Selasa, 13 September 2011

Tentang Anggi


“Nanti kalau Anggi dah sembuh kita main bareng lagi ya”ucapku seraya membelai rambutnya
Siang itu aku melepas kepergian Anggi ke Rumah Sakit,dari arah teras rumah aku melambaikan tangan kepadanya.
Dalam gendongan ayahnya,Anggi hanya tersenyum membalas lambaianku.
Senyum itu terlihat begitu lemah,tapi menyiratkan begitu banyak makna.Anggi seolah ingin mengatakan bahwa ia akan baik baik saja.
Perlahan senyum itu hilang ketika Anggi masuk ke dalam Taksi.Aku hanya bisa memandangi kepergiannya dalam doa dan harapan.

-_-

Anggi lahir pada tanggal 13 September 1993,dengan nama lengkap Anggi Pratama Putra.Dia adalah anak pertama dari Om Roni dan Bi Lastri.
Bi lastri adalah adik dari ibuku,
dia merupakan anak paling bungsu dari keluarga ibuku.Sedangkan Om Roni suaminya berasal dari Pemalang.Mereka berdua bertemu ketika sama sama bekerja di Cikarang.Setelah menikah mereka sempat tinggal di Cikarang sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali dan tinggal bersama nenekku tak lama setelah Anggi lahir.
Rumah Nenekku terletak di Lubang Buaya,Jakarta Timur.Tahun 90an tempat itu belum seramai seperti saat ini dan belum terlalu banyak penduduknya.
Pada saat itu masih banyak sawah dan masih banyak waduk buatan (kalo orang betawi bilang mah empang).
Waktu kecil aku lebih sering menghabiskan waktu di rumah Nenek.Mulai dari sekolah,mengaji,dan bermain lebih sering kuhabiskan disana.Bisa dibilang aku lebih sering tinggal dan menginap di rumah Nenekku.Aku mempunyai banyak teman disana,baik teman sekolah maupun teman rumah.
Tapi aku selalu merasa kesepian jika berada di dalam rumah Nenek.
Kenapa??
Karena hanya akulah satu-satunya anak kecil yang berada  di rumah Nenek.
Selain aku hanya ada Nenek dan Bi Erna (adik dari ibuku juga) dan tentunya Kakekku sendiri yang tinggal didalamnya.
Sebenarnya aku bisa saja tinggal di rumah orang tuaku,tapi jujur pada saat itu aku lebih menyukai tinggal di rumah Nenek.
Selain karena Bi Erna yang baik dan sangat menyayangi diriku,aku juga sangat menyukai keadaan lingkungan di sana.
Yuph dibandingkan dengan rumah orang tuaku yang terletak di Kramat Jati,keadaan lingkungan di rumah nenekku jauh lebih tenang dan ga terlalu ramai.
Maklumlah selain karena jauh dari jalan,penduduk disana juga jarang yang keluar rumah.Mereka hanya akan keluar bila ada keperluan atau ada kegiatan antar warga.
Keadaan di sana sangat sepi apalagi pas malam hari.Berbeda dengan kedaan lingkungan di rumah orang tuaku dimana keadaannya selalu ramai dari pagi hingga ketemu pagi (lagi).
Bukannya aku tak menyukainya,hanya saja mungkin pada waktu itu aku lebih menyukai keadaan di rumah Nenek.Lagipula jika disana aku jadi lebih banyak menghabiskan waktu buat belajar,sesuatu yang tak pernah kutemui ketika berada di rumah orang tuaku.
Prestasi belajarkupun jauh lebih baik ketika berada disana.
Alhamdulillah yah..syahrinion.com ^_^
Back to Anggi!!
Anggi dilahirkan di daerah Cikarang,pada saat ayahnya masih bekerja di daerah sana.Pada saat dia dilahirkan aku tak ikut melihatnya,yah maklumlah aku masih sangat kecil baru berumur sekitar 5 tahun  pada waktu itu jadi keluargaku tak mengajakku dulu.
Aku baru bisa menjenguknya 1 minggu kemudian ketika Anggi sudah dibawa pulang ke kontrakan orang tuanya di Cikarang.Saat itu aku beserta sebagian besar keluarga dari ibuku turut datang untuk melihat Anggi.
Cikarang merupakan kota yang panas,yah dapat dimaklumi seh karena itu merupakan daerah industri.
Aku masih sedikit ingat dengan suasana kontrakannya,kontrakan itu begitu lurus berjejer rapi dengan sebuah lahan kosong luas yang berada di depannya.Di lahan kosong itu banyak terdapat kubangan air setinggi lutut orang dewasa,banyak juga batu batu besar yang diletakkan begitu rapi.Sepertinya itu adalah pondasi dasar sebuah bangunan,yah mungkin akan dibuat rumah lagi di lahan kosong itu.
Antar kontrakan hanya dipisahkan dengan tembok setinggi leher orang dewasa.
Saat itu Anggi sedang tertidur dalam gendongan ibunya,wajahnya begitu tentram menandakan ketenangan dalam tidurnya.
Aku pun lalu main ke kubangan yang ada di depan rumah,karena airnya jernih aku bisa melihat para penghuni kubangan itu.Ternyata disana ada ikan,keong siput juga hewan air kecil lainnya.Lama aku terdiam disana memperhatikan setiap tingkah hewan hewan itu sampai akhirnya Om Roni memanggilku.
“Aa jangan main disana,ada banyak lintahnya”Ujar Om Roni (Aa adalah panggilanku dari Om Roni,sedangkan Bi Lastri biasa memanggilku Betet).
Aku yang mendengar kata lintah segera saja beranjak dari sana,aku pun segera melihat Anggi lagi yang saat itu sudah terbangun dan berada di pelukan Ibuku.
“Lucu ya mah adenya”
Ibuku hanya tersenyum mendengar kata kataku,lalu aku pun mencium pipi Anggi.
“Loh A,itu ada apaan di kakimu”Kata Om Roni seraya menunjuk sebuah benda hitam di kaki kiriku.Benda itu makin lama semakin menggembung besar dikakiku.
“Hiiyyyyy...itu kan lintah!!”Teriak bi Lastri.
Tentu saja aku kelojotan dan menangis ketakutan,tapi Om Roni segera bertindak cepat dan menaburkan tembakau ke lintah yang menempel dikakiku.

