merasakan kuping yang terkulai dan gemetarnya gigi akibat dingin
Menikmati sejuknya udara dan murninya air pegunungan
Menatap sunset dengan sebuah senyum terkulum di hati
Mensyukuri atas keindahan yang tercipta di bumi ini

Tak ada beban
Hanya sebuah keinginan untuk terus melangkah
Tak ada ragu
Hanya sebuah hasrat untuk terus maju
Menghadapi dinginnya dunia
Hanya sebuah keinginan yang abadi
Dan hasrat yang akan terus terpatri
Bahwa langkah ku kan terus menjejak
Bahwa ingin ku kan terus bergema

Seperti bunga edelweis yang terus tumbuh dan abadi di hati penatapnya
Seperti mentari yang tak pernah lelah menyinari bumi ini
Hasratku kan selalu ada untukmu
Gunungku

Kramat Jati 20 Februari 2011


Crunchy : Cinta memang aneh,terkadang ia bisa datang bukan dalam bentuk seorang kekasih.
Rindu memang tak mengenal huruf tapi ia bisa membuatmu tak mampu berkata.
Mungkin..seperti itulah rinduku padamu

0 komentar:

Posting Komentar