Minggu, 06 Mei 2012

Assasin Pray "Some Words For God" - Chapter I



Masih jauh dari kata selesai dan masih butuh banyak perbaikan.
But hey,I just want to show to the world about my dream.
Yeah I made a story on my dream ^^
Sejauh ini,mungkin ini akan menjadi salah satu tulisan terpanjang yang pernah saya buat. Ceritanya sendiri baru selesai seperempatnya saja.
Fiuuuhhhhhhhh......
Saya ga tau bagaimana cerita ini akan berakhir karena memang ceritanya belum saya tulis. Ceritanya masih berupa bayangan di kepala dan saya akui sulit sekali untuk menumpahkannya kedalam sebuah tulisan.
Onion Emoticon Set  Onion Emoticon Set  Onion Emoticon Set  Onion Emoticon Set  Onion Emoticon Set
Walau belum selesai saya tulis tapi untuk cerita Assasin Pray ini tak akan saya edarkan di blog keseluruhan ceritanya,hanya sebagian saja dan tidak sampai akhir cerita. Bukannya pelit tapi karena saya benar benar ingin menjaga cerita ini sendiri.
Maklumlah jika ditanya tentang harapan akan cerita ini, kalo boleh jujur saya sangat ingin membawa cerita ini kedalam sebuah buku.
Yuph saya ingin menjadikannya sebuah Novel. 
Awalnya saya sangat bersemangat ketika tahu bahwa ada penerbit yang mau menerbitkan sebuah buku secara Independent<--Norak yah
Tapi ketika saya tahu bahwa harga yang dipatok terlalu tinggi,niat saya pun terbentur dan tanpa saya sadari semangat saya untuk menyelesaikan cerita ini jadi mengendur.
Saking kendurnya penyelesaian cerita molor sampai sekarang MSN Onion Emoticon
Bodoh memang tapi bukankah kita terkadang butuh sebuah motivasi untuk mencapai sebuah tujuan. Mungkin motivasi itulah yang sedang hilang dari saya.
Yah saya benar benar butuh motivasi untuk menyelesaikan cerita ini.
Hemm..mungkin saya harus cari sponsor kali yah MSN Onion Emoticons
By the way ada satu hal lagi yang paling saya benci dari semua ini. Belum selesai cerita pertama ini saya tulis tapi saya sudah dikasih (entah berkah atau apa) jalan cerita untuk cerita selanjutnya.
Yuph..saya sudah punya cerita (sebenarnya masih bayangan) bagaimana Assasin Pray 2 "No Way Back" akan berjalan.
Fiuh..Yasudahlah nikmatin saja jalan ceritanya dan dengan ini saya persembahkan cerita dari mimpi. Sebuah cerita dengan karakter tokoh dari orang orang yang saya temui dalam keseharian yang saya jalani.
So here we go  Assasin Pray 1 "Some Words For God"


Assasin Pray (Doa Sang Pembunuh)
"Even the assasin have a pray to tell to his God"
Bahkan Seorang Pembunuh mempunyai doa untuk dikatakan kepada Tuhannya





Tuhan..
Perasaan apa ini??
Aku begitu menikmatinya Tuhan
Seperti ada yang berdesir dihatiku
Seraya berbisik
“Bunuh..Bunuh..Bunuh”
Perasaan ini tak bisa kuhentikan
Mengalir dalam setiap aliran darah
Menutup gerak pola pikirku
Tuhan...
Diri ini telah hilang kendali
Menjadikan  semua hal sebagai pembenaran
Entahlah Tuhan
Ini menjadi seperti candu untukku
Memberikan satu kepuasan tersendiri
Maafkan aku Tuhan
Karena tak bisa menghentikan perasaan ini