-__-
Beberapa tahun setelahnya Om Roni dan Bi Lastri pindah ke rumah Nenekku yang di Lubang Buaya.Saat itu Om Roni masih bekerja di Cikarang,tapi ia memutuskan untu pindah agar Anggi bisa tumbuh lebih baik.
Yah maklumlah cikarang kan daerah industri.
Lagipula menurut Om Roni letaknya juga tak terlalu jauh,Cuma memang harus berangkat lebih pagi lagi.Aku sendiri telah bersekolah di SDN 01 Lubang Buaya,sekolah itu terletak tak jauh dari rumah Nenekku.Malah bisa dibilang dekat sekali,Cuma 5 langkah aja udah sampai.
Pada saat itu Anggi sudah berumur setahun lebih,ia benar benar lucu pada umur itu.Aku pun benar benar tak merasa kesepian lagi di rumah nenek,kehadirannya benar benar membuatku tambah betah berlama lama di rumah Nenek.
Saat itu Anggi adalah pribadi yang pendiam,ceria,lucu dan manja.Keluargaku sangat menyayanginya,apalagi bibiku.
Waktu aku kecil Ibu dan Bi Erna mengadakan acara ultah untukku,entah mengapa aku begitu senang.Apalagi dengan kehadiran Anggi disana,suasana pun semakin ramai.
Saat itu seluruh keluarga ibuku juga hadir.
Aku juga selalu diajak Om Roni jika keluarganya liburan,pernah satu ketika aku diajaknya liburan bersama teman teman kantornya.
Setiap kali pulang sekolah aku selalu menyempatkan untuk melihat Anggi dulu.Entah itu hanya sekedar say Hai,meledeknya,melihat bibiku memandikannya,melihatnya ganti baju,melihatnya caranya tertidur atau hanya sekedar bercanda dengannya.
Aku sudah benar benar merasa sebagai kakaknya.
Aku benar benar senang karena kehadirannya.Tak ada lagi kata kesepian ketika berada di rumah nenek.

