.

Selasa, 15 Mei 2012

Assasin Pray "Some Words For God" Chapter II


Chapter II

Spirit on my life

Namaku Rohandi,tapi teman temanku biasa memanggilku Andi. Aku adalah anak pertama dari 2 bersaudara.
Orang orang akan selalu tertawa jika melihat perawakanku.
Bagaimana tidak??
Dengan tubuh agak bungkuk,berkacamata tebal,berambut klimis dan cara bicara yang agak kikuk.Aku adalah perwujudan dari Bety la fea versi laki-laki.
Orang orang pasti selalu tertawa dan meremehkan keberadaanku.
Setiap orang tua juga selalu melakukan perbandingan terhadapku,mereka berharap anak mereka tak menjadi sepertiku.
Aku bahkan mempunyai julukan tersendiri di kampung dan di sekolah yaitu si culun.
Aku kini tinggal bersama keluargaku di sebuah kawasan kumuh di pinggiran Jakarta,sebuah kawasan dimana lebih banyak ditinggali oleh para pendatang dari luar Jakarta. Kehidupan disana sangat keras,bahkan sesama tetangga sering terjadi keributan.
Orang tuaku adalah sebuah bencana dalam kehidupan ini,tiap hari mereka lebih sering ribut satu sama lain ketimbang mengurus aku dan adikku.
Ayahku bernama Armand,ayahku adalah seorang pengangguran sejati??
Sepanjang hidupnya ia tak pernah mempunyai pekerjaan,ia adalah wujud dari perumpamaan kata “SAMPAH”.

Belum lagi ditambah kebiasaannya bermain judi dan mabuk-mabukan,ia adalah seorang ayah yang tak patut diteladani.
Ibuku bernama Mely,ibuku adalah seorang pegawai di tempat karaoke.
Ibuku juga mempunyai kebiasaan buruk??
Ia mempunyai kebiasaan minum-minuman keras dan selalu pulang larut malam,terkadang sampai pagi (bahkan tidak pulang sama sekali).
Belakangan ini baru kuketahui bahwa Ibuku juga mempunyai pekerjaan lain??
Ia juga bekerja sebagai pegawai Diskotik dan bekerja sebagai perempuan bayaran di sana.
Ya,bisa dibilang bahwa Ibuku adalah seorang perempuan malam atau lebih kasarnya sebagai pelacur.
Ayahku mengetahuinya tapi tak pernah peduli dengan keadaan itu,bagi ayahku selama perutnya kenyang dan ia bisa mendapat jatah uang takkan pernah ada masalah.
Mereka juga jarang bertemu,sekalipun bertemu mereka pasti bertengkar.Segala hal selalu mereka ributkan,sekecil apapun masalah itu.
Setiap saat aku selalu melihat pertengkaran mereka,aku malah semakin membenci mereka.
Entahlah,kebencian itu sudah tak bisa lagi kugambarkan,aku juga tak tahu sudah seberapa dalam kebencianku ini.
Aku tahu ini salah,karena bagaimanapun mereka adalah orang tuaku sendiri. Tapi aku juga tak bisa berbohong bahwa aku sangat membenci mereka.
Tapi biar bagaimanapun bencinya aku tak pernah berpikir untuk melawan mereka.
Entahlah??
Mungkin karena aku memang belum punya keberanian terhadapnya. Lagipula sejelek apapun mereka,sebagai seorang anak aku akan selalu menghormati keberadaan mereka sebagai orang tuaku.
Satu hal yang paling aku benci dari pertengkaran mereka adalah selalu melibatkan aku dan adikku.
Mereka dengan tanpa ragu melampiaskan perasaan marahnya terhadap kami,bahkan mereka juga tak pernah segan untuk memukul kami.
Tiap hari,aku dan adikku sering sekali menerima pukulan dari mereka tanpa bisa kami lawan.
Kami hanya bisa menerimanya dan menangis.
Aku mempunyai seorang adik bernama Mariana Hesti,aku sangat menyayangi dirinya.
Bagiku ia adalah segalanya di dunia ini??
Hesti adalah satu-satunya alasanku bertahan selama ini,dia adalah alasanku hidup dan bertahan di rumah.
Tanpa dia mungkin aku sudah memilih mati dan pergi dari dunia ini,tanpa dia mungkin aku sudah kabur dan melarikan diri dari jerat kedua orang tuaku.
Adikku Hesti adalah seorang malaikat bagiku,ia selalu mengerti dan memahami akan hadirku.
Hesti tidak pernah bersekolah,dia juga tidak pernah memahami dunia di luar sana.
Bukan karena keadaan orang tuaku,bukan juga karena kemauan adikku.
Adikku hanya tidak beruntung karena dilahirkan di Negara ini,sebuah Negara yang tidak lagi bisa menjamin hak hidup dari tiap warga negaranya.
Adikku juga kurang beruntung karena dilahirkan di keluarga kami,sebuah keluarga yang tak berada dan tak bisa menjamin dan memenuhi kehidupannya dengan baik.
Adikku Hesti adalah seorang Tuna Rungu sejak lahir.Ya,adikku tak pernah bisa mendengar dan berbicara dengan baik seumur hidupnya.
Aku sering menangisi keadaannya,menangisi kehidupan yang dijalaninya.Tapi ia selalu datang untuk menguatkanku,Hesti seperti berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tapi bagi orang tuaku Hesti hanyalah sampah,mereka seakan menyesal pernah melahirkan Hesti ke dunia.
Mereka tak hanya menunjukkannya lewat kata-kata,tapi juga perbuatan.Mereka selalu memukulnya dan selalu melarangnya untuk keluar rumah.
Mungkin mereka merasa malu karena kehadiran Hesti,mereka seakan ingin menutup rapat tentang keberadaannya.
Hesti selalu disuruh melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah,dari yang termudah hingga yang terberat sekalipun.
Bagi orang tuaku Hesti hanyalah seorang babu,dia hanyalah seorang pembantu.
Hesti tak pernah mengeluh dengan keadaan itu,walau aku tahu betapa berat beban yang ditanggung dalam hatinya.Hesti selalu terlihat kuat jika berada di hadapanku walau aku mengetahui kadang kala ia selalu menangis menghadapi keadaannya,dia hanya tak mau menunjukannya di hadapanku.
Tak pernah sekalipun dalam hidupnya ia ingin membuatku bersedih,ia selalu memberikanku kekuatan bahkan di saat terlemah sekalipun.
Memberikanku cahaya bahkan di saat tergelap sekalipun.
Tekadku dalam hidup pun hanya untuk dia seorang,aku tak mempunyai tekad hidup yang lain.Aku selalu berjanji kepada diriku sendiri untuk menjadi orang yang berhasil dan sukses untuknya.
Aku akan memberikan segalanya,meski itu harus mengorbankan diriku sendiri. Bagiku senyum Hesti adalah hal terbaik di dunia ini.
Aku sangat mencintai adikku.


**

0 komentar:

Posting Komentar