Chapter I

Doa dalam ketiadaan

Cerita ini bermula ketika aku berumur 14 tahun,Itu terjadi ketika pertama kali aku masuk ke Sekolah Menengah Atas (SMA).
Aku yang tidak terlalu pintar dan lulus dengan nilai pas-pasan hanya bisa pasrah ketika harus mendapatkan SMA yang tidak kusukai.
Oleh orang tuaku aku dimasukkan ke SMA NUSA PRATAMA,sebuah sekolah menengah swasta yang terkenal bukan karena prestasi tapi karena tawurannya.
Aku sudah meminta orang tuaku untuk mencarikan tempat lain,tapi mereka seakan tak peduli dengan segala keluhku.
Bagi mereka,keberadaanku kini hanyalah sebuah sampah yang harus dibuang jauh keberadaannya.
Tak berharga dan tak mempunyai makna.
Akhirnya dengan terpaksa aku harus bersekolah disana,karena pada saat itu aku menganggap bahwa aku tak mempunyai pilihan lain.
Saat itu aku terlalu memasrahkan jalan hidupku.
Dan yang terjadi selanjutnya sudah bisa ditebak??
Sejak pertama kali masuk aku selalu menjadi bulan bulanan dari teman teman sekelasku,mereka dengan tanpa segan memukulku hingga babak belur.
Mereka melakukannya tanpa sebuah alasan yang pasti.Aku hanya bisa menerima itu semua,tak ada alasan bagiku untuk melawan.
Tiap hari mereka selalu memperlakukanku seperti itu,memukul dan memukulku tanpa belas kasihan.
Karena itu,setiap hari aku selalu berusaha menghindari untuk bertatap muka dengan mereka.Aku selalu berusaha tak menarik perhatian,walau kutahu itu sulit karena mereka selalu mengincarku.
Satu hal lagi yang selalu aku hindari ketika bersekolah disana,yaitu bertemu dengan para seniorku.
Kenapa??
Karena jika bertemu biasanya akan selalu diajak untuk ikut tawuran.Selama ini aku selalu berhasil menghindarinya,hingga suatu ketika aku tak mampu menghindari pahitnya kenyataan.
Minggu ketiga aku bersekolah disana aku kepergok ketika ingin kabur,kakak kelasku pun dengan tanpa ragu menyeretku untuk ikut tawuran.Segala alasan yang kuutarakan seakan terpentok tembok tebal yang tidak memantulkan jawaban.
“Maaf kak,tapi saya harus pulang buru buru.Ibu saya sedang dirawat di rumah sakit”aku mencoba beralasan kala itu.
“Emangnya gw peduli,mau emak lo dirawat kek mau emak lo koma kek.Pokoknya lo harus ikut”jawab kakak kelasku sembari terus menyeret dan mengawasiku.
Aku tak bisa berbuat apa apa,aku benar benar hanya bisa menerimanya kala itu.
Aku menerima sebuah pilihan yang tak bisa kutolak dan harus kulakukan.Ingin rasanya aku berteriak menyatakan keluhku.
Tapi kepada siapa kumengeluh??kalau jawaban yang kutemui hanyalah sebuah kehampaan.
Selagi aku mempertanyakan jawabannya,tanpa sadar aku telah berada di arena tawuran.
Arena itu berada di sebuah jalan raya,dengan hanya dua ujung jalan sebagai tempat keluarnya.
Aku takut...sangat takut!!
Kakiku hanya bisa gemetaran,jantungku pun berdegup sangat kencang seakan ingin berlari dari tempatnya. Aku sangat tak kuat dengan perasaan ini,ingin rasanya segera kabur dari sana tapi aku tak mempunyai pilihan.
Di depanku ada musuh musuhku dari sekolah lain yang setiap saat bisa saja menebas kepalaku,sedang di belakangku ada kakak kelasku yang hanya menonton saat kami sedang tawuran.
Mereka tak membantu dan hanya bersantai di belakang kami.
Mereka baru bergerak ketika salah satu dari kami ada yang mau melarikan diri.
Ya,mereka hanya bergerak untuk memukuli adik kelasnya yang berusaha untuk kabur dan menghindari tawuran.Mereka dengan tega memukuli kami dan lalu menyeret kami tanpa ragu untuk kembali tawuran.
“Brengsekk..Mau mati lo hah”ucap mereka setiap kali memukuli adik kelas yang berusaha kabur.
Aku yang tak mempunyai pilihan terpaksa harus mengikutinya,aku harus bisa membela diriku daripada mati konyol.
Mau tak mau aku turut berpartisipasi dalam tawuran itu,walau hanya sekedar melempar batu. Aku pun terus bergerak kesana kemari demi menghindari batu batu yang beterbangan.
Aku sampai tak menyadari telah ada seorang musuh yang telah berada didekatku.
Aku terperangah dan terkejut!!
Dia telah membawa sebilah samurai di tangannya,dan dengan tanpa ragu dia ingin menebasku.Tanpa berpikir panjang aku segera saja menghindar dan menjatuhkan diri,tapi dia terus memburuku seakan akan aku adalah buruannya yang tak boleh lepas.
Dalam keadaan terguling guling di tanah menghindari tebasannya,aku menemukan sebilah bambu.
Dalam keputusasaan yang menggelayuti aku hanya bisa berdoa kepada dalam hati.