-___-

Semenjak aku kelas 4 SD aku sudah jarang menginap di rumah nenek,saat itu aku sedang betah betahnya tinggal di rumah ayahku di kramat jati.Maklumlah namanya juga anak kecil,ketika menemukan teman baru maka hatinya akan mudah berpaling.
Hanya pada saat setiap pulang sekolah aku berada di rumah nenek,aku biasanya baru balik bersama ibuku!!Sehabis mengajar biasanya dia menjemputku dulu.
Yah terdengar manja memang,tapi itulah nyatanya.
Saat itu Anggi sudah beranjak besar,sudah menjelang umur 5 tahun.Ia tumbuh menjadi anak dengan tubuh yang gemuk,bandel,rambut keriting,kulit putih dan bergigi reges.Anggi paling senang berpakaian kaos kutang/singlet dengan hanya mengenakan sempak (celana dalam).
Kadang aku suka meledeknya,tapi ia seh cuek aja.Katanya lebih adem berpakaian seperti itu.
Saat itu Anggi paling suka bermain “Gundu karakter” denganku.Cara permainannya mudah,yang pertama siapkan gundu.Gundu ini digunakan untuk menjatuhkan karakter mainan nanti.Yang kedua persiapkan karakter mainan kecil,usahakan yang bisa berdiri!!mainan ini juga jangan terlalu besar.
Beri jarak dengan posisi saling duduk berhadapan dan kemudian atur karakter itu sesuka hati.Yang jelas atur serumit mungkin dan beri jarak antar karakter agar tak mudah dijatuhkan.Pemenangnya adalah yang bisa mempertahankan karakter mainannya tetap berdiri hingga akhir permainan.Anggi juga saat itu senang sekali bermain monopoli denganku.
Ia juga sangat menggoda cewe,untuk urusan yang ini ia memang agak genit.Ia biasanya menggoda anak sekolah yang memang banyak lalu lalang di depan rumah nenek.Anggi juga sangat suka meledek teman sekolahku Dewi.Biasanya ia akan menunggu Dewi sepulang dari mengaji di Bu Haji Maman.
Kalau tidak bersamaku Anggi biasanya bermain bersama Pandu,tetangga sekaligus teman sekolahku.Anggi paling senang bermain bersama Pandu karena Pandu memliki banyak mainan.Maklumlah Pandu termasuk orang yang berada.
Ia juga senang bermain bersama Yoga dan Yogi,anak tiri dari Bi Erna.Saat itu Bi Erna sudah menikah lagi dengan Om Beben,dari pernikahannya terdahulu Om beben mempunyai dua anak yaitu si kembar Yogi dan Yoga.Sedangkan Bi Erna belum mempunyai anak.
Saat itu tahun 1998,Kakekku (ayah dari ibu) meninggal.Aku ingat beliau meninggal berbarengan dengan ketika Pak Harto lengser dari kekuasaannya.Aku juga masih mengingat harinya yaitu hari rabu.Saat Kakek meninggal aku disuruh menemani Anggi oleh Bi Lastri,entah kenapa pada saat itu dia lebih banyak berdiam diri.
Beberapa bulan setelah kakek meninggal,kami sekeluarga berziarah kemakamnya.Pada saat di makam kakek,Ibuku bingung melihat Anggi yang melamun di dekat makam kakek.Tapi ibuku tak cerita banyak kala itu,ia tak mau menimbulkan pikiran macam macam.Apalagi sesudahnya Anggi kembali ceria dengan senyum regesnya.

