Kamis, 12 Juli 2012

Atas Nama Hati Nurani



Pemilukada telah selesai dilaksanakan. Pengumuman hasil finalnya baru akan diumumkan tanggal 21 Juli nanti oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) DKI Jakarta. Well melihat hasil hasil Quick Count sepertinya Pemilukada kali ini akan berlangsung selama 2 putaran.
Siapa yang akan melaju??
Melihat hasil Quick Count yang paling berpeluang adalah pasangan Cagub-Cawagub nomor 1 yaitu Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) dan pasangan Cagub-Cawagub nomor 3 yaitu Joko Widodo-Basuki Tjahja (Jokowi-Ahok).
Pasangan Jokowi-Ahok tanpa diduga meraup banyak suara dan bertengger di posisi teratas. Untuk kemenangannya kali ini saya rasa Pak Jokowi harus banyak berterima kasih kepada media yang begitu setia dalam meliput rekam jejaknya.
Yah seperti yang kita ketahui bersama bahwa Pak Jokowi merupakan salah satu tokoh yang banyak disorot belakangan ini. Mulai dari prestasinya dengan kota Solo hingga cara dia yang begitu membumi dalam menyelesaikan suatu permasalahan.
Yang pernah menyimak berita pasti tahu bagaimana cara beliau berdialog langsung dengan pedagang kaki lima.
Kalem,membumi,merakyat,dan mau mendengar secara langsung keluh kesah rakyatnya. That’s why banyak yang suka dengan beliau.
Yah terutama kaum ibu ibu!!
Apalagi emak ane,waduh pemilu ini hatinya udah dibuat kotak sama Jokowi


Dari Solo Untuk Jokowi

Hemm untuk Pemilukada kali ini pilihan dari keluarga saya termasuk beragam. Adik dan Ibu saya memilih Pak Jokowi-Ahok sedangkan ayah saya memilih Pak Alex-Nono. Saya sendiri memilih Pak Faisal-Biem.
Well bisa dibilang kali ini saya agak galau sendiri dalam menentukan pilihan. Bukan apa apa,sampai menjelang masuk bilik pemilu. Saya masih bingung memilih antara Jokowi atau Faisal Basri.
Yah pada akhirnya hati nurani sayalah yang membimbing untuk mencoblos nomor 5 ^^.

Anehnya,saya adalah orang yang paling gencar mempromosikan Jokowi di rumah ahahaha

By the kenapa pilihan saya lebih mengarah kepada mereka berdua??
Jawabannya simple. Saya melihat sebuah ketulusan dalam setiap jawaban mereka. Mencari orang jujur itu mudah tapi menemukan orang yang tulus itu sulit. Apalagi dalam menjalankan amanah sebuah jabatan.
Nah dalam setiap wawancara mereka saya seperti menemukan hal itu. Tak terlalu banyak embel embel janji dan fokus untuk memperbaiki setiap system yang ada.
Kalem dan tenang.
Tapi jujur,sedari awal saya sudah yakin bahwa Pak Faisal tak akan terlalu banyak mendapat suara.

Perolehan suara di TPS saya Jokowi- Ahok = 116 suara, Fauzi-Nara = 66 suara, Alex-Nono = 36 suara, Hidayat-Didik = 24 suara, Faisal-Biem = 8 suara dan Hendardji-Riza = 1 suara.

Tapi mengapa saya pada akhirnya lebih memilih Faisal Basri ketimbang Jokowi.
Jawabannya simple,karena Pak Faisal jauh dari embel embel partai.
Yah buat kaum muda seperti saya yang berpikiran kritis, mau sebaik atau sebesar apapun sebuah partai anda bernaung,percayalah akan selalu ada kepentingan kepentingan yang berbicara. Yah saya harap hal ini tak akan terjadi pada Pak Jokowi nanti apabila menjabat sebagai seorang Gubernur. Dimana saya yakin seyakin yakinnya bahwa beliau akan menang di putaran kedua.
Dengan telak malah.

By the way selain media,beliau juga harus berterima kasih kepada rakyat Solo. Mereka begitu mendukung dan mendoakan sepak terjang dari pemimpinnya itu.
Yah bisa dibilang Pak Jokowi telah banyak memberikan hal positif kepada kota Solo. Rakyat Solo tahu bahwa mereka akan merindukan pemimpinnya itu. Tapi yang paling saya kagumi dari masyarakat Solo adalah mereka begitu berbesar hati melepas pemimpinnya itu.
Hemm untuk hal ini saya lumayan mengikuti beritanya.
Dari beliau baru sekedar dicalonkan hingga yang terakhir tentang kemenangan beliau pada hasil  Quick Count. Tak ada satu pun rakyat Solo yang diwawancarai bertanggapan negatif. Mereka begitu bangga terhadap pemimpinnya itu.
Salut dah ! ! ! !

Kunci sudah di tangan,Selanjutnya??