Tuhan..
Berikanlah aku kekuatan
Jauhkanlah aku dari segala marabahaya yang membentang
Tuhan..
Berikanlah aku kekuatan
Kuatkanlah jiwaku melalui cobaan yang menghadang”

Entah kenapa setelah berdoa,aku seperti mempunyai kekuatan untuk melawan. Aku yang masih dalam keadaan tersungkur di tanah dan menghindari tebasan musuh,lalu berusaha melawan seadanya.
Dalam keadaan  seperti itu aku kemudian berusaha menendang musuhku.
“Bruuaaggghhhh”
Ahh..ternyata usahaku berhasil,sang musuh pun terjatuh karena tendanganku. Lalu dengan segera aku bangkit dan berusaha memukulnya dengan bambu yang sedari tadi kupegang.
Ternyata usahaku tak sia sia,pukulan asal asalanku dengan telak berhasil memukul wajahnya.
Musuhkupun terjatuh dan mengerang kesakitan.
Entah kenapa aku terus menerus memukulnya dan bukannya berusaha untuk kabur.Seperti ada perasaan yang mencegahku untuk berlari dan memberikan dorongan yang hebat untuk terus memukulnya.
Entahlah,aku juga tak mengerti??
Yang jelas aku begitu menikmati perasaan itu,aku benar benar menikmatinya. Aku tak jua berhenti walau kini tubuh dan bajuku sudah terkotori oleh darah dari musuhku. Aku terus memukulnya walau musuh sudah mengerang minta ampun kepadaku.

Tuhan..
Perasaan apa ini??
Aku begitu menikmatinya Tuhan
Entahlah Tuhan
Ini seperti candu bagiku
Membuatku ingin terus melakukannya
Maafkan aku Tuhan
Aku tak bisa menghentikan perasaan ini”

Pukulanku baru terhenti ketika salah seorang teman menarik dan menyadarkanku.
“Buruan kabur,ada polisi datang”Teriaknya sambil menarik bajuku
Beberapa saat aku hanya terdiam,aku terhenyak dan seakan baru menyadari keadaanku.
Aku melihat ke arah tanganku,ternyata sudah tertutupi oleh merahnya darah.Aku lalu menoleh ke arah bambu yang kupegang,ternyata bambu itu sudah patah di bagian atasnya dan seluruh bagiannya juga sudah tertutupi oleh darah.
Aku yang panik segera membuang bambu itu dan segera berlari.Aku tak peduli lagi terhadap apapun kala itu.
Yang aku pikirkan hanya berlari dan terus berlari.Aku tak peduli lagi terhadap keadaan musuhku yang masih terbaring di atas tanah.
Aku juga tak tahu lagi apa dia masih hidup atau tidak,aku hanya terus berlari dan berlari dan segera berlalu dari sana.
*
To be continued



0 komentar:

Posting Komentar