-____-

Pada saat Anggi merayakan ulang tahunnya yang ke 5 aku diajak pergi merayakan bersamanya.Aku ingat saat itu aku sudah mau pulang ke rumah yang di kramat jati.Tapi Om Roni yang saat itu sedang libur malah mengajakku pergi bersama mereka.
“Iya a betet,temenin Anggi makan ayam yuk”Ujar Anggi kala  itu sembari memamerkan senyum regesnya.Patut diketahui selain aku,Anggi adalah maniak ayam di keluargaku (penting yah..hehe)
Aku tak menolak,malah senang banget sebenarnya..hehe!!
Kami pun pergi ke KFC pondok gede,disana Anggi benar benar merasa senang.Om Roni benar benar memanjakannya kala itu,Anggi dibelikan apa saja yang ia mau.Aku hanya tersenyum melihatnya,kala itu aku benar benar merasakan kebahagiaannya.
Beberapa minggu setelahnya Anggi mendadak sakit,kata nenek seh itu terjadi setelah ia bermain di sawah bersama Yoga dan Yogi.
Karena demamnya tidak turun turun akhirnya Om Roni memutuskan untuk membawa Anggi ke rumah sakit.
Setelah menyiapkan beberapa kebutuhan selama di rumah sakit,mereka pun segera berangkat menuju rumah sakit.
“Nanti kalau Anggi dah sembuh kita main bareng lagi ya”ucapku seraya membelai rambutnya
Siang itu aku melepas kepergian Anggi ke Rumah Sakit,dari arah teras rumah aku melambaikan tangan kepadanya.
Dalam gendongan ayahnya,Anggi hanya tersenyum membalas lambaianku.
Senyum itu terlihat begitu lemah,tapi menyiratkan begitu banyak makna.Anggi seolah ingin mengatakan bahwa ia akan baik baik saja.
Perlahan senyum itu hilang ketika Anggi masuk ke dalam Taksi.Aku hanya bisa memandangi kepergiannya dalam doa dan harapan.

-_____-

Awalnya Om ingin merawat Anggi di Rumah Sakit Haji dan Rumah Sakit Polri,tapi pada saat itu semua kamar penuh dengan pasien sehingga Anggi tidak kebagian tempat.Anggi pun akhirnya dirawat di Rumah Sakit Harapan Bunda,di bilangan Pasar Rebo.
Awalnya dokter mendiagnosa Anggi terkena demam berdarah dan ia pun dimasukkan ke dalam ruang perawatan.
Sore hari sepulang sekolah aku kesana untuk menjenguk Anggi bersama keluargaku.Di pembaringan itu ia terlihat begitu lemah,dengan infus yang menjulur dari tangannya.Wajahnya sayu lemah tak berdaya,tapi dari tatapan matanya begitu tersirat keinginan sembuh yang begitu besar.
Aku tersenyum kepadanya,ia lalu membalas senyumanku dengan lemah.Aku lalu memberikan sesuatu kepadanya,yaitu mainan kereta kesukaanku.Setelah mempelihatkan padanya aku lalu menaruh kereta itu di dekat tempatnya berbaring.Aku ingin itu dijadikan motivasi untuknya agar cepat sembuh.Anggi sendiri seperti mengerti akan itu.
Sehabis menjenguknya hari itu aku baru bisa tertidur lelap malam itu,harapan agar Anggi sembuh semakin membesar di hatiku.
Tapi esok harinya Dokter membuat sebuah keputusan,sebenarnya sebuah keputusan yang aneh menurutku.Anggi harus dioperasi karena terkena Usus Buntu.
Om Roni,Bi Lastri dan juga keluargaku sempat mempertanyakan kenapa keputusan itu diambil??Karena yang kami semua ketahui bahwa Anggi menderita Demam berdarah,pada saat itu pun keadaan Anggi sudah jauh membaik.
Tapi Dokter tetap keukeh dengan keputusannya,dan menerangkan kepada keluargaku bahwa hal ini penting dilakukan untuk keselamatan Anggi sendiri.
Om Roni dan Bi Lastri yang mendengar penjelasan itu akhirnya menuruti semua permintaan dokter.Bagi mereka kesembuhan Anggi adalah prioritas utama.
Pada sore hari itu operasi pun dilaksanakan,aku yang sudah pulang hanya bisa menunggu kabar.
Akhirnya ketika malam hari Bi Lastri memberitahu Ibuku bahwa Anggi sudah selesai dioperasi.Bibiku pun mengatakan bahwa operasinya berjalan lancar.Kini Anggi pun sudah dipindahkan ke ruang perawatan lagi.
Aku sangat bersyukur kala itu,aku pun mengatakan kepada ibuku untuk menjenguknya esok.Karena esok hari minggu jadi aku bisa menjenguknya pagi pagi.

