Rabu, 04 Juli 2012

Cukup di hati saja. . .


Masihkah kau ingat kala pertama kali bertemu denganku. Saat kita ditempatkan disebuah kelas yang sama.
Kau yang datang dari sekolah yang berbeda tersenyum padaku.
Senyum itu begitu hangat,aku hanya berbalik senyum terhadapmu. Aku masih mengingat rupa wajahmu saat pertama kita bertemu.
Kau yang datang dari desa tak begitu rupawan dalam merias wajahmu. Rambut pendekmu tertata seadanya,tanpa ada riasan yang menghiasi wajahmu.
Wajahmu terlihat begitu lusuh,setiap orang yang melihatnya akan menilai bahwa kau adalah laki laki yang terlahir sebagai seorang wanita.
Kau tampil seadanya saja.
Kau tak memperdulikan apa kata dunia,bagimu tampil apa adanya dirimu jauh lebih baik daripada mengikuti apa yang dunia mau.

Waktu berjalan perlahan,kita mulai saling berbagi satu sama lain.

Awalnya aku masih menatapmu dalam rasa yang sama. Perasaan sebagai seorang sahabat.

Hingga pada suatu waktu,aku jatuh hati padamu.
Bermula dari konflik yang terjadi antara kita. Tapi seiring waktu yang berjalan aku tak dapat menahan gemuruh di dadaku.
Aku tak mengerti bagaimana perasaan itu datang. Aku tak bisa menafsirkannya bahkan dalam ribuan kata yang telah aku pelajari.
Yang aku tahu rasa itu begitu mengusik pintu hatiku. Rasa itu terpapar begitu nyata,menyentuh palung hati yang terdalam.

Tapi aku masih terlalu naif untuk menyatakannya.
Aku hanya ingin semua yang terjadi sebatas ini adanya.
Sebatas sahabat dalam waktu.

Diam diam aku mengagumimu
Menatapmu dalam cinta yang malu malu

Aku pun mulai menjauhimu. Mendiamkanmu dan belajar membunuh rasa yang kumiliki.
Aku hindari untuk sekedar bertutur kata,bahkan sekedar menatap matamu. Dan bodohnya aku melakukan itu tanpa tahu kapan waktu untuk berhenti.
Aku hanya mendiamkannya saja dan membiarkan semuanya berlalu. Aku tak pernah menyatakan rasa itu terhadapmu.

Aku tak tahu bagaimana perasaanmu
Tapi itu semua seakan sudah  terjawab
Dengan melihat binar dimatamu
Bahwa saat itu kau merasakan rindu yang sama denganku
3 tahun pun segera berlalu
Kebersamaan diantara kita segera berakhir. Dan aku pun mulai belajar untuk mendamaikan hatiku.
Ingatkah kau saat kudekati dirimu kembali disudut kelas itu?? Ingatkah kau dengan canda yang mulai terjadi lagi kala itu??
Aku masih mengingatnya.
Aku masih ingat bagaimana rupa senyum dan tawamu. Aku masih ingat itu. Aku senang kau mau memaafkan dan kembali berbagi dunia denganku.

Saat penantian kabar kelulusan,kuberanikan tekad untuk menyatakan perasaanku.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulutmu.
Kau hanya menganggukan kepala dan menerima arti hadirku.

Aku bahagia. Ternyata kau merasakan perasaan yang sama denganku.
Kita pun berusaha menjalani dan menyatukan perbedaan yang dimiliki. Walau kita sadari bahwa waktu untuk bersama tak akan sebanyak dahulu. Kita terima resiko itu.

Entah mengapa . .
Setelah bersama aku malah merasakan kediaman dari dirimu. Aku tak merasakan perasaan hangat dari hatimu. Seakan kau hanya memaksakan senyum yang hadir dari mulutmu.

Dan jawaban dari segala tanya itu pun terkuak,manakala aku menerima telepon dari seseorang yang mengaku kekasihmu.
Ia marah dan membentakku sudah merebutmu darinya.
Aku hanya bisa terdiam.
Aku tak mengerti kenapa kau berbohong padaku. Saat kutanyakan tentangnya,kau meyakinkanku bahwa dia sudah menjadi kisah lalumu.

