Senin, 28 Mei 2012

Assasin Pray "Some Words For God" Chapter III


                                                       Chapter III

Jalan Keluar

Setiap hari aku biasa bekerja di pasar Induk Kramat jati,sudah semenjak Sekolah Dasar aku biasa bekerja disana.

Aku melakukan pekerjaan ini hanya untuk mencari uang jajan dan membantu biaya sekolahku sendiri.

Maklumlah,orang tuaku jarang sekali membayar uang bayaran yang dikenakan sekolah.Mereka hanya ingat dengan sekolahku ketika pembagian raport atau ketika aku lulus saja.

Selebihnya,akulah yang membayar segala kekurangannya.

Pada awalnya aku hanya bekerja untuk membantu tetanggaku Pak Dito. Pak Dito adalah seorang pedagang buah di pasar Induk.Beliau mengajakku karena merasa iba dengan keadaanku di rumah.

Pak Dito mempunyai perawakan yang kurus,berkulit coklat dan tinggi. Banyak orang yang mengenalnya memanggil Pak Dito dengan sebutan Doyok.
Hal ini dikarenakan sifat Pak Dito yang ceria dan suka ngebanyol. Beliau dikenal dengan penampilannya yang suka mengenakan syal,topi,kacamata hitam dan jaket gombrang. Beliau sangat menyukai cerita dan film film tentang detektif,jadi mungkin dari sanalah inspirasi penampilan aneh beliau.
Pak Dito sudah berkeluarga. Nama Istri dari beliau adalah Aisyah. Beliau juga sudah memiliki 2 orang anak yaitu Tono dan Elsa.
Tono sudah akan masuk SMA pada tahun ini,sementara Elsa baru akan memasuki kelas 2 SMP.
Keluarga Pak Dito tak tinggal bersamanya di Jakarta. Mereka semua tinggal di daerah Subang,tempat asal dari Istrinya Pak Dito.


Beliau sudah mengenalku sejak aku masih kecil,beliau juga sudah mengenal keluargaku sejak lama.

Bisa dikatakan beliau sudah mengetahui seluk beluk keluargaku.Karena itulah beliau tak pernah ragu untuk mengajakku bekerja bersamanya.Aku masih ingat dengan omongan beliau ketika pertama kali mengajakku.

Siang itu sepulang sekolah aku bertemu dengan beliau yang akan berangkat ke pasar.Beliau sedang muat-muat barang di motor yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga cocok untuk memuat banyak barang dagangan (terutama buah-buahan).

“Hei ndi baru balik sekolah neh”sapa Pak Dito hangat memulai pembicaraan

“Iya pak” jawabku singkat

“Kamu biasanya jam segini di rumah ngapain ndi??”tanyanya lagi

“Ga ngapa-ngapain Pak,paling ngerjain tugas rumah sama temenin Meli aja”

“Kamu mau ga bantu-bantu bapak di pasar??lumayanlah buat nambah uang jajan kamu nanti”

“Beneran pak??apa nanti saya ga ngerepotin bapak nanti??”

“Ga kok,tenang aja”

Semenjak saat itulah aku bekerja dengan Pak Dito.Banyak hal aku pelajari dari dirinya,beliau juga tak pernah lelah menasehatiku.

Beliau hanya tak mau aku terlalu larut dalam masalahku dan mengikuti jalan yang ditempuh oleh Ibu dan Ayahku,beliau selalu percaya bahwa aku bisa menjadi manusia yang lebih baik melebihi mereka.

Oleh Pak Dito aku hanya disuruh bekerja menurunkan barang-barang dagangannya,tapi karena Cuma sebentar aku akhirnya bekerja sambilan juga sebagai tukang kantong plastik/kresek.

Tetapi karena penghasilan yang agak kurang dan banyak waktu yang tersisa aku akhirnya bekerja sebagai kuli panggul beras.

Pekerjaan sebagai kuli panggul mulai aku lakoni semenjak akhir kelas 3 SMP (Sekolah Menengah Pertama).

Walau Cuma sebentar,sekitar 1-2 jam (antara pukul 19.00-21.00) Pekerjaan ini sangat berat,tapi aku selalu menjalaninya dengan penuh rasa syukur.

Lagipula karena pekerjaan ini aku jadi memiliki tubuh yang berbentuk,yuph biarpun culun tapi aku mempunyai tubuh yang berotot.

Hanya karena mental dan perawakanku sajalah yang membuatku tidak pede dengan kondisiku sendiri.

                                                              ***

 

TBC (To Be Continued)

0 komentar:

Posting Komentar