-______-

Esok pagi,aku dan keluargaku pergi ke rumah sakit.Kami pun menuju lantai 2 tempat Anggi dirawat tapi karena masih terlalu pagi sehingga pagarnya pun masih dikunci.Sambil menunggu pagar dibuka kami menunggu di bangku tak jauh dari kamar tempat Anggi dirawat.
Belum lama kami duduk disana kami dikejutkan oleh teriakan Bi Lastri.
“Errnaaaaaaaaaaaaaaa..............”Teriak Bi Lastri memanggil bibiku.Saat itu bi Erna memang yang paling dekat dengan di pagar.
Dari arah kamar Anggi dirawat,aku melihat Bi Lastri berlari ke arah pagar tempat kami duduk.Ia berlari menuju kami dalam keadaan menangis,tangisannya begitu keras memecah keheningan rumah sakit.
“Anggi..Anggi na Anggiiiiii”Bibi berteriak keras sekali sembari mengguncang guncangkan pagar,tentu saja kami bingung dengan apa yang sedang terjadi
“Anggi kritisssss.....”sambung Bi Lastri di sela sela tangisnya,sebuah kata yang tentu saja membuat kami semua tertegun diam.
Aku hanya bisa terduduk diam mendengar kata kata bibiku itu.Keluargaku segera mencari pegawai rumah sakit agar segera membukakan pintu pagar.
Kulihat Bi Lastri terduduk di balik pagar dengan keadaan yang sangat terpukul.Air mata begitu deras mengalir di pipinya,wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang begitu dalam.

-_______-

Anggi pun dipindahkan ke ruang ICU.Disana aku melihatnya terbaring lemah dan dalam keadaan tak sadarkan diri.Selang infus dengan setia menempel di tangannya.
Semua yang berada disana harap harap cemas akan keadaannya.Om Roni tak henti hentinya sholat,meminta kesembuhan untuk anaknya.Aku dan keluarga yang lain juga tak henti hentinya menuturkan doa untuk Anggi.
Dari luar jendela kamar ICU,aku hanya terdiam memandangnya,hanya doa yang terus tertutur mengalir dari mulutku.
Menjelang sore ibu mengajakku kembali dulu ke rumah,nanti malam ia berjanji akan datang kembali.Awalnya aku tak mau,karena aku tak mau meninggalkan Anggi pada saat itu.Aku ingin terus ada disampingnya.
Tapi ibu berjanji kepadaku bahwa Anggi akan baik baik saja,lagipula katanya Anggi pasti sedih kalau melihatku seperti ini.
Aku pun kembali dulu ke rumah,tapi entah kenapa sepanjang perjalanan rasa cemas begitu menghantuiku.Tak terhitung berapa kali aku bertanya tentang Anggi kepada ibu.Tapi ibu selalu meyakinkanku,Anggi pasti sembuh.
“Makanya kamu jangan lupa berdoa terus yah untuknya”Ujar ibuku singkat.
Ibu benar,saat ini itu adalah satu satunya hal yang bisa kulakukan.
Sekitar jam 8 malam ibu mendapat telepon dari seseorang,aku tak tahu itu siapa.Aku hanya melihat aura kesedihan yang muncul dari dirinya yang langsung membuatku cemas dan segera saja bertanya tanya.
“Siapa mah??”Tanyaku
Ibu tak membalas pertanyaanku,tapi aura kesedihan semakin bertambah di wajahnya.
“Mahhhhh...siaappaa maahhh??”aku terus merengek mencari jawaban.
Ibuku lalu menutup telepon dan segera saja mengajakku pergi.Ia mengajakku pergi ke rumah sakit,Ibu benar benar seperti orang panik kala itu.Kami bahkan tak sempat ganti baju sama sekali.Sepanjang perjalanan aku hanya melihat kecemasan di wajahnya.
“Mah kenapa”
“Ga kenapa kenapa kok wal”
“Mamah bohong..ade Anggi kenapa mah”
Ibu lalu menatapku dalam dalam,ia lalu hanya memelukku.Dalam pelukannya aku bisa merasakan air mata yang mengalir dari pipinya.
Sesampainya di rumah sakit kami segera saja menuju ke tempat Anggi dirawat.Begitu sampai disana aku melihat banyak keluargaku yang datang.
Keheningan meraja.
Kesedihan begitu tampak disana,aku yang belum mengerti apa yang terjadi hanya bisa terdiam.Perasaan cemas langsung menyergapku.
Dalam keadaan menangis Ibu segera saja berpelukan dengan yang lain.
“Mah..Anggi kenapa mah??”Aku kembali bertanya kepada ibuku tapi ibuku tak bisa menjawabnya.Ia hanya terus menangis.
Bi Erna lalu menghampiri dan memelukku,dalam keadaan menangis ia lalu membisikkan kata kata yang takkan pernah kulupakan.
“Anggi sudah ga ada a,Anggi sudah meninggaaalll...”Bi Erna lalu menangis di pelukanku.Sesaat aku hanya terdiam mendengarkan kata katanya,kemudian perasaan sedih langsung menyergapku.Aku menangis sejadi jadinya di pelukan bi Erna.
Bi lastri menjadi orang yang sangat terpukul,Om Roni tak henti hentinya menguatkan Bi Lastri.
“Kuatkanlah ti,anak kita pasti akan tenang di surga sana”
Ujar Om Roni seraya memeluk Bi Lastri.