Malam meninggi
Angin pantai selatan semakin kencang berhembus, seakan ingin menghantarkan perahu nelayan menuju ke tengah lautan.
Aku merebah tanyaku di atas buliran pasir. Aku matikan handphoneku dan tak memperdulikan lagi apapun kala itu.
Sesekali  ombak datang memecah karang. Semua itu seakan hadir untuk menggambarkan perasaanku.

Aku tak menyangka semua itu terjadi.
Sesampainya di Jakarta aku putuskan untuk segera menemuimu. Membicarakan semua yang terjadi antara aku,kau dan dirinya. Mendapatkan penjelasan langsung dari mulutmu.

Ahhh. . .tak heran ia begitu marah
Kau menerimaku karena menganggapnya telah menghilang dari hidupmu. Menggantungkan semua kisah cintanya denganmu.

Aku terima semua kata maafmu.
Tapi kau dan aku tahu bahwa kisah kita tak mungkin lagi untuk menyatu. Terlalu naif bila kita minta untuk mendatangkan perasaan itu lagi.
Munafik bila aku katakan ingin menjalaninya lagi.

Waktu pun berlalu
Semenjak saat itu kudengar kabar bahwa kau akan menikah dengan jodoh pilihan orang tuamu. Aku turut senang mendengarnya.
Walau aku kecewa karena kau tak memberi  kabar terhadapku.

Lama tak kudengar kabar darimu.
Hingga pada satu titik waktu kau kembali menyapa duniaku. Kita dipertemukan kembali dalam dunia maya.
Aku sempat merasakan kerinduan itu kembali.
Dan bodohnya aku sempat merayumu lagi. Tanpa mempedulikan apa statusmu kini. Dan lebih bodohnya kau seakan membalas semua kerinduan itu.

Kau tahu
Perasaanku masih sama seperti dulu. Memuja dan mengagumi dirimu. Tapi hanya sebatas itu saja.
Karena aku tahu segala sesuatu diantara kita telah berubah.

Semua tentang kita memang hanya sekedar angan lalu tapi aku senang kau masih berbagi kabar denganku. Kau masih bersedia berbagi dunia lagi denganku tanpa mempedulikan apa yang terjadi dulu.
Aku senang karena kau telah menemukan kebahagiaan disana.
Aku senang melihat senyum kembali terurai dari bibir manismu.
Walau sekedar menyapa aku senang karena engkau masih datang bercanda denganku. Aku senang kita masih bersenda gurau seperti dulu.
Aku senang kau masih menanyakan kabarku disini.

Jika memang ada sesuatu yang kita rasa,cukup di hati saja kita artikan. Tak perlu kita terjemahkan lagi dalam untaian kata.
Pict From Here

Tak perlu diungkapkan,cukup di hati saja kita rasakan
  
Terima kasih. . .
Untuk segala kisah ini. Doa yang terbaik untukmu dan keluarga kecilmu :)

Kramat Jati 4 Juli 2012

Untuk Aya : Jangan pernah berubah dalam menjalani persahabatan kita :)

3 komentar:

  1. menikmati kata demi kata.. :)

    BalasHapus
  2. yaampun itu rasanya gimana tuh kak..??
    berawal dari temenan terus sahabatan terus pengagum rahasia terus menyatakan dan diterima eh ujung-ujungnya gak enak ckckck
    tapi ini kisah fiksi kan gak nyata..??
    dan kata ini ini => Jika memang ada sesuatu yang kita rasa,cukup di hati saja kita artikan. Tak perlu kita terjemahkan lagi dalam untaian kata.
    huaaa singkat jelas padat tapi JLEB betul :(

    BalasHapus
  3. @affanibnu : thx my bro :)

    @ninuk : bohong kalo bilang rasanya biasa aja..hehe
    rasanya tuh menyakitkan T_T
    hemm...kasih tau ga yah :P
    menurut ninuk sndiri gimana???

    BalasHapus