Yah seperti yang saya katakan di atas bahwa kemenangan sudah hampir pasti di tangan Pak Jokowi. Hanya kesialan luar biasalah yang bisa menyebabkan beliau kalah.
Cara cara beliau yang bisa dibilang humanis dan tidak terlalu wah seperti calon Cagub lain bisa dibilang lebih menarik.
Belum lagi dan yang paling kentara terlihat adalah figur dan karisma beliau. Saat ini bisa dibilang jauh melebihi karisma partainya sendiri.

Eniwei di tempat saya hanya ada satu baliho beliau. Berbeda jauh dengan Cagub Fauzi Bowo dan Cagub Alex Nurdin yang di lingkungan tempat saya seakan berantem hanya untuk memperebutkan menempel stiker. Setiap pintu bahkan diembel embeli untuk dibayar dengan uang.
Budaya buruk bukan??
Bahkan beberapa orang keluarga saya termasuk termakan bujuk rayu ini. Ayah saya mendapat uang Rp 250000 dari Alex Nurdin sebagai salah satu tim sukses. Tapi beliau ga mengambilnya,bukan karena ga mau tapi karena antrian yang panjang. Pak Alex memusatkan pengambilan (bilangnya seh) bantuan di daerah Cikini.
Yah duit gratis,siapa juga yang ga mau. Belum lagi janji janji yang beliau tanam.
Ada kali 15 halaman ckckck
Saudara saya aja bahkan dijanjikan untuk dibelikan mobil.
Hadehh masih aja !!!
Tapi itulah budaya yang tengah terjadi di Negara kita. Budaya yang berduit yang menjadi calon penguasa.
Tapi Alhamdulillah,masyarakat sekarang telah bertambah cerdas dalam menentukan pilihan. Kalaupun ada politik uang yah ambil sisi positifnya aja bahwa itu bisa jadi duit jajan tambahan.
Istilah ibu saya “Ambil aja duitnya,soal calon kan biar hati nurani kita yang berbicara”
Betul betul betul :)

Hemm melihat hasil Quick Count dimana beliau telah mendapat lebih dari 42 %  suara saya yakin beliau pasti menang. Yang harus beliau lakukan sekarang hanyalah mempererat lagi silahturahmi dengan para pendukungnya.
Soal suara??
Saya yakin para pemilih yang memilih Cagub lain akan mengalihkan dukungannya kepada beliau. Pendukung Faisal,Hendardji dan Alex Nurdin pasti akan mengalihkan dukungannya. Hanya pendukung Hidayat Nurwahid yang saya agak ragukan.
Mang kenapa Ndar??
Saya akan meminjam istilah Pak Ahok kemarin sore yang mengatakan tentang “Pemilih dangkal” yang hanya melihat sisi suku,agama atau partai.
Eh tapi memang benar ada, apalagi ayah saya pernah berkata “orang orang mah mana mau milih Jokowi,Islamnya begitu. Apalagi kalo ngelihat pasangannya yang orang cina. Mana mau orang orang kaya kyai milih Jokowi”
Dangkal bukan??
Tapi ayah saya hanyalah satu diantara sekian banyak warga Jakarta yang berpikiran seperti itu. Saya tak menutup mata bahwa masih banyak orang di Jakarta yang melihat hal hal seperti itu. Buktinya apa Ndar??
Yah itu kan buktinya masih banyak yang memilih calon yang sebenarnya sudah terbukti gagal.
 Dan anda juga harus membuka mata bahwa hal hal seperti itu nyata adanya.

Orang orang yang berpikiran berdasarkan ideologi tertentu,bukan atas dasar logika dan yang nyata terjadi

Saya harap anda bukan salah satu diantaranya yah ^^

Kembali ke topik semula. Apa yang harus dilakukan oleh Pak Jokowi-Ahok agar bisa mempertahankan kemenangannya.
Simple aja.
Tetaplah berkampanye seperti beliau adanya. Dimana tidak pernah berkampanye uang. Berkampanyelah seperti biasa dengan menyebarkan kartu nama.
Tak perlu mengadakan konser dengan mengundang ratusan artis berbayaran mahal,cukup dengan datangi warga dan berdialoglah dengan mereka.
Lakukanlah seperti Pak Jokowi dan Pak Ahok yang dikenal oleh saya,ibu,adik,rakyat Solo,rakyat Bangka Belitung dan jutaan orang di Indonesia.

Lakukanlah seperti diri anda sebenar benarnya

Satu hal dan saya harap ini tak terjadi. Kalau nanti sudah jadi Gubernur DKI jangan sampai dipolitisasi partai dalam pengambilan keputusan.

Apapun ! ! !

Ini kan Cuma ramalan saya aja. Yah kalau ga tepat yah namanya juga ramalan :P
Well yang jelas tanggal 20 september dimana Pemilukada putaran ke 2 semuanya bakal dimulai kembali.
Sampai saat semua itu tiba,yang jelas para tim sukses pasti akan banyak rapat dan mengadakan pertemuan (dengar dengar Pak Kumis sedang gencar mencari tim sukses lagi)

Whateverlah,lah yang menang mbok sudah pasti Pak Jokowi (tetep)

Kramat Jati 12 Juli 2012

0 komentar:

Posting Komentar