-________-

Malam itu aku pulang untuk menginap di rumah Nenek,bukan hanya aku tapi seluruh keluargaku.Mayat Anggi saat ini masih berada di rumah sakit.
Saat itu aku pulang bersama Bi Lastri,Om Roni,Bi Erna,Ibuku,Vika dan Nenek.Sedang keluarga yang lain masih berada di rumah sakit untuk membantu mengurus segala sesuatu disana.Begitu sampai depan rumah aku segera berteriak memamnggil Fuad,tetangga sekaligus teman Sekelasku.
“Fuuaaaaddddd.......”perlu beberapa panggilan sebelum Fuad akhirnya timbul menampakkan wajahnya.Tentu saja reaksi awal dia adalah kebingungan.
“Ad..Anggi Ad..Anggi udah ga ada..Anggi udah meninggal”
Fuad yang dari mendengar dari teras rumahnya tentu saja bingung dengan itu.Sebelum menghampiriku ia memberitahukan hal itu juga kepada keluarganya.
“Lo serius tet”Tanya Fuad,aku hanya membalasnya dengan sebuah anggukan.Lalu aku beranjak meninggalkan Fuad disana,aku beranjak pelan menuju kamar nenekku.
Sementara orang orang sedang sibuk mengurus segala sesuatunya aku hanya bisa menangis di kamar nenek.Rasa kehilangan begitu dalam kurasakan.
Senin paginya Anggi baru dikuburkan.
Aku diijinkan untuk tidak bersekolah pada hari itu.Ibuku mengerti bahwa aku ingin mengikuti pemakaman Anggi.
Dari pagi aku terus berada di sisi Anggi,dalam keadaan terbungkus kain kafan wajah Anggi begitu teduh kulihat.
Tenang dan begitu damai.
Walau sedang bersedih entah kenapa aku menjadi begitu tenang melihatnya.
Sekitar jam 9 pagian teman teman SD ku datang,saat itu memang sedang jam istirahat.Kebanyakan dari mereka memang mengenal Anggi.Saat itu aku ada di sisi Anggi dan mereka kebanyakan berdiri di pagar rumah nenek.
“Si betet masa teriak teriak tadi malam ngasih tau Anggi meninggalnya”Ujar Fuad dari pagar rumah nenek.
“Masa seh??”tanya temanku seakan ga percaya.
“Iya..”Ucap Fuad menganggukkan kepalanya.
“Bego..itu Cuma untuk menyembunyikan kesedihannya,noh lo liat ngapa dari tadi si betet Cuma diem bengong aja di samping Anggi”
Aku tak tahu itu siapa yang jelas aku agak menyingkir menjauh agar tak terlihat oleh mereka.Saat itu aku benar benar tak ingin terlihat cengeng.
Sekitar jam 11 siang Anggi baru berangkat untuk dikuburkan.Ia dikuburkan di Gober (sebutan tanah pemakaman dalam bahasa betawi) di daerah tak jauh dari rumah Nenek.
Dengan berjalan kaki sekitar 15 menit kami sudah sampai disana.
Dalam kumandangan lafadz adzan Anggi pun dikuburkan,Bi lastri tak henti hentinya menangis.Perih begitu menusuk perasaannya saat ini.
Saat itu aku hanya mencoba untuk tak menangis.
Ketika aku menaburkan bunga di makam Anggi aku merasakan angin yang berhembus pelan di wajahku.Aku segera menengadah ke atas langit.
Langit teramat cerah pada saat itu.
Aku tersenyum,air mata mengalir perlahan di pipiku.

Kata Untuk Dunia – Nandar Awaludin 


Crunchy : “Apa kabar kamu nggi??aku harap kamu baik baik saja disana.

Hehh..hari ini ulang tahunmu yang ke 18 yah,selamat ulang tahun yah nggi.Aa selalu mendoakan yang terbaik untukmu disini.

Aa rindu sama kamu nggi,ga tau kenapa seperti ada yang hilang dalam hidup ini.Aa rindu sama cara ketawamu dan terutama sama gigi regesmu..hahaha

Aa rindu banget sama kepolosanmu dan juga tingkah manjamu.Kau pasti sudah besar dan tambah ganteng yah di sana.Semua bidadari pasti memperebutkanmu.

Anggi tahu,seluruh keluarga selalu mengingatmu.Nenek,semua Bibimu,Kiki,Putri,Api,bang Edy,Bang Marwan,Vika,Yoga dan Yogi,Mamah vika (Anggi selalu menyebut ibuku dengan panggilan mamah Vika),yah semua orang masih mengingatmu.

Tentu saja Ayah dan Ibumu,bahkan Desta dan Aldi,Adikmu.Padahal mereka masih kecil bahkan Aldi belum lahir kala itu tapi sepertinya ayah dan ibumulah yang memberitahu mereka bahwa pernah ada dirimu dalam kehidupan mereka.Om Roni dan Bi Lastri adalah pribadi yang luar biasa,mereka adalah orang tua yang hebat.

Kamu tahu nggi,minggu lalu Aa berbincang dengan Ibumu,Bi Lastri.Aa sengaja kesana untuk meminta beberapa fotomu,untuk keperluan cerita ini.

Tapi Aa berbohong dan bilang sama bibi Aa mau cari foto masa kecil Aa.Ketika dia melihat kebanyakan foto yang diambil adalah fotomu,ia bingung dan hanya mempertanyakan.Dan kamu tahu,mata bibi berkaca kaca begitu melihat foto fotomu

“Sebentar lagi dia ulang tahun yah a”Ujar bibi sambil memandang fotomu.

“Ulang tahun??”Aku hanya pura pura tak mengerti ucapan bibi.

“Iya,Anggi sebentar lagi ulang tahun kan 13 september nanti”

Aa hanya tersenyum mendengarnya.Kau sungguh beruntung nggi,bibi selalu mengingat ulang tahunmu.

Aa minta juga minta maaf,karena jarang mengunjungi Anggi dan baru bisa menyelesaikan cerita ini.

Yah maklumlah nggi aa masih merasa kalah dengan hidup.Aa akui aa masih jadi seorang pecundang saat ini,entahlah jalan hidup ini terasa aneh.Banyak hal yang sulit dimengerti dan bisa aa terima dengan baik.

Rock n Roll life. . .

Kadang aa ingin melepasnya begitu saja,melepas semua kepenatan itu begitu saja.Pergi dan menghilang dan meninggalkan semuanya begitu saja.

Tapi kau selalu tahu,bahwa aa ga akan melakukannya.Kau pun pasti tahu alasannya!!

Yeahh..life is sucks,tapi justru karena menyebalkan itulah aa merasa beruntung??aa beruntung karena masih ada sesuatu yang aa perjuangkan.

Lagipula aa mempunyai janji tidak tertulis bukan terhadapmu??sebuah janji untuk menjaga ikatan keluarga kita.

Ahh..andai kau masih ada,aa pasti bakal banyak bercerita kepadamu.Andai dokter tak melakukan kebodohan itu,aa pasti masih melihatmu.

Terima kasih nggi,aa merasa beruntung karena pernah mengenalmu.

Bahagialah disana nggi,aa akan selalu berdoa untukmu disini.

Selalu..

Dan percayalah bahwa aa akan selalu mengingatmu.Ke depan Aa akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dan berhasil untuk diri aa dan keluarga kita.Semoga saja aa bisa membalas semua jasa mereka”

Luv u brother..^^

2